Minggu, 12 Agustus 2012

Sowanua dan Nadaoya Manusia Pertama Penghuni Pulau Nias?

Sowanua atau Bela

Sowanua yang berarti makhluk halus yang berdiam di atas pohon-pohon raksasa lebih dikenal oleh masyarakat di Nias Selatan khususnya Telukdalam hingga kini. Di Nias Utara, tengah dan Barat menyebut makhluk halus tersebut Bela atau Ono Mbela (anak Bela). Namun Sowanua dalam pengertian penduduk asli, secara umum dipahami di seluruh pulau Nias.

Banyak sekali catatan hitam mengenai Sowanua atau Bela dalam kaitannya dengan makhluk halus. Diceritakan bahwa mereka ini tinggal di atas pohon-pohon raksasa seperti pohon beringin (Eho, Ewo, Eo, Awöni) atau pohon Böwö. Jadi boleh di katakan bahwa di mana ada hutan lebat, di situlah habitat Sowanua atau Bela berkembang. Kebiasaan mereka untuk tinggal di atas pohon, bisa jadi ada hubungannya dengan nama-nama kampung tua seperti Tetegewo, Sisobamböwö, Hiligeho atau nama kerajaan Teteholi Ana’a.

Masih dipercayai juga oleh masyarakat Nias dulu bahwa Sowanua atau Bela merupakan pemilik atau penguasa segala marga satwa (Sokhö utu ndru’u), misalnya: babi hutan, kijang, rusa kancil, landak, tenggiling, berbagai unggas dan lain-lain). Babi hutan merupakan babi piaraan mereka. Oleh karenanya para pemburu satwa (Sialu/si möi malu), sebelum melakukan perburuan, mereka harus minta izin dari Sowanua sebagai pemilik segala marga satwa tersebut. Kepada mereka diberi persembahan (Be’elö/fasömbata) agar mereka dapat mengizinkan para pemburu untuk mengambil atau memburu satwa piaraannya.

Persembahan dilakukan dalam bentuk ritus dengan menyembelih seokor babi. Juga diberikan telur atau ayam, sirih dan lempengan-lempengan kuningan atau logam, pengganti emas sebagai penghormatan bagi mereka yang tinggal di atas pohon (sumange zi so ba hogu geu). Sowanua dikategorikan sebagai dewa hutan yang bertakhta di atas pohon (salawa hogu geu). Mereka juga kadang dilukiskan sebagai leluhur orang jahat (uwu gafökha).

Juga diceritakan bahwa Sowanua berkulit putih dan mulus. Mereka cantik-cantik dan memiliki pengetahuan membuat api dari kayu (fuyu) atau dari batu api (batu alitö). Dari mereka sumber keahlian pembuatan api.

Cerita-cerita yang lebih seram lagi mengenai Sowanua atau Bela adalah ketika perempuan tinggal seorang diri di hutan atau di kebun yang sepi, bisa saja secara tiba-tiba dan tak sadar disembunyikan atau dibawa lari oleh Sowanua. Menurut cerita, orang yang dibawa oleh Sowanua, tiba-tiba hilang kesadarannya. Ia bisa melihat dan berkomunikasi dengan Sowanua yang menculiknya, namun tidak dapat berkomunikasi dengan manusia biasa. Orang yang diculik oleh Sowanua masih bisa pulang dan kembali menjadi manusia normal.

Karena itu ada beberapa larangan dari orang-orangtua di Nias, misalnya: dilarang duduk atau tidur di bawah pohon besar, supaya tidak kena air kencing dari Bela (Sowanua) yang menimbulkan rasa gatal pada kulit. Anak-anak kecil atau bayi tidak boleh ditinggal sendirian di tempat yang sunyi, supaya tidak diculik oleh Bela. Anak-anak tidak boleh bermain sembunyi-sembunyi pada malam hari. Perempuan tidak boleh tidur sendirian di kebun atau di hutan yang sepi dan kalau terpaksa tidur, tidak boleh terlentang, katanya bisa disetubuhi oleh Sowanua.

Di desa-desa di pedalaman di Nias kita mendengar ceritera mengenai orang-orang yang pernah diculik oleh Sowanua, namun mereka kemudian kembali karena orang banyak (keluarga) mencarinya di hutan dengan cara memberi sesajen kepada Bela dan melakukan upacara ritual.

Konon ceritanya, jika bersama-sama dengan Sowanua, kita bisa berjalan ke mana saja dengan cepat bagaikan dibawa oleh angin. Kita tidak dapat dilihat oleh manusia biasa padahal kita dapat melihat dan mendengar suara mereka. Jika mereka memanggil-manggil nama kita, kita mendengarnya dan kita juga menjawab dengan teriakkan namun manusia biasa tidak dapat mendengarnya. Kita bagaikan berada dalam alam mimpi.

Setelah diberikan persembahan untuk meminta kepada Sowanua agar mengembalikan orang yang telah diculiknya kita baru mulai sadar, bisa didengar dan dilihat oleh orang lain yang sedang mencari kita.


Arti kata Sowanua dan Bela

Sowanua berasal dari dua kata yaitu So dan Banua (wanua). Ada dua arti so yaitu: ada dan pemilik atau penguasa. Banua (wanua) juga mempunyai dua arti yaitu: desa (kampung) dan langit (angkasa). Jadi Sowanua bisa berarti penduduk asli atau tuan rumah yaitu orang yang sudah kian ada pada suatu tempat sebelum orang lain datang.

Di Nias Selatan (Telukdalam) ‘Bela‘ berarti kawan atau sebutan yang menunjukkan tali persahabatan atau perkawanan. Tujuan penyebutan itu adalah untuk menjalin keakraban dan menghindari permusuhan. Sedangkan di wilayah Nias yang lain Bela berarti makhluk halus yang bertempat tinggal di atas pohon.

Cerita yang lebih menarik lagi adalah bahwa Sowanua atau Bela memiliki keturunan. Tapi tidak begitu ditonjolkan dalam penuturan sejarah asal usul masyarakat Nias. Kalau diselidiki pasti masih terdapat keturunan Sowanua atau Bela di Nias. Hanya kesulitannya adalah tidak ada yang mengaku bahwa mereka adalah keturunan Sowanua. Apalagi karena telah terjadi pembauran terutama melalui perkawinan di antara grup-grup etnis yang berbeda beda di Nias sejak zaman dulu ketika Bela masih dominan. Pasti masih ada juga orang yang bisa menceritakan eksistensi Sowanua dan siapa saja yang termasuk dalam keturunannya, akan tetapi tidak berani menceritakannya karena bisa merusak kerukunan antar etnis. Mereka menjaga rasa sensitivitas. Tidak mau membuat orang lain tersinggung atau direndahkan karena asal-usul, sehingga lama-kelamaan pula, perbedaan etnis itu sangat sulit diidentifikasi.


Sowanua dan Manusia Purba

Dari cerita di atas kita boleh menyimpulkan bahwa Sowanua bisa jadi bukanlah makhluk halus atau setan, tetapi merupakan sisa-sisa manusia purba yang sangat primitif dan masih menyatu dengan alam. Kemudian oleh etnis yang datang berikutnya menyebut mereka Sowanua atau Bela. Dari nama itu, kita bisa menyimpulkan lagi bahwa mereka adalah manusia yang telah duluan ada di pulau Nias jauh sebelum etnis berikutnya datang.

Sebutan Sowanua maupun Bela merupakan bukti pengakuan dan penghormatan pendatang bagi manusia-manusia primitif tersebut. Lama-kelamaan, zaman dan manusia semakin maju, lalu manusia primitif yang kalah bersaing dengan para pendatang baru yang memiliki berbagai keahlian dan pengetahuan, tidak berkembang lagi. Mereka semakin terdesak dan termarjinalkan sehingga mereka pun dianggap sebagai makhluk halus atau setan.

Jika kita menerima bahwa Sowanua atau Bela merupakan grup manusia yang telah mendiami pulau Nias sebelum datangnya etnis-etnis lain yang menamakan dirinya sebagai manusia tulen “Niha” atau ‘Ono Niha” (anak manusia) dengan membawa pengetahuan dan keahlian dari negeri asalnya di seberang sehingga mereka membawa pembaharuan dan kemajuan di Nias sebagaimana dikemukakan oleh Pastor Johannes (2001: 210), maka kita bisa menyimpulkan bahwa Sowanua atau Bela merupakan salah satu grup manusia purba yang sangat primitif di Nias dan merupakan salah satu grup leluhur masyarakat Nias.

(bersambung)

sumber: http://mediawarisan.wordpress.com/2007/08/02/sowanua-dan-nadaoya-manusia-pertama-penghuni-pulau-nias/Last edited by MNGKRT; 23-04-2010 at 02:31 AM.. Reason: APDETMNGKRT is offline       QUOTEMNGKRTView Public ProfileFind More Posts by MNGKRTUnread 22-04-2010, 09:50 PM       #4MNGKRTkaskuser MNGKRT's Avatar UserID: 447227Join Date: Apr 2008Posts: 314MNGKRT tidak memiliki reputasi    (sambungan)

Menurut informasi dari para informant Pastor Johannes (2001:50) bahwa terdapat 3 grup etnis yang berbeda di Nias, yaitu: (1) Niha Sebua Gazuzu, yaitu manusia yang memiliki kepala besar dan merupakan cirikhas manusia purba ribuan tahun yang lalu serta hidup di dalam gua sehingga mereka disebut manusia dari bawah tanah (soroi tou); (2) Niha Safusi yaitu grup manusia yang berkulit putih dan cantik yang berhabitat di atas pohon-pohon; (3) Lani Ewöna (sindruhu niha) yaitu manusia tulen yang datang dari seberang dengan keahlian dan pengetahuan yang memadai sehingga mereka memiliki pengaruh besar dan membawa perubahan di Nias. Grup etnis inilah yang kemudian dianggap sebagai leluhur masyarakat Nias dan menyebut diri sendiri sebagai Niha (manusia tulen) atau Ono Niha (anak manusia).


Nadaoya

Salah satu makhluk yang mungkin telah hidup bersamaan zaman dengan Sowanua sebagaimana dikemukakan di atas adalah manusia yang memiliki kepala besar yang tinggal di bawah tanah (barö danö) dalam pengertian di dalam gua. Berdasarkan ilmu arkeologi, sosiologi atau antropologi, manusia purba tinggal di dalam gua. Gua menjadi rumah mereka dan hidup sesuai dengan kondisi alam.

Dalam kepercayaan dan tradisi lisan Nias, sering diceritakan mengenai Nadaoya sebagai makhluk jahat atau setan raksasa (bekhu sebua). Suaranya besar sekali dan hanya satu-satu. Kalau mereka lewat dan bersentuhan dengan manusia, mereka langsung memangsanya dan manusia tersebut mati. Dikatakan juga bahwa Nadaoya tinggal di lembah-lembah yang dalam dan gelap serta di tebing sungai yang tinggi dan terjal. Habitat yang dimaksud menjurus pada gua-gua.

Mereka sungguh-sungguh jahat. Karena itu masyarakat Nias sangat takut menyebut nama Nadaoya apalagi kalau penyebutan itu karena hendak mengutuk seseorang dengan mengatakan: ya mu’a ö Nadaoya/ya mana ndraugö Nadaoya (Semoga Nadaoya mamangsa engkau). Ini ungkapan keras dan ditakuti orang.

Kalau kita mengkaji asal-usul masyarakat Nias, lalu kita menghubungkannya dengan bukti-bukti material dan tradisi lisan sebagaimana diceritakan di atas, maka pantas diduga dan membuka kemungkinan bahwa Nadaoya merupakan grup manusia purba yang berhabitat di dalam gua dengan ciri khas kepala besar, primitif dan menganut hukum rimba. Mereka juga sudah hadir di pulau Nias sebelum kedatangan etnis lain. Dengan demikian, mereka bukanlah setan raksasa. Mereka semakin ganas karena terpojok dan tidak memiliki tempat lagi untuk berkembang, karena alam telah dirusak oleh manusia yang memiliki pengetahuan.

Tulisan-tulisan lama dan otentik mengenai masyarakat Nias seperti ditulis oleh Pastor Johannes (2001:13-19) lebih banyak menguraikan munusia yang berkulit putih dan cantik-cantik yang berhabitat di atas pohon atau di puncak-puncak gunung. Juga dijelaskan kebiasaan berburu kepala manusia oleh penduduk setempat. Tetapi mengenai manusia yang tinggal di dalam gua-gua kurang disentuh.


Kepunahan Manusia Purba

Ada beberapa penyebab mengapa manusia purba di Nias menjadi punah, misalnya:

1. Hukum rimba

Manusia purba menganut hukum rimba. Siapa yang kuat, dialah yang yang hidup dan berkembang. Ketika etnik lain sebagai pendatang baru di Nias dengan berbagai pengetahuan dan keahlian datang, mereka jelas jauh lebih kuat dari para penghuni pulau Nias yang terdahulu. Sebab, mereka tidak hanya mengandalkan otot dalam menguasai alam untuk mempertahankan hidup, tetapi juga otak. Hukum rimba ini terlihat dari kebiasaan mereka berburu kepala manusia, sehingga kelompok yang lemah menjadi habis (punah). Selain berburu kepala manusia (mangai högö), permusuhan dan peperangan antar kelompok (kampung) sering terjadi, sehingga yang kuat bertahan hidup dan yang lemah menjadi punah.

Sisanya mengasingkan diri dan termajinalkan karena kalah bersaing dalam pembangunan dan pengembangan hidup. Mereka hanya mengadalkan alam yaitu hutan sebagai sumber kehidupan mereka. Mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang selalu berubah dan berkembang. Permusahan dan peperangan itu bisa juga terjadi karena perbedaan etnik.


2. Hutan habis

Berhubung karena manusia purba seperti kelompok Sowanua dan Nadaoya bergantung pada alam, ketika alam rusak dan hutan habis dibabat secara liar, maka habitat mereka semakin terjepit. Tidak ada tempat dan sumber makanan untuk dapat bertahan hidup. Maka mereka tidak berkembang.


3. Pembauran melalui perkawinan

Di antara kelompok manusia yang telah kian ada dengan pendatang baru, pasti telah terjadi perkawinan. Apa lagi seperti dijelaskan sebelumnya bahwa kelompok Sowanua itu cantik-cantik. Sudah barang tentu mereka dikawini secara suka atau tidak suka oleh pendatang yang lebih pintar. Mereka bagaikan gadis desa yang lugu tetapi cantik yang selalu menjadi incaran para pria dari kota sebagaimana terjadi pada zaman sekarang. Keturunan mereka tidak lagi disebut sebagai grup Sowanua/Bela atau Nadaoya, akan tetapi mengikuti garis keturunan kelompok manusia yang lebih berpengaruh dan berkuasa.


Darimanakah asalnya Sowanua dan Nadaoya?

Jika Sowanua dan Nadaoya adalah penghuni terdahulu pulau Nias, itu berarti bahwa keturunan mereka pasti masih ada sampai sekarang, walaupun mereka tidak lagi murni sebagai keturunan itu karena telah terjadi percampuran melalui proses perkawinan dengan etnis lain sejak ratusan tahun yang lalu. Untuk menyelidiki asal usul masyarakat Nias, maka harus ditelusuri dari mana asal Sowanua dan Nadaoya. Karena mereka-lah kelompok terbesar dan terdahulu yang menghuni pulau Nias. Hal inilah yang belum dilakukan oleh para peneliti. Mungkin bisa dijejaki melalui studi comparative linguistics atau penelitian DNA terhadap kelompok yang diduga sebagai asal-usul mereka dari luar negeri (Suku Belah di Sumatera, Suku Naga di India, dll) sebagaimana dikemukakan oleh Pastor Johannes.


Penelitian di Gua Tögi Ndrawa

Penelitian Museum Pusaka Nias bekerjasama dengan Drs. Yusuf Ernawan, M.Hum, ahli prasejarah dari Universitas Airlangga Surabaya di gua Tögi Ndrawa, desa Lelewönu Niko’otanö, kecamatan Gunungsitoli membuktikan bahwa gua tersebut telah dihuni oleh manusia purba sekitar 9000 tahun yang lalu, persis dari tahun 7570 ke 7145 SM (Lingua Nias, Media Warisan Edisi 39 hal 5).

Penelitian melalui ekskavasi dilanjutkan lagi oleh Badan Arkeologi Medan yang telah tiga kali melakukan ekskavasi sedalam 283 cm pada gua yang sama. Hasil dating penelitian ini masih ditunggu. Namun para ahli berasumsi bahwa gua tersebut telah dihuni sekitar 15.000 tahun yang lalu pada zaman Hoa Binh.


Penutup

Tradisi lisan Nias yang didukung oleh hasil penelitian tersebut dapat dijadikan sebagai indikasi dan dasar untuk menarik kesimpulan bahwa ada beberapa etnis yang berbeda di Nias. Yang terdahulu di antara mereka adalah kelompok Sowanua yang berhabitat di atas pohon dan grup Nadaoya dll (Laturedanö, Tuhanaröfa, Lowalani, Zihi, Sihambula) yang tinggal di dalam gua (arö danö). Sementara kelompok yang datang kemudian adalah etnis Cina dan etnis lain yang memulai perubahan dan perkembangan di pulau Nias karena pengetahuan dan keahlian yang telah mereka miliki dari negeri asalnya. Jadi anggapan bahwa Nadaoya dan Sowanua atau Bela adalah setan merupakan pemahaman manusia modern yang dangkal terhadap manusia purba yang hidupnya sangat primitif.

Penulis: Nata’alui Duha, S.Pd.

Wakil Direktur Museum Pusaka Nais



Hilisataro tempo doeloe

Hilisataro tempo doeloe