Jumat, 14 Mei 2010

Neoliberalisme : Ketergantungan pada Hutang

Oleh Rizal Ramli*)

Dalam pemilihan presiden kali ini, ada diskusi yang lebih substantif tentang arah dan strategi ekonomi, terutama soal neoliberalisme dan alternatif terhadap neoliberalisme. Meski agak teknis dan akademik, tapi rakyat bisa mulai memahami bahwa neoliberalisme identik dengan tidak prorakyat dan tidak pro-kepentingan nasional.

Secara sederhana, neoliberalisme adalah sistem pasar atau kapitalisme ugal-ugalan. Mereka percaya bahwa semua masalah bisa diselesaikan jika diserahkan kepada mekanisme pasar. Kalau di dalam agama ada fundamentalis agama, dalam bidang ekonomi ada fundamentalis pasar yang lebih banyak dogmanya daripada argumen-argumen empirik dan faktual. Garis kebijakan ini di kemudian hari dikenal dengan “Washington Consensus”, Jerat Washington.

Sekilas program Konsensus Washington tersebut sangat wajar dan netral, namun di balik program tersebut tersembunyi kepentingan negara-negara adikuasa. Pertama, kebijakan anggaran ketat, selain untuk mengendalikan stabilitas makro dan menekan inflasi, sebetulnya juga dimaksudkan agar tersedia surplus anggaran untuk membayar utang. Bahkan penghapusan subsidi untuk untuk pendidikan, kesehatan, perumahan, usaha kecil dan menengah (UKM), dipaksakan hanya agar tersedia surplus anggaran untuk membayar utang.

Kedua, liberalisasi keuangan untuk memperlancar transaksi global dan menjamin modal dan dividen setiap saat dapat keluar dari negara berkembang. Ketiga, liberalisasi industri dan perdagangan memudahkan negara-negara maju mengekspor barang dan jasa ke negara berkembang. Tapi negara-negara maju malah melindungi sektor industri dan pertaniannya melalui kuota, kebijakan anti-dumping, pembatasan ekspor, subsidi dan hambatan non-tarif.

Keempat, privatisasi atau penjualan aset-aset milik negara dimaksudkan agar peranan negara di dalam ekonomi berkurang sekecil mungkin. Dalam praktiknya program penjualan aset-aset negara tersebut dilakukan dengan harga sangat murah, sehingga sering terjadi program privatisasi yang identik rampokisasi, seperti diungkapkan Profesor Marshall I Goldman dari Harvard.

Negara dan Swasta

Menjadi pertanyaan, mengapa Indonesia gagal menjadi negara yang sejahtera dan besar di Asia walaupun ekonom-ekonom neo-liberal (Mafia Berkeley) berkuasa selama 40 tahun? Hal ini terjadi karena strategi dan kebijakan ekonomi Indonesia yang dirancang oleh ekonom-ekonom neoliberal selalu menempatkan Indonesia sebagai sub-ordinasi dari kepentingan global. Padahal tidak ada negara menengah yang berhasil meningkatkan kesejahteraannya dengan mengikuti model Washington Konsensus.

Kemerosotan selama dua dekade di Amerika Latin (1980-2000) adalah contoh monumental dari kegagalan tersebut. Justru negara-negara yang menyimpang dari model Washington Konsensus, seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, Tiongkok, dan lain-lain, berhasil meningkatkan kesejahteran dan memperbesar kekuatan ekonominya.

Negara-negara yang berhasil tersebut mengikuti model pembangunan Asia Timur yang memberikan peranan yang seimbang antara negara dan swasta, serta ketergantungan utang yang minimal. Dua negara Asia, Indonesia dan Filipina yang patuh pada Washington Konsensus, mengalami kemerosotan ekonomi terus-menerus, ketergantungan utang yang permanen, ketimpangan pendapatan sangat mencolok, kemiskinan yang merajalela dan kerusakan lingkungan yang parah.

Subordinasi kepentingan rakyat dan nasional kepada kepentingan global mengakibatkan Indonesia tidak memiliki kemandirian dalam perumusan undang-undang, strategi dan kebijakan ekonomi. Indonesia juga tidak memiliki fleksibilitas untuk merumuskan strategi ekonomi karena terpaku pada model generik Washington Konsensus.

Hasil tipikal dari model Washington Konsensus adalah siklus terus-menerus dari krisis ekonomi dan akumulasi utang, seperti yang terjadi di banyak negara Latin Amerika, Afrika dan Indonesia. Krisis ekonomi biasanya diselesaikan hanya dengan menambah beban utang yang kemudian akan kembali menjadi sumber krisis baru.

Ketergantungan terhadap utang juga memungkinkan kepentingan global ikut intervensi merumuskan undang-undang dan peraturan pemerintah, seperti undang-undang tentang privatisasi air, BUMN, migas, dan sebagainya.

Negara Gagal

Pada pertengahan 1960-an pendapatan per kapita Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Tiongkok nyaris sama, yaitu kurang dari US$100 per kapita. Setelah lebih dari 40 tahun, pendapatan per kapita negara-negara tersebut: Indonesia US$ 1.420, Malaysia US$ 5.620, Korea Selatan US$ 17.690, Thailand US$ 3.050, dan Tiongkok US$ 2.000 (Asian Development Bank, 2006).

Ternyata kekuasaan dan peranan ekonom-ekonom neoliberal selama 40 tahun tidak mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia dan mewariskan potensi sebagai salah satu negara gagal (failed state) di Asia. Indonesia bukanlah The Next Korea, bahkan bukan The Next Malaysia. Setelah 40 tahun di bawah kendali para ekonom neoliberal, Indonesia justru berpotensi menjadi The New Filipina.

Ekonom-ekonom neoliberal telah gagal membawa Indonesia menjadi negara yang sejahtera dan besar di Asia walaupun didukung rezim otoriter selama 32 tahun. Selain ketinggalan dari segi pendapatan per kapita, Indonesia juga merupakan negara yang memilik distribusi pendapatan paling timpang, utang besar, serta landasan struktural dan industri yang sangat rapuh.

Di bawah pengaruh dan kekuasaan ekonom-ekonom neoliberal, utang yang besar dan habisnya kekayaan alam dan hutan yang rusak, ternyata hanya menghasilkan pendapatan per kapita sekitar US$ 1.420 dan pemenuhan kebutuhan dasar sangat minimum serta ketergantungan mental maupun finansial terhadap utang luar negeri.

*) Penulis adalah pendiri Blok Perubahan, mantan Menko Perekonomian RI

Sumber: Investor Daily

Sabtu, 08 Mei 2010

10 "Tempat" Terlarang untuk Ponsel Anda

1. Jangan Taruh Ponsel Dalam Saku Celana
Bagi para pria yg senang meletakkan ponsel di saku celana, sebaiknya dipikir ulang. Alasannya, Ponsel menghasilkan paparan medan elektrostatik & elektromagnetik yang mengakibatkan infertilitas (ketidaksuburan) lelaki.

2. Jangan Letakkan Bersama Barang Elektronik
Jangan gunakan ponsel ketika sinyal lemah dekat dengan barang elektronik berpresisi tinggi. Barang elektronik mengeluarkan medan elektonik yg tinggi yaitu, TV, oven, kulkas, dll.. Perangkat berdaya listrik tinggi dapat merusak sirkuit ponsel terbakar.

3. Dilarang Dekat Kunci Mobil
Dalam keadaan tertentu, ponsel yang digunakan dalam kendaraan akan memberikan dampak merusak terhadap peralatan elektronik kendaraan. Ponsel yang diletakkan terlalu dekat dengan kunci mobil ternyata bisa menghapus kode elektronik yang ada di kunci tersebut.

4. Jangan Posisikan Dekat Komputer
Komputer & ponsel sama-sama memancarkan gelombang elektromagnetik. Jika berada dalam jarak yang dekat, maka keduanya akan saling merusak. Anda tidak ingin kan langsung kehilangan dua benda favorit anda ?

5. Jangan Simpan di Tempat Bersuhu Tinggi
Tempat bersuhu tinggi, kelembaban tinggi, & berdebu merupakan kumpulan musuh ponsel anda.. Mungkin anda tdk menyadari sering “menjemur” ponsel anda di dashboard mobil, dekat jendela & bagasi.

6. Hindari Meletakkan Kartu SIM Dekat Magnet
Bahaya kartu SIM dekat dg benda-benda mengandung magnet karena radiasi yang ditimbulkan. Ponsel bisa merusak floppy disk, kartu memori, & kartu kredit anda.

7. Jauhkan Dari Logam
Hindari ponsel dari benda logam kecil karena magnet pada speaker ponsel anda akan menarik benda-benda tersebut. Ponsel anda bisa mengalami cidera fisik/kerusakan.

8. Jangan Dekat Alat Pacu Jantung
Rumah Sakit memang bukan tempat yang baik untuk menggunakan ponsel. Selain alasan pasien butuh ketenangan, peralatan media seperti alat bantu dengar & alat pacu jantung dpt terganggu. Jangan sampai anda membunuh orang dengan ponsel yang anda miliki.

9. Jangan Tempatkan Dekat Gas yg Mudah Terbakar
Gas berbahaya karena memiliki tekanan tinggi dan mudah terbakar. Berada dengan gas yang mudah terbakar bisa mengakibatkan ponsel tidak dapat berfungsi dengan baik.

10. Hindari Daerah Basah
Rasanya kita semua sadar betapa bahayanya air bagi ponsel. Air juga musuh kamera ponsel.. Apalagi saat musim hujan, bisa mengundang banyak resiko. Bagi pengendara
sepeda motor, segera selamatkan ponsel anda dengan menyimpan di tempat yg kedap air saat hujan tiba.
sumber: Majalah Forsel

Sabtu, 01 Mei 2010

BERHASIL

Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia -- begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi --

demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia; sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami. (Yesaya 52:13-15)

Ayat-ayat diatas adalah nubuat tentang kedatangan Yesus, yang akan lahir dan datang ke dunia untuk suatu tujuan, yaitu "ditinggikan dan dimuliakan", sehingga membawa banyak orang kepada keselamatan.

Yohanes 12:32 "dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku."

Tapi bagaimana "jalan" yang harus dilalui Yesus untuk mencapai keberhasilan tersebut ? Jalan Salib !, Yesus harus melalui jalan salib, dihina, dicerca, ditinggalkan, disalah-mengerti, Yesus Anak Allah harus meninggalkan Surga. "Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (Filipi 2:6-7).

Dan Ia taat sampai mati, namun Ia berhasil mencapai tujuan, Ia bangkit, dan kebangkitannya membangkitkan orang-orang percaya untuk menerima keselamatan kekal bersama dengan-Nya, misi penyelamatan dunia yang luar biasa !.

Masing-masing kita punya tujuan dalam hidup ini, dan jika kita ingin berhasil pertama-tama tujuan kita haruslah selaras dengan kehendak Allah.

Selanjutnya mari kita belajar dari guru Agung kita yaitu Tuhan Yesus.

1. Arahkan pada tujuan.

Banyak contoh di Alkitab bagaimana Allah memberi visi, janji, urapan kepada seseorang tapi tiba-tiba orang tsb melihat keadaan yang berbeda : bapa Abraham, Yusuf, Daud dll, kita bisa belajar dari mereka semua. Seperti teladan mereka, mari kita arahkan hidup kita kepada Allah dan jangan pernah melepaskan janji Allah, sekalipun ada berbagai kesulitan.

Yusuf mendapat visi dari Tuhan, bahwa satu ketika dia akan ditinggikan, bahkan keluarganya akan sujud kepadanya (Kejadian 37:6-11).

Namun apa yang terjadi setelah ia mendapat visi tsb ? saudara-saudaranya menjadi iri, semakin membenci, sinis, lalu olok-olok, sindiran, bahkan ayahnya menegor dia. Lalu saudara-saudaranya merancangkan yang jahat atas Yusuf, dia disingkirkan, dan mulailah suatu perjalanan kesulitan yang panjang harus dilalui oleh Yusuf yang masih muda.

Demikian juga dengan Daud, lewat Samuel Allah mengurapi dia untuk menjadi raja (I Samuel 16:13), namun apa yang terjadi setelah Daud diurapi menjadi raja ? dia juga harus melalui perjalanan yang panjang karena sikap raja Saul yang sangat membencinya.

Jadi sesungguhnya setelah seseorang mendapat VISI, juga janji-janji Allah, maka ia harus siap bekerja keras, siap berperang untuk merebut apa yang menjadi miliknya, seperti orang Israel harus merebut Kanaan !.

2. Kesulitan

Ketika dalam perjalanan menuju penggenapan janji Allah, kita mengalami masalah, sesulit apapun keadaan, jangan pernah menyerah. Mungkin pikiran kita lelah, hati hancur, tapi jangan pernah putus asa dan mengatakan kata-kata yang sia-sia yang hanya akan berakibat buruk.

Suatu ketika Lazarus saudara Maria dan Marta, sakit parah sampai meninggal dunia, tapi justru Yesus berkata,

Yohanes 11:4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan."

Tidak ada yang mustahil bagi Allah, jadi kita jangan pernah menyerah kepada keadaan. Alkitab mengatakan bahwa kita bukan anak-anak gampang tetapi kita adalah anak-anak yang dikasihi oleh Allah.

"karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.". Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. (Ibrani 12:6-8)

Namun yang harus dimengerti adalah ketika anda terus dalam kesulitan, ada dua hal yang harus diperhatikan :

. Ada penderitaan yang disebabkan karena kesalahan atau pelanggaran atau dosa. Banyak orang merasa tidak ada salah dan merasa hidup baik-baik saja. Tetapi bahkan setiap perkataan sia-sia, bisa membawa dampak buruk dalam hidup seseorang. Jadi mari kita rendah hati untuk memerika diri kita di hadapan Allah, karena selalu tersedia pengampunan bagi mereka yang mau mengakui kesalahan dan hidup dalam pertobatan.

I Petrus 3:17 Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.

. Ada orang-orang yang harus menderita bukan karena kesalahannya, itulah salib yang harus dia pikul. Ada tujuan dan maksud Allah yang baik di balik semua itu. Dan jika kita minta kekuatan Allah dan tetap memandang kepada Allah, hidup kita akan memuliakan Allah dan rencananNya akan digenapi dalam hidup kita.

Oleh karena itu, mari kita berdoa dan minta Tuhan mengajar sehingga kita bisa membedakan !

3. Jalan Salib

Jalan salib adalah baik karena kita mendapat pembentukan yang jauh lebih berharga daripada "jalan pintas" yang membawa kita kepada "keberhasilan sesaat" atau "keberhasilan semu" bahkan kehancuran.

Dalam keadaan terhimpit dan tertekan karena masalah, bangun roh sdr ! Keadaan tertekan karena salib yang anda pikul, justru merupakan batu loncatan untuk mengalami terobosan rohani. KUNCI-nya adalah kerendahan hati untuk bisa melihat kesalahan yang sudah kita lakukan lalu bebaskan terlebih dahulu diri anda dari kepahitan.

Mazmur 51:19 Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Setiap orang Kristen yang mau sungguh-sungguh mengikut Tuhan, yang mengasihi Allah dengan sepenuh hati, harus mengerti bahwa salah satu panggilan hidupnya adalah memikul salibnya.

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan- Nya dan persekutuan dalam penderitaan- Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, (Filipi 3:10)

Yesus sudah terlebih dahulu memberikan teladan. Dan Dia berhasil, maksud dan tujuan Allah digenapi.

Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak- pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak- pemberontak. (Yesaya 53:11-12)

Mari kita hadapi semua kesulitan tanpa gentar, pikul salib dan dan pandang tujuan Allah. Mari kita hidup dalam janji-janjiNya, mari kita pandang Yesus, mari kita hidup untuk kemuliaanNya. Saudara akan berhasil ! Maranata !
article by: Ida SP
photo: http://home.pacific.net.hk

Hilisataro tempo doeloe

Hilisataro tempo doeloe