AMAEDOLA - PERIBAHASA NIAS

Aoha Noro Nilului Wahea Aoha Noro Nilului Waoso Alisi ta fadaya-daya Hulu ta faewolo-wolo Tafadaya Na'awua Tafahea Na'esolo Böröta Göndröra Fabanuasa Kiri-kiri ta Wambambatösa Na Löna Tosai ba dödöu Mbinu Saigö ba dödöu Zobinu Manoko Do'ia, Mokindra Nono Mba'e Löna Gumbe zi sazo'e Gumbe zi Walu Naso'e
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juli 2026

Benarkah TRINITAS Tidak Tercantum Pada ALKITAB?


Saya pernah mendengar seseorang berkata, "Masalahnya ada pada kata 'pribadi'. Bukankah lebih baik kita menggantinya dengan 'relasi' supaya orang tidak salah paham tentang Tritunggal?" Kedengarannya masuk akal. Bahkan terdengar seperti solusi yang elegan.

Namun, benarkah demikian?

Bayangkan jika setiap istilah teologi dihapus hanya karena sering disalahpahami. Bukankah "Anak Allah" juga berkali-kali disalahartikan? Bukankah "Anak Manusia" juga sering dipelintir? Apakah gereja lalu harus mengganti semua istilah itu? Tentu tidak. Tugas gereja bukan mengubah bahasa iman agar sesuai dengan kesalahpahaman manusia, melainkan mengajar umat memahami kebenaran sebagaimana Alkitab menyatakannya.


Sejak berabad-abad lalu, gereja merumuskan iman berdasarkan seluruh kesaksian Kitab Suci: satu hakikat (mia ousia), tiga pribadi (treis hypostaseis). Rumusan ini bukan hasil spekulasi filsafat, melainkan benteng yang menjaga gereja agar tidak jatuh ke dalam dua kesesatan sekaligus: menganggap Allah tiga allah (politeisme) atau menganggap Bapa, Anak, dan Roh Kudus hanyalah satu Pribadi yang berganti-ganti peran (modalisme).

Mengapa kata pribadi tetap dipertahankan?

Karena Alkitab tidak berbicara tentang relasi yang abstrak. Bapa mengasihi Anak. Anak berdoa kepada Bapa. Roh Kudus menghibur, mengajar, dan bersaksi tentang Kristus. Semua itu adalah tindakan personal. Relasi memang ada di dalam Tritunggal, tetapi relasi tidak pernah menggantikan pribadi.

Lalu muncul keberatan lain: "Trinitas tidak ada di Alkitab." Benar, katanya tidak ada. Tetapi ajarannya ada di setiap lembar Kitab Suci. Alkitab menyatakan Bapa adalah Allah. Anak adalah Allah. Roh Kudus adalah Allah. Pada saat yang sama, Alkitab dengan tegas berkata, Allah itu esa. Gereja tidak menciptakan doktrin baru. Gereja hanya merangkum seluruh data Alkitab dengan setia.

Di sinilah keindahan teologi Reformed. Kita tidak membangun doktrin dari satu ayat yang berdiri sendiri, melainkan membiarkan seluruh Alkitab menafsirkan seluruh Alkitab. Ketika semua potongan wahyu disatukan, kita tidak menemukan tiga allah, juga bukan satu pribadi dengan tiga topeng. Kita menemukan satu Allah yang kekal, yang menyatakan diri sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Kamis, 25 Juni 2026

NON-KRISTEN YANG MENGUKUHKAN HISTORISITAS YESUS KRISTUS

TIGA SAKSI ROMAWI NON-KRISTEN YANG MENGUKUHKAN HISTORISITAS YESUS KRISTUS 

Mereka adalah pejabat dan sejarawan Romawi yang memandang Kekristenan dari luar, bahkan dengan sikap yang sering kali negatif.

Keberadaan Yesus dari Nazaret merupakan fakta yg kokoh dalam sejarah dunia kuno.


Fakta Sejarah Yesus Kristus selain bersumber dari ALKITAB, 3 Orang Romawi turut mengukuhkan Cerita Yesus Kristus seperti yang bersumber dari ALKITAB. Haleluya...

"Musuh dapat membenci, tetapi ia tidak dapat menghapus fakta."

Salah satu tuduhan yang sering diarahkan kepada Kekristenan adalah bahwa Yesus Kristus hanyalah tokoh yang diciptakan oleh Gereja dan bahwa seluruh kisah tentang-Nya hanya bersumber dari Alkitab.

Menurut klaim ini, di luar Perjanjian Baru tidak ada bukti sejarah yang dapat dipercaya mengenai Yesus.

Namun, tuduhan tersebut tidak sejalan dengan penelitian sejarah modern.

Di kalangan akademisi, keberadaan Yesus dari Nazaret merupakan salah satu fakta yang paling kokoh dalam sejarah dunia kuno.

Para sejarawan dengan latar belakang yang sangat beragam—Kristen, Yahudi, agnostik, maupun ateis—hampir secara universal menerima bahwa Yesus adalah tokoh sejarah yang benar-benar hidup pada abad pertama.

Perdebatan ilmiah dewasa ini bukan lagi mengenai apakah Yesus pernah ada, melainkan mengenai siapakah Yesus sebenarnya, bagaimana memahami ajaran-Nya, makna kematian-Nya, dan bagaimana menafsirkan kesaksian tentang kebangkitan-Nya.

Kesimpulan tersebut tidak hanya didasarkan pada Perjanjian Baru.

Para sejarawan juga menggunakan berbagai sumber independen, termasuk tulisan para penulis Romawi yang sama sekali bukan pengikut Kristus.

Mereka tidak menulis untuk membela Kekristenan, bahkan sebagian besar memandang Gereja dengan kecurigaan atau permusuhan.

Justru karena itulah kesaksian mereka memiliki bobot historis yang sangat tinggi.

Mengapa Kesaksian dari Pihak Lawan Sangat Penting?

Dalam historiografi terdapat prinsip yang sering disebut criterion of enemy attestation (kesaksian dari pihak lawan).

Prinsip ini menyatakan bahwa apabila suatu fakta diakui oleh pihak yang tidak bersahabat, maka fakta tersebut memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi.

Alasannya sederhana.

Seorang musuh tidak memiliki motif untuk menciptakan bukti yang menguntungkan pihak yang ia benci.

Ia mungkin menghina, mengejek, atau menolak keyakinan lawannya, tetapi ia tetap mengakui fakta-fakta yang tidak dapat disangkal.

Tacitus, Plinius Muda, dan Suetonius merupakan contoh yang sangat baik dari prinsip ini.

Ketiganya bukan orang Kristen, bukan murid para rasul, bukan penulis Injil, dan tidak memiliki kepentingan sedikit pun untuk membela Gereja.

Namun, catatan mereka justru menguatkan pokok-pokok penting sejarah Yesus dan Gereja perdana.

I. Tacitus:

Kesaksian dari Lingkaran Elit Kekaisaran Romawi

(±56–120 M) adalah salah satu sejarawan terbesar yang pernah dimiliki Romawi.

Sebagai senator, mantan konsul, dan gubernur, ia memiliki akses terhadap arsip-arsip resmi negara.

Ia dikenal sebagai penulis yang kritis, teliti, dan berhati-hati dalam menyusun sejarah.

Sekitar tahun 116 M, dalam Annales XV.44, Tacitus menjelaskan bagaimana Kaisar Nero menimpakan kesalahan atas Kebakaran Besar Roma tahun 64 M kepada orang-orang Kristen.

Ia menulis:

"Christus, dari siapa nama itu berasal, dijatuhi hukuman mati oleh Pontius Pilatus pada masa pemerintahan Tiberius."

Kalimat yang singkat ini memuat sejumlah fakta sejarah yang sangat penting:

Kristus adalah tokoh sejarah yang nyata.

Nama "Kristen" berasal dari Kristus.

Kristus dihukum mati oleh Pontius Pilatus.

Peristiwa itu terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius.

Setelah kematian-Nya, gerakan Kristen tidak lenyap, tetapi justru berkembang hingga mencapai Roma.

Yang menarik, Tacitus sama sekali tidak bersimpati kepada Kekristenan. Ia bahkan menyebutnya sebagai superstitio exitiabilis ("takhayul yang merusak").

Karena itu, hampir mustahil ia sengaja menciptakan informasi yang justru memperkuat dasar historis agama yang ia pandang rendah.

II. Plinius Muda:

Bukti Penyembahan kepada Kristus Sejak Gereja Perdana

(±61–113 M) memberikan kesaksian yang berbeda, tetapi sama pentingnya.

Sebagai gubernur provinsi Bithynia-Pontus, ia menghadapi semakin banyak orang Kristen dan tidak mengetahui bagaimana hukum Romawi seharusnya memperlakukan mereka. 

Karena itu, sekitar tahun 112 M ia menulis surat kepada Kaisar Trajan.

Isi surat tersebut didasarkan pada penyelidikan resmi terhadap orang-orang Kristen yang ditangkap dan diinterogasi.

Menurut Plinius, mereka:

berkumpul sebelum matahari terbit;

menyanyikan himne kepada Kristus sebagai kepada Allah;

mengikat diri dengan sumpah untuk hidup jujur dan suci;

menolak pencurian, penipuan, perzinahan, dan segala bentuk kejahatan;

berkumpul kembali untuk makan bersama secara sederhana.

Kesaksian ini memiliki arti historis yang sangat besar.

Surat Plinius membuktikan bahwa pada awal abad kedua—ketika generasi para rasul baru saja berlalu—umat Kristen telah menyembah Yesus sebagai Tuhan.

Mereka telah memiliki bentuk ibadat yang teratur, kehidupan moral yang khas, serta komunitas yang terorganisasi.

Dengan demikian, klaim bahwa keilahian Yesus baru diciptakan berabad-abad kemudian tidak sesuai dengan bukti sejarah. Sumber Romawi sendiri menunjukkan bahwa penyembahan kepada Kristus sudah menjadi identitas Gereja sejak masa paling awal.

Jumat, 28 Maret 2025

SIMBOLISME KUE PENGANTIN DALAM ALKITAB




Bisakah simbolisme kue dalam Alkitab dikaitkan dengan tradisi pernikahan modern?
  • Kue pernikahan modern melambangkan berbagai tahap kehidupan, mencerminkan penggunaan roti dalam Alkitab sebagai simbol makanan sehari-hari.

·   Manisnya kue ini melambangkan kebahagiaan dan kepuasan yang diharapkan dalam pernikahan, seperti teks Alkitab yang menyebut 'manis' dan 'madu' sebagai simbol berkat ilahi.

  • Meskipun kue pernikahan pada dasarnya tidak disebutkan dalam Alkitab, simbolismenya selaras dengan ajaran dan komponen tematik yang terkandung dalam Kitab Suci.
  • Penggunaan kue dalam tradisi pernikahan modern mencerminkan simbolisme alkitabiah, menunjukkan relevansinya yang abadi dalam upacara yang merayakan cinta dan komitmen.

Apakah ada makna spiritual yang lebih dalam pada kue pernikahan menurut Alkitab?

  • Kue pernikahan, seperti roti dalam Alkitab, melambangkan makanan, persekutuan, dan kehidupan.
  • Pembagian kue pernikahan sejajar dengan 'memecahkan roti' dalam persekutuan Alkitab.
  • Manisnya kue pengantin mungkin melambangkan manisnya kasih Tuhan, serupa dengan manisnya manna dari surga.
  • Penafsiran harus didekati dengan kerendahan hati, karena Alkitab tidak secara langsung merujuk pada kue pernikahan.

Apakah sarjana Alkitab menafsirkan kue sebagai simbol dalam kitab suci?

  • Para sarjana Alkitab memiliki penafsiran yang berbeda-beda tentang simbolisme kue dalam kitab suci.
  • Beberapa orang menganggap kue memiliki makna simbolis perayaan, komunitas, atau berkat bersama dalam Alkitab.
  • Penafsiran simbol-simbol, seperti kue, bersifat subjektif dan bergantung pada perspektif individu, latar belakang budaya, dan keyakinan teologis.
  • 'Kue' yang dirujuk dalam Alkitab mungkin tidak secara ketat mengartikan apa yang kita pahami sebagai kue saat ini, karena kata-kata telah berubah selama berabad-abad dan terjemahannya dapat berbeda.
  • Memahami penafsiran metaforis dalam teks-teks keagamaan bisa jadi rumit, memerlukan studi ekstensif, perenungan penuh doa, dan pikiran terbuka.

Apa artinya jika anda bermimpi tentang Kue?

Apa yang harus saya lakukan jika saya bermimpi tentang kue?

 Fakta & statistik

Kita harus menggali lebih dalam lapisan-lapisan tradisi dan penafsiran teologis untuk mengungkap hubungan antara simbolisme kue dalam Alkitab dan tradisi pernikahan modern. Ingat referensi Alkitab tentang 'roti', yang sering kali melambangkan kehidupan dan makanan? Dalam banyak hal, kue pernikahan zaman modern membawa gaung simbolisme ini. Strukturnya yang berlapis-lapis, rasa manisnya, dan sifatnya yang merayakan diperkaya dengan makna yang mengaitkannya erat dengan simbolisme Alkitab. 

 

Pertimbangkan sejenak struktur berlapis kue pengantin. Sama seperti roti pada zaman Alkitab yang merupakan komponen inti dari setiap hidangan, yang melambangkan makanan sehari-hari, kue berlapis dapat dilihat sebagai simbol berbagai tahap dan lapisan kehidupan yang akan dilalui pasangan bersama-sama, saling memberi makanan dan dukungan. Hal ini menandai hubungan yang mendalam dengan konsep 'roti' sebagaimana yang muncul dalam kitab suci, yang tidak diragukan lagi berfungsi untuk memperkuat penafsiran ini. 

Lebih jauh, rasa manis kue tersebut melambangkan kenikmatan dan kepuasan yang diperoleh dari pernikahan, mirip dengan bagaimana 'madu' atau 'manis' digunakan dalam Alkitab untuk melambangkan berkat dan sukacita yang datang dari mengikuti ajaran Tuhan. Dengan cara ini, tindakan berbagi kue pernikahan yang manis dapat dilihat tidak hanya sebagai perayaan persatuan suami istri tetapi juga sebagai doa untuk kehidupan yang dipenuhi dengan rasa manis dan berkat ilahi. 

Oleh karena itu, meskipun Alkitab tidak secara eksplisit menyebutkan 'kue pengantin', simbolisme yang dikaitkan dengan kue dalam tradisi pernikahan modern sangat sesuai dengan tema dan pesan Alkitab. Ini adalah pengingat akan relevansi abadi simbolisme Alkitab dalam praktik dan upacara yang menandai kehidupan kita saat kita merayakan cinta, komitmen, dan perjalanan bersama.

Ringkasan:

Mari kita selami dan bersama-sama, pertimbangkan makna spiritual kue yang menyeluruh dalam kaitannya dengan Alkitab. Dibentuk oleh dasar-dasar penafsiran teologis dan konteks historis , penyelidikan ini melihat lebih jauh dari sekadar hal yang dangkal, mendalami lapisan-lapisan simbolisme yang mendalam. 

Kue pengantin memiliki kemiripan intuitif dengan roti, yang memiliki tempat penting dalam Kitab Suci. Seperti yang kita ketahui, roti sering digunakan di seluruh Alkitab sebagai simbol makanan, kehidupan, dan persekutuan. Perpaduan simbolisme ini bukanlah suatu kebetulan. Kue pengantin, yang berlapis-lapis dan sering kali berwarna putih—melambangkan kemurnian—memiliki gema Roti Kehidupan dan manna dari surga dalam Alkitab. 

Tradisi pernikahan kita bersama mengacu pada penafsiran Alkitab ini. Bahkan di zaman modern, tindakan berbagi kue pernikahan melambangkan kebersamaan dalam berbagi kehidupan yang penuh sukacita, sebuah gema dari 'memecahkan roti' bersama dalam persekutuan Alkitab. 

Selain itu, manisnya kue tersebut juga dapat diartikan sebagai pengingat akan manisnya kasih yang ditunjukkan Tuhan kepada kita, sebagaimana bangsa Israel diingatkan akan kasih Tuhan melalui manna manis yang turun dari surga. 

Akan tetapi, kita harus menggarisbawahi, Alkitab tidak secara langsung merujuk pada kue pernikahan. Penafsiran ini menggunakan pandangan yang lebih luas tentang simbologi Alkitab. Meskipun menarik bagi imajinasi orang Kristen, penting bagi kita untuk mendekati pemeriksaan silang ini dengan kerendahan hati dan kehati-hatian. Lagi pula, saat kita mengeksplorasi hubungan ini lebih jauh, kita harus selalu ingat untuk menghargai esensi simbol tersebut alih-alih tersesat dalam simbol itu sendiri.

Ringkasan:

Para ahli Alkitab memiliki sudut pandang yang berbeda-beda mengenai simbolisme kue dalam kitab suci. Sama seperti roti yang sering melambangkan tubuh Kristus dalam agama Kristen, beberapa peneliti mengusulkan bahwa kue juga dapat mengandung makna metaforis dalam teks suci. Mengingat penggunaannya yang konsisten dalam konteks perayaan baik kuno maupun modern, salah satu simbolisme kue yang mungkin dijelaskan oleh para ahli adalah perayaan, komunitas, atau pembagian berkat. 

Akan tetapi, penting untuk menegaskan bahwa penafsiran hakiki simbol-simbol, seperti kue, bersifat subjektif dan bergantung pada perspektif individu, latar belakang budaya, dan keyakinan teologis . Selain itu, karena kata-kata telah berevolusi dari waktu ke waktu dan terjemahannya dapat berbeda, makna pasti dari rujukan seperti kue dalam Alkitab dapat bervariasi. Misalnya, 'kue' yang disebutkan dalam teks Ibrani kuno mungkin tidak merujuk pada apa yang kita pahami sebagai kue saat ini, tetapi dapat menandakan berbagai macam makanan panggang, atau bahkan roti. 

Terakhir, memahami metafora yang mendasari dalam teks-teks keagamaan dapat menjadi tugas yang rumit dan rumit. Karena itu, penting untuk mendekati analisis interpretatif ini dengan ketekunan, rasa hormat, dan pikiran terbuka. Simbol, alegori, dan metafora yang ada dalam Kitab Suci tidak selalu jelas dan sering kali memerlukan studi mendalam dan perenungan yang penuh doa. Intinya, simbolisme kue, seperti yang dipahami oleh para sarjana Alkitab, memang dapat bervariasi berdasarkan konteks tertentu dan kerangka interpretatif yang digunakan.

Ringkasan:

Bermimpi tentang kue dapat mengandung berbagai makna dan interpretasi spiritual. Beberapa di antaranya adalah:

1. Pemeliharaan dan pemenuhan keinginan rohani

2. Perayaan kehidupan dan kebahagiaan

3. Kesatuan dan kebersamaan dengan orang-orang terkasih

4. Menghormati tradisi spiritual atau agama

5. Manifestasi kelimpahan dan kemakmuran

6. Memanjakan diri dan mencintai diri sendiri

7. Representasi simbolis dari sebuah penghargaan atau prestasi

8. Merenungkan manisnya dan kebahagiaan hidup

9. Merangkul kreativitas dan ekspresi artistik

10. Mengingatkan kita untuk menikmati momen dan menikmati kesenangan hidup

11. Menandakan kebutuhan akan pengasuhan dan pemenuhan batin

 

Kue dalam mimpi juga dapat melambangkan keberuntungan, ketenangan pikiran, dan acara-acara khusus. Ukuran, rasa, dan tekstur kue dapat menyampaikan pesan-pesan penting dalam tafsir mimpi. Misalnya, kue yang besar dan mewah dapat melambangkan perayaan besar atau hadiah yang mewah, sedangkan kue yang kecil dan sederhana dapat menandakan berkat yang sederhana atau kegembiraan yang lebih sederhana. Rasa dan tekstur yang berbeda juga dapat mencerminkan keragaman pengalaman dalam hidup dan kekayaan emosi. Secara keseluruhan, bermimpi tentang kue dapat mengingatkan kita untuk menghargai manisnya hidup dan menghargai momen-momen istimewa bersama orang-orang terkasih.

Baru-baru ini saya bermimpi tentang kue yang berulang-ulang, di mana saya mendapati diri saya dikelilingi oleh berbagai macam kue yang dihias dengan indah. Saya merasakan kegembiraan dan kegembiraan saat mengagumi desain yang rumit dan cita rasa yang lezat. Dalam konteks kehidupan saya yang lebih luas, saat ini saya sedang menghadapi masa ketidakpastian dan transisi, yang mungkin menjelaskan perasaan senang dan antisipasi dalam mimpi tersebut. Keyakinan pribadi saya terhadap pentingnya makanan sebagai simbol nutrisi dan perayaan membuat saya memandang mimpi tentang kue sebagai cerminan emosi dan keinginan saya untuk mencapai kepuasan dan kepositifan dalam hidup saya.

 

Saya telah memperhatikan sebuah pola dalam mimpi saya tentang kue, di mana kue-kue itu selalu tampak mewah dan mewah, yang membuat saya berpikir tentang kelimpahan dan kekayaan yang saya dambakan dalam kehidupan nyata saya. Untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang mimpi saya tentang kue dan pesan-pesan potensialnya, saya mempertimbangkan untuk mencari bimbingan dari seseorang yang ahli dalam analisis mimpi. Ini akan membantu saya mengungkap makna dan wawasan tersembunyi yang dapat memberikan kejelasan dan bimbingan dalam menavigasi keadaan hidup saya saat ini.

Alkitab menyebutkan 'kue' 7 kali dalam Versi Raja James

Istilah 'pernikahan' muncul 19 kali dalam Alkitab Versi Internasional Baru

Kata 'kue' digunakan dalam 5 kitab berbeda dalam Alkitab

Kitab Hosea dalam Alkitab mengandung referensi tentang 'kue kismis' yang merupakan bagian dari pesta perayaan

Kitab Yeremia mengandung referensi tentang 'kue yang tidak dibalik' yang melambangkan pengabdian setengah hati Israel kepada Tuhan

Referensi

Yehezkiel 4:12

Yakobus 1:17

Kamis, 05 September 2024

Famosumane Zifakawi "Menghormati Jenazah"

Menanggapi video yang sedang viral/heboh di medsos, yang mempermasalahkan pemakaman seseorang hanya karena factor X….MAAF BILA TIDAK SEPEMAHAMAN….dengan pendeta yang bersangkuan & Sdr, Dusian silaban ini https://www.facebook.com/100076724202795/videos/389468450862352?idorvanity=565843939061101 (silahkan ikuti link video nya)

Saat ini banyak ajaran yang menyangka bahwa rasa hormat, kasih dan menghargai orang mati, berhenti pada saat dia mati, adalah ajaran yang tidak sesuai dengan iman Kristen dan kemanusiaan. 

SANGAT DANGKAL, PENJELASAN PENDETA-PENDETA SEPERTI ITU & NGAWUR...

AJARAN mereka yang SEAKAN-AKAN MANUSIA YANG SUDAH MATI TIDAK LAGI PERLU DI HORMATI LAGI, sekan-akan dapat di perlakukan sesuka hati PANDANGAN SEPERTI ITU TIDAK BENAR (orang mati tidak boleh di perlakukan sesuka hati)… ini sangat ngawur. Seharusnya RASA HORMAT KITA PADA ORANG TUA TIDAK BERHENTI PADA SAAT MEREKA MATI…Alkitab tidak mengajarkan seperti itu…BILA MANUSIA TIDAK PERLU DI HARGAI DAN DI HORMATI SETELAH MATI, MAKA TIDAK PERLU UPACARA PENGUBURAN, TIDAK PERLU LITURGI pemberangkatan jenazah dan pemakaman, dll… INI AJARAN YANG NGAWUR dan pemahaman iman yang terlalu dangkal tentang iman Kristen dan kemanusiaan…

Alkitab banyak mencatat betapa manusia sangat menghargai kematian dan menghargai mereka yang sudah mati…salah satu bukti, tulang belulang Yusuf mesti di bawa dari mesir ke tanah kanaan, jenazah Tuhan Yesus di kubur dan akan di beri wewangian, bahkan jasad Musa di perebutkan…

PERLU DI KETAHUI, RASA HORMAT DAN KASIH PADA ORANG TUA BUKAN HANYA PADA SAAT IA HIDUP, TAPI JUGA SETELAH TIADA, KASIH ITU BERSIFAT KEKAL, DAN PERSEKUTUAN ORANG BERIMAN BERSIFAT KEKAL DAN KASIH TUHAN TIDAK BERHENTI SETELAH KEMATIAN DAN SEHARUSNYA DEMIKIAN JUGA DENGAN ORANG PERCAYA yang masih hidup kepada mereka yang telah mati, itu sebabnya ada kalimat PERSEKUTUAN ORANG KUDUS (dalam pengakuan iman rasuli) orang-orang kudus ini bukan hanya yang hidup tetapi juga yang sudah mati), itu sebabnya ada MINGGU PERINGATAN HIDUP KEKAL dalam kalender gerejawi yang sering di kaitkan dengan pembersihan kuburan mereka yang telah tiada (sudah meninggal dunia)…itu artinya kasih dan rasa hormat kita pada orang tua kita dan saudara-saudara kita yang telah tiada tidak berhenti saat mereka mati, KARENA KELAK KITA AKAN HIDUP BERSAMA DALAM KEABADIAN di kerajaan kekal di kerajaan sorga bersama mereka.

Berikut beberapa ayat yang dapat di bandingkan.

Kasih itu bersifat kekal…tidak di batasi sebatas kehidupan, tetapi juga setelah kehidupan…1 Korintus 13:8

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

MUNGKIN MEREKA yang mengganggap tidak perlu menghargai dan menghormati mereka yang mati JUGA LUPA BAHWA MANUSIA ITU TIDAK MATI, hanya mengalami kematian, MANUSIA ITU MAHKLUK KEKAL ADANYA (karena trikotomi) jiwa dan roh manusia tidak pernah mati.

Alkitab mencatat bahwa Manusia hidup walau ia sudah mati, silahkan di baca…

Yohanes 11:25

Jawab Yesus: ”Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati

1 Korintus 15:51

Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah

Menanggapi video kejadian yang sedang firal itu, perlu di ketahui :

banyak hal-hal yang di lakukan dalam tradisi yang sebenarnya tidak di imani oleh pelakunya sendiri...hal seperti kejadian itu sebenarnya bukan masalah..., pendeta itu terlalu berlebihan dan terlalu memaksakan prinsipnya pada orang lain dan juga tidak berhikmat...perlu di ketahui bahwa di sorga tidak ada tulisan area no smoking, dan apakah pendeta yang bersangkutan percaya bahwa mayat itu masih bisa merokok ? kalau dia tahu bahwa yang sudah mati tidak mungkin merokok lagi, seharusnya dan sebenarnya tidak perlu terlalu di permasalahkan apa yang mereka masukkan dalam peti mati itu... contohnya, kita/kami sebagai orang Nias, kadang kalau kami pergi membersihkan kuburan orangtua kami yang telah meninggal dunia...kami membawa botol berisi air lalu menyiram-nyiram makam orang tua kami atau saudara kami yg sudah lama meninggal...saya yakin bahwa banyak orang nias yang sudah kristen tidak yakin bahwa orang yang sudah meninggal masih minum air yang kami bawa...tapi kenapa masih di lakukan ? karena itu sekedar tradisi, namun sepertinya sudah tidak di imani lagi...hanya sekedar kebiasaan belaka...sama hal nya dengan kejadian pendeta firal itu....antara pendetanya dan jemaat yang berduka sama-sama tidak bisa membedakan mana berhala dan yang bukan berhala, mana yang perlu dan mana yang tidak perlu, mereka tidak bisa bedakan mana yang penting di permasalahkan dan mana yang tidak penting... semoga hal serupa tidak terulang lagi dalam kehidupan berjemaat, semoga para pendeta juga berhikmat dalam hal-hal yang sebenarnya tidak perlu di paksanakan dalam keadaan berduka seperti itu... (ITU KONDISI DUKA, JANGAN MEMBUAT KEKACAUAN)… toh juga rokok itu tidak di hisap oleh almarhum itu kok... itu hanya bentuk kesedihan dari pihak keluarga saja... maaf bila salah memahami. bagusnya yang di larang merokok orang hidup tapi para pendeta juga banyak yang merokok ? bagaimana itu ? eh malah orang mati yang di larang merokok oleh pendeta itu, kalau mau tegas, waktu dia hidup dong...bukan waktu dia mati...orang mati sudah tidak merokok lagi, sekalipun di petinya di ikutkan rokok...kejadian itu memang aneh...kalau para pendeta saja merokok...ya jangan sok tegas begitu donk pada jemaat..., mungkin pendeta itu anti rokok, namun apapun ceritanya, prinsip iman kita tidak boleh kita paksakan pada orang lain, apalagi bila jemaatnya belum dewasa rohani, tingkat kerohanian dan pemahaman jemaat berbeda-beda, untuk itu seorang Pendeta seharusnya tidak bersifat keras dan arogan dan tidak boleh memaksakan kebenaran yang di anut sekalipun itu benar...  KALAU ADA yang menganggap tidak perlu menghargai dan menghormati mereka yang sudah meninggal dunia...MAKA YANG BERSANGKUTAN TIDAK PERLU HENING CIPTA PADA SAAT UPACARA... jangan pasang foto leluhur, ortu, kakek nenek di rumah, dll... NAMUN tetap di bedakan memberhalakan mereka tentu tidak boleh... semoga roh lemah lembut, kasih tetap di kedepankan pada saat duka seperti itu. 

Tuhan Yesus Memberkati. 

Ya'ahowu...

Shalom.

Senin, 19 Agustus 2024

DIRGAHAYU KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA KE 79

 Bangga tiada tara, Indonesia berani membuat dan mengukir sejarah Bangsa.

Presiden Jokowi memimpin Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79 Tahun 2024 di Lapangan Upacara Istana Negara Ibu Kota Nusantara (IKN), Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur Sabtu (17/08/2024). (Foto: BPMI Setpres/ Vico)

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) memimpin Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79 Tahun 2024 di Lapangan Upacara Istana Negara Ibu Kota Nusantara (IKN), Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, pada Sabtu (17/08/2024) pagi.

Pada upacara tahun ini, Presiden Jokowi memimpin dari Istana Negara Nusantara, sementara Wakil Presiden Ma’ruf Amin memimpin dari Istana Merdeka, Jakarta.

Sebelum upacara dimulai, prosesi kirab duplikat bendera pusaka Sang Merah Putih dan Naskah Teks Proklamasi dilakukan dari ruang penyimpanan di Ruang Bendera Istana Negara IKN menuju meja dan mimbar kehormatan oleh Purna Paskibraka Duta Pancasila 2023. Adapun yang bertindak sebagai komandan upacara adalah Kolonel Infanteri Nur Wahyudi, Komandan Satuan 81 Kopassus.

Upacara diawali dengan tembakan meriam sebanyak 17 kali, diikuti dengan bunyi sirine selama satu menit.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Puan Maharani, membacakan Naskah Proklamasi. Setelah itu, Presiden selaku inspektur upacara memimpin penghormatan untuk mengheningkan cipta.

“Untuk mengenang jasa para pahlawan dan pejuang bangsa, khususnya pendiri bangsa, Bapak Bung Karno dan Bung Hatta, mengheningkan cipta dimulai,” ucap Presiden yang diikuti oleh seluruh peserta upacara.

Setelah mengheningkan cipta, Menteri Agama Yaqud Cholil Qoumas memandu pembacaan doa.

Kemudian, Tim Paskibraka Nusantara Baru, yang merupakan bagian dari 76 anggota Paskibraka 2024, dengan khidmat menjalankan tugas pengibaran bendera Sang Merah Putih.

Pertunjukan kesenian di Lapangan Upacara Istana Negara IKN dan Halaman Depan Istana Merdeka Jakarta turut memeriahkan Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79 Tahun 2024.

Turut hadir mengikuti upacara dari Lapangan Upacara Istana Negara IKN dan Halaman Depan Istana Merdeka Jakarta, di antaranya Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Wury Ma’ruf Amin, Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung, Menteri Sekretaris (Mensesneg) Negara Pratikno dan para Menteri Kabinet Indonesia Maju serta tamu undangan.


Serba Serbi Acara Tujuhbelasan:

Paskibraka 1983 Gunungsitoli Nias

Paskibraka 1983 Gunungsitoli Nias

Drumband 1982 SMP BNKP Telukdalam Nias 

Team Pesparani Nias 1985 di Medan



Senin, 29 Juli 2024

LEWUÖ HAO: BAMBU SERBA GUNA


Photo diambil Tgl 7 Juli 2021 pada saat berkunjung ke Nias dan berkesempatan menanam bambu Lewuö hao dikebun KM5 samping rumah. 



Beberapa fakta tentang bambu yang kenal serba guna (Lewuö hao): 

1. Pertumbuhan Cepat: Bambu adalah tanaman dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Telah tercatat tumbuh 47,6 inci dalam 24 jam. Beberapa spesies bahkan dapat tumbuh lebih dari satu meter per hari dalam kondisi optimal. Rebung baru mencapai ketinggian penuh dalam waktu kurang dari setahun.

 2. Pelepasan Oksigen: Hutan bambu melepaskan oksigen 35% lebih banyak dibandingkan pohon lain di luar sana. 

3. Penyerapan Karbon Dioksida: Bambu menyerap karbon dioksida dengan laju 17 ton per hektar setiap tahunnya. Hal ini dapat bertindak sebagai penyerap karbon yang berharga mengingat seberapa cepat tanaman tersebut tumbuh. 

4. Tidak Perlu Pupuk: Bambu tidak membutuhkan pupuk untuk tumbuh. Ia dapat melakukan mulsa sendiri dengan menggugurkan daunnya dan menggunakan nutrisi untuk tumbuh.

 5. Tahan Kekeringan: Bambu merupakan tanaman yang toleran terhadap kekeringan. Mereka bisa tumbuh di gurun. 

6. Penggantian Kayu: Bambu dapat dipanen dalam waktu 3-5 tahun dibandingkan dengan kebanyakan pohon kayu lunak yang memerlukan waktu 20-30 tahun.

 7. Bahan Bangunan: Bambu sangat kuat dan kokoh. Telah digunakan sebagai penopang beton serta perancah, jembatan, dan rumah.

 8. Stabilitas Tanah: Bambu memiliki jaringan akar dan rimpang bawah tanah yang luas yang mencegah erosi tanah.

 9. Pendingin Udara Alami: Bambu mendinginkan udara di sekitarnya hingga 8 derajat di musim panas. 

10. Sifat invasif: Beberapa spesies bambu, terutama bambu ‘berlari’, dapat bersifat invasif karena sistem akarnya yang luas, sehingga dapat menyebar dengan cepat. Namun, tidak semua spesies bersifat invasif, dan dengan pengelolaan yang tepat, dampak lingkungan dapat diminimalkan.


Filosofi Bamboo

Dalam konteks menimba ilmu, filosofi bambu secara metafor dapat dijelaskan sbb:


1. Tumbuh Perlahan di Awal, Tapi Kokoh Menancapkan metodologi


Ilmu membutuhkan fondasi. Mempelajari logika, berpikir kritis, dan dasar-dasar pengetahuan kadang terasa lambat, tapi ini yang menopang pertumbuhan selanjutnya.


Perlahan dalam Kesabaran adalah kunci. Jangan terburu-buru ingin terlihat pintar. Pertumbuhan sejati dimulai dari dalam, yang sering tak terlihat.


2. Kosong di Dalam, Tapi Kuat di Luar


Kekosongan adalah kesiapan menerima. Orang yang merasa dirinya “penuh” sulit belajar hal baru. Sedangkan “mengosongkan gelas” menandakan kerendahan hati.


Kekuatan sejati datang dari keterbukaan dan kelenturan. Dalam belajar, fleksibilitas berpikir lebih penting daripada kekakuan ego.


3. Tumbuh Bersama, Bukan Sendiri


Bambu selalu tumbuh berkelompok, saling menopang satu sama lain.


Belajar itu kolaboratif. Diskusi, membaca karya orang lain, dan bahkan debat sehat adalah bagian penting dari pertumbuhan intelektual.


Komunitas memperkuat perjalanan. Seperti akar bambu yang saling terkait, manusia berkembang lewat jaringan pengetahuan dan pergaulan intelektual.


4. Lentur Tapi Tidak Patah


Bambu bisa membungkuk ditiup angin kencang, tapi tidak mudah patah.


Ilmuwan dan pencari ilmu harus lentur menghadapi kritik. Teguh pada prinsip, tapi tidak keras kepala.


Ilmu berkembang dengan dinamika. Siapa yang lentur menghadapi perubahan paradigma, akan tetap bertahan dan tumbuh.


5. Terus Tumbuh Meski Terpotong


Meski ditebang, bambu akan terus bertunas dari akarnya. Akar adalah simbol metodologi yg tetancap dengan kuat.


Kesimpulan:


Jika ingin mencapai keilmuan yang tinggi, perkuatlah pondasinya, perdalam akarnya, perkuat metodologinya dgn kesabaran tinggi, seperti bambu.

Senin, 27 Juni 2022

BELAJAR MENGANTRI SEJAK USIA DINI





Jangan terlalu khawatir jika anak sekolah SD kita tidak pandai Matematika.

Tetapi kita harus jauh lebih khawatir jika mereka tidak Pandai MENGANTRI.

Mengapa? 

1. Karena kita hanya perlu melatih anak 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran di balik proses mengantri.

2. Karena tidak semua anak kelak menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak jadi penari, atlet, musisi, pelukis, dsb.

3. Karena semua murid sekolah pasti lebih membutuhkan pelajaran Etika Moral dan ilmu berbagi dengan orang lain saat dewasa kelak.

Pelajaran penting di balik budaya MENGANTRI:

1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya jika ia mendapat antrian di tengah atau di belakang.

3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal.

4. Anak belajar disiplin, setara, tidak menyerobot hak orang lain.

5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri).

6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan berkomunikasi dengan orang lain di antrian.

7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

9. Anak belajar disiplin, teratur, dan menghargai orang lain

10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

11. Dan masih banyak pelajaran lainnya, silakan anda temukan sendiri.

FAKTANYA di Indonesia...

Banyak orang tua justru mengajari anaknya dlm masalah mengantri dan menunggu giliran, Sebagai berikut :

1. Ada orangtua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”

2. Ada orangtua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.

3. Ada orangtua yang memakai taktik atau alasan agar dia atau anaknya diberi jatah antrian terdepan, dengan alasan anaknya masih kecil, capek, rumahnya jauh, orang tak mampu, dsb.

4. Ada orang tua yang marah-marah karena dia atau anaknya ditegur gara-gara menyerobot antrian orang lain, lalu ngajak berkelahi si penegur.

5. Dan berbagai kasus lain yang mungkin pernah anda alami.

Yuk kita ajari anak-anak kita, kerabat dan saudara untuk belajar etika sosial, khususnya ANTRI.

Budaya SUAP dan KORUPSI juga dimulai dari tidak mau belajar Mengantri...!

#fyp

#antri

#anak

#korupsi

#suap

#percaya

Sabtu, 23 April 2022

TOKOH² BESAR & MISTERI DALAM ALKITAB


ORANG - ORANG BESAR & MISTERI DAN REPRESENTATIF TUHAN DALAM ALKITAB 

(Tentu menurut pandangan penulis).


1. ADAM & HAWA.

Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang diciptakan Allah. Awalnya manusia pertama itu hidup (berada) di Taman Eden (Firdaus/Surga ?). Namun ada juga yang mengatakan bahwa Taman Eden itu terletak di wilayah Timur Tengah. Setelah Adam dan Hawa memakan buah terlarang yang berada ditengah Taman, maka mereka terusir dari Taman lalu hidup dunia.


2. HENOK.

Henok adalah generasi ke 7 setelah Adam dan Hawa. Selama hidupnya Henok adalah yang berjalan bersama Allah (pengiman Allah). Alkitab menyebutkan bahwa Henok naik kesurga tanpa mengalami kematian. Dari catatan Alkitab dapat digambarkan bahwa sepertinya pada saat itu manusia telah berpaling dari Allah. Hanya Henoklah yang selalu setia.

Sayang tidak banyak kisah Henok yg dituliskan dalam Alkitab. 


Agama Islam mengatakan bahwa Henok itu adalah yang mereka sebut Nabi Idris. Dari sumber catatan lain menyebutkan bahwa ada beberapa tulisan Henok/Idris yang menjadi pedoman dalam ber-iman pada Allah. Sayangnya buku itu sudah sulit didapatkan saat ini yang hanya dipercayai dan dimiliki Kristen Ortodok Ethipopia dan Eritrea. (Jika ada teman2 yang bisa memberikan petunjuk tentang buku dimaksud kiranya dapat memberikan informasi pada saya).


3. NUH.

Nuh adalah generasi ke 10 dari Adam. Semua manusia pada saat itu sudah meninggalkan Tuhan kecuali Nuh. Sehingga Tuhan murka dan membinasakan semua manusia kecuali Nuh dan keluarganya yang terdiri dari 8 orang. (Nuh, Istri Nuh, Putra Nuh 3 orang dan menantu 3 orang).

Mereka selamat dari banjir besar (Air Bah) yang menenggelamkan seluruh bumi dengan membuat Kapal/Bahtera yang diperintahkan Tuhan. Masa air bah adalah 1700 tahun dari sejak Adam.


4. ABRAHAM.

Penulis memasukkan Abraham sebagai orang besar dan misteri karena selain disebut sebagai Bapak orang yang percaya pada Allah, Abraham sampai mau mengorbankan/menyembelih putranya sendiri untuk dipersembahkan pada Allah. Coba saat ini ada yang seperti itu, sudah pasti dikatakan orang depresi atau orang gila. Sayang dalam Alkitab tidak diberitau apakah ada orang lain yang mengetahui niat Abraham pada saat itu. Namun Allah hanya menguji Abraham yang kemudian mengganti/menyediakan seekor domba untuk persembahan Abraham pada Allah.


5. MELKISEDEKH.

Melkisedek yang artinya Rajaku atau Raja Kebenaran. Dalam Alkitab disebutkan bahwa Melkisedekh adalah seorang Raja dan Imam besar yang maha tinggi. Melkisedekh adalah manusia misteri karena tidak diketahui datang dari mana dan pergi kemana. Tidak diketahui riwayat hidup dan silsilahnya.

Melkisedekh hidup pada masa Abraham dan pernah menemui Abraham.


6. MUSA.

Musa dalah seorang Nabi besar bagi Agama Yahudi, Kristen dan Islam. Dia memimpin kaun Israel pulang kampung dari Mesir. Dan Musa adalah pemimpin besar umat itu. Sangat banyak mukjizat yang dia lakukan dengan nama Tuhan. Salah satunya yang paling melegenda adalah membelah laut merah.


Dari mukjizat yang dia lakukan sangat nyatalah bahwa dia adalah seorang yang diurapi Allah. Namun sebagai pemimpin, dia adalah seorang manusia biasa juga yang tidak terlepas dengan emosi dan amarah. Dan penulis memandang bahwa tidak semua yang dia katakan dan dia perbuat adalah benar Ilham atau Firman dari Allah. 

Contohnya seperti saat dia merencanakan pembunuhan 3000 orang kaumnya yang menyembah berhala dan mengatakan bahwa Tuhan juga merestui mereka melakukan pembunuhan/perang dan perampasan harta benda pada setiap wilayah yang mereka inginkan saat menuju tanah Kanaan dan disekitar daerah Kanaan. Padahal Musa adalah penerima 10 Perintah/Hukum Allah yang mengatakan jangan membunuh, jangan mengingini harta benda orang lain dengan cara tidak patut.


Sebagai pemimpin tentu Musa sudahlah pasti punya pengaruh yang cenderung dipercayai umatnya, dan apapun yang dikatakannya. Karena pada masa itu, untuk mengenal dan memahami Allah tidak lah seperti saat ini yang mudah untuk mendapatkan sumber-sumber bacaan tentang Iman dan Allah.

Kepemimpinannya kemudian diteruskan oleh Yosua setelah Musa wafat.


7. SALOMO.

Penulis menuliskan Salomo karena melihat Hikmah dan Kebijaksanaannya. Salomo menjadi Raja dan manusia yang terkaya pada masanya.

Namun pada hari tuanya, Salomo mengatakan bahwa kehidupan adalah sia-sia bagai menjaring angin. Sebenarnya tulisannya dalam teks Penghotbah jika kita hayati, maka akan kita pahami bahwa tulisan itu adalah bentuk perenungan dan penyesalannya karena kemuadian dia meninggalkan Tuhan.


8. ELIA

Elia yang artinya Yahwe adalah Tuhan.

Sama seperti Musa, Elia pun dinyatakan Agama Yahudi, Kristen, dan Islam seorang Nabi Besar.

Elia hidup pada saat kerajaan Irael Utara dipimpin oleh raja Ahab dan Ahazia sekitar thn 900 SM.


Elia adalah seorang yang memberikan nubuat dan banyak melakukan mukjizat.

Al ; Membuat hujan tidak turun, mendatangkan hujan, mendatangkan api dari langit/surga, menggandakan roti seorang janda, menghidupkan anak seorang janda yang sudah meninggal, membelah air sungai jordan.


Sama seperti Henok, Elia pun di yakini naik kesorga tanpa mati. (Namun saya kira kita juga masih mempunyai kemungkinan lain. Disebut naik kesurga mungkin juga karena tidak tau perginya kemana atau sdh mati apa tidak. Sama juga seperti cerita2 belakangan ini yang menyebut bahwa Zengiskhan, Gajah Mada,  Hitler, bahkan Singamangaraja XII disebut juga tidak mati).


9. YESUS.

Yesus adalah manusia paling misteri, karena lahirnya pun misteri. Kita kalangan Kristen menyebut juga bahwa Yesus adalah Tuhan. 100% sebagai manusia, 100% sebagai Tuhan dalam konteks konsep Tri Tunggal.

Namun saya secara pribadi merasa lebih pas mengatakannya bahwa Yesus adalah manusia misteri yang 100% manusia, dan dalam dirinya ada dan sangat menguat dan nyata kekuatan Allah.

Kekuatan Allah dalam dirinya saya kira tidak perlu lagi saya jelaskan karena kita semua sudah tau.


****

Dari sederetan nama2 diatas ada 4 nama yang misteri/mirip yaitu ; Henok, Melkisedekh, Elia dan Yesus. Namun jelas yang sangat paling misteri adalah Yesus. 

(Saya sebut misteri bukan untuk kesan negatif tapi menggambarkan sebagaimana kemisteria Allah. Karena kita juga memahami bahwa Allah tidaklah dapat kita definisikan atau gambarkan secara tepat. Semakin kita mendefinisikan dan menggambarkan Allah itu dalam sosok, bentuk, dimensi maka jelaslah kita mendefinisikan Allah dengan pikiran kita sendiri. Pada hal kita tau bahwa Allah adalah misteri.


****

Ada satu nama lagi diluar Alkitab yang begitu hebat pengaruhnya bagi ke-imanan manusia dalam agama Samawi yaitu Muhammad SAW.


Saya belum dapat berbicara banyak tentang Muhammad karena saya belum tau banyak tentang dia.

Tapi naluri iman saya menggambarkan bahwa Musa, Salomo, Muhammad mempunyai kemiripan yang sama. Sama2 menulis panduan Iman yang di ber-ilham dari Allah, sama-sama hidup dalam kekuasaan dan perang.

Pada uraian diatas, saya sudah menuliskan pandangan saya tentang Musa dan Salomo.


Ada realita pengikut Muhammad saat ini yang tidak gentar selalu mengatakan, Takbir... Allahu Akbar, Jihad, lawan yang berbuat kejoliman pada Allah.

Ungkapan ini identik dengan seruan-seruan Musa pada masanya sewaktu berperang.


Tulisan selayangpandang....

Sabtu, 16 April 2022

WASIAT UNTUK SEMUA








Wasiat Untuk Semua

TERUSLAH

BERTEMAN

BERSAHABAT

BERSAUDARA

SAMPAI TUHAN

BERKATA

WAKTUNYA

PULANG


Ketika ada kesempatan....., 

Pergilah bersama teman-teman.

Berkumpul- kumpul, bukan sekadar makan, minum dan bersenang, tetapi ingat, waktu hidup kita semakin singkat. Maka dari itu, Bangunkanlah PERSAUDARAAN.

Mungkin lain waktu kita tidak akan bertemu lagi.

Mungkin lain waktu kita sudah semakin susah untuk berjalan.

Umur itu seperti es batu, dipakai atau tidak, akan tetap mencair dan berakhir.

Begitu juga dengan umur kita

Digunakan atau tidak digunakan, umur kita akan tetap berkurang,  dan akhirnya kembali Kehadirat Tuhan.

Kita akan menjadi tua, sakit, dan meninggal.. 

Jalani hidup ini dengan ceria,  sabar dan santai.

Jangan suka mau menang sendiri,  sementara orang lain selalu salah.

Jangan buang sahabat cuma karena tak sepakat.

Satu keburukan teman, bukan berarti hilang sembilan kebaikannya.

Perbanyaklah waktu untuk berkumpul dengan teman- teman dan saudara-saudara kita.

Siapa tahu mereka nanti akan menjadi penolong kita di akhirat kelak. 

Buanglah jauh jauh sifat egois dan iri hati.

Terimalah kekurangan dan kelebihan dari sahabat.

Bertemanlah dengan apa adanya, bukan karena ada apanya.

Nikmati semua waktu, senda dan tawa. Hargai semua perbedaan. 

Percayakan kemampuan teman kita.

Jaga perasaannya, tutupi aibnya. 

Bantu ketika dia jatuh, sediakan bahu ketika dia menangis.

Tepuk tangan dan gembira ketika dia sukses. 

Sebut namanya dalam doa kita.

Bertemanlah dengan hati yang baik dan tulus. 

Ketika hatimu baik dan tulus, percayalah, Tuhan juga akan selalu bersamamu.

Teruslah  bersahabat*sampai Tuhan berkata waktunya pulang..

Salam persahabatan

Kamis, 24 Maret 2022

MENGAPA YESUS MENULIS DI TANAH?

Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. (Yohanes 8:6)

Sebagian besar orang bertanya-tanya: 

Apa yang Yesus tulis di tanah?

Ini memang pertanyaan menarik sebab tidak ada penjelasan apapun melalui Alkitab tentang apa yang Yesus tulis di tanah. Tradisi-tradisi paling awal juga tidak ada kesepakatan pasti. Sejauh ini, semua penjelasan hanya berdasarkan imajinasi saja, contoh:

a) Yesus suka memberikan perumpamaan, bisa jadi tindakan-Nya itu simbolis;

b) Yesus juga 'to the point' tiap mengecam pemuka-pemuka agama Yahudi, bisa jadi Dia menulis 10 Hukum Tuhan;

c) Yesus adalah Maha-adil, bisa jadi Dia menulis proses penangkapan wanita itu yang inprosedural;

Dan, masih banyak 'bisa jadi, bisa jadi' yang lain.

Jadi, saya tidak mau berasumsi apa yang Yesus tulis ditanah pada peristiwa "perempuan yang berzinah" ini.

Kenapa jarang yang berpikir:

Mengapa Yesus menulis ditanah?

Yesus bisa saja mengutarakan langsung, secara lisan, apa yang Dia maksudkan ketimbang repot-repot menulis, ditanah pula, yang memakan waktu dan belum tentu juga dibaca semua orang ditempat itu.

TindakanNya ini justru terlihat lebih banyak mubazirnya.

Tetapi......

Melakukan suatu hal dengan percuma tanpa tujuan yang jelas adalah sama sekali bukan gaya dan karakter Yesus Kristus.

Tuhan saya tidak pernah melakukan sesuatu yang sia-sia. Itu prinsip saya.

Sebelum membahas tindakan Yesus dan reaksi para penuduh dalam peristiwa ini, kita harus melihat peristiwa ini secara keseluruhan yang dimuat dalam Yohanes 8:2-11 (oleh LAI perikop "Perempuan Yang Berzina" ditempatkan mulai pasal yang ke-7 ayat 53), termasuk pendapat para ahli naskah kuno.

Para pakar naskah kuno menganggap paragraf ini tidak ditulis oleh Yohanes (termasuk 7:53). 

Mengapa?

Alasan utamanya adalah karena gaya bahasanya nyaris tidak menunjukkan ciri tulisan Yohanes. Bagian ini kemungkinan merupakan cerita yang ditambahkan yang berasal dari tulisan Lukas (Lukas 21:38). Meskipun demikian, para ahli yang sama juga berkesimpulan bahwa nilai historis cerita ini tidak perlu diragukan sebab narasi cerita ini sesuai dengan fakta sejarah, kebiasaan, dan juga cocok dengan demografi lokasi-lokasi yang diceritakan.

Artinya, secara historis, kisah ini jelas memang pernah terjadi yang sejak awal memperoleh tempat di dalam teks Injil Keempat atas persetujuan penulis Injil Yohanes (tafsiran Wycliff dan catatan kaki Alkitab Yerusalem). Disinyalir, ketika penulis Injil Yohanes membukukan Injil Keempat ini, ada sumber lain yang mengingat kisah ini dan menambahkan kisah ini atas persetujuan Yohanes.

Jika cerita ini ditambahkan orang kedua dengan persetujuan Yohanes maka itu adalah hal yang wajar sebab Yohanes bukan satu-satunya saksi mata perbuatan-perbuatan Yesus. Banyak saksi mata lainnya dan terlalu banyak perbuatan Yesus semasa pelayananNya didunia yang tentu saja tidak semuanya disaksikan oleh murid-muridNya termasuk Yohanes. Yohanes sendiri mengakui bahwa "Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu." (Yohanes 21:25). 

Jelas sekali maksud Yohanes memuat cerita ini:

Yesus lebih memperhatikan pemulihan dan pertobatan orang berdosa, dan juga Yesus tidak berkenan semua aktifitas yang inprosedural. Itulah inti cerita tentang 'Perempuan yang berzinah' ini.

Kembali ke kronologi "perempuan yang berzina".

Waktu dan tempat terjadinya peristiwa ini disebutkan dengan jelas pada ayat 2: Pagi hari di Bait Allah.

Jika Yesus datang dari Bukit Zaitun (ayat 1), dari timur, maka Dia menuju ke Bait Allah lewat Pelataran Wanita (tafsiran Wycliff). Menurut ayat 2, Dia mengajar di situ. Oleh karena banyak sekali orang yang mengikuti perayaan hari Raya Pondok Daun, maka Yerusalem masih ramai, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. 

Sesuai dengan kebiasaan rabi-rabi Israel, Yesus duduk dan mengajar mereka.

Hal ini tidak dapat diterima oleh seteru-seteruNya. 

Para pemimpin agama Yahudi seteru Yesus, yang geram, pun telah menyiapkan diri mereka dan membuat siasat untuk menantang hak mengajar-Nya sebagai seorang rabi. 

Para penuduh dalam peristiwa ini adalah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (ayat 3-4). Ini mengkoreksi anggapan bahwa "orang banyak" adalah yang menjadi penuduh dalam peristiwa ini. Yesus memang mengajar rakyat banyak (ayat 1) tapi bukan mereka yang menjadi penuduh.

Kemarahan atas keberhasilan Yesus, dan rasa jengkel atas ketidakmampuan mereka untuk membungkam-Nya, membuat para pemimpin agama itu memanfaatkan kesempatan untuk mempermalukan Dia di hadapan orang banyak.

Tuntutan para pemuka agama inipun dimulai.

"Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" 

Perkataan para pemuka agama itu memang benar, tetapi Yesus memahami tujuan mereka: Mereka ingin menggunakan hukum untuk menyerang dan menjatuhkan Yesus.


Lucunya, justru hukum yang ingin mereka manfaatkan untuk menjatuhkan Yesus yang justru menggugurkan dakwaan mereka.

Prosedur hukum Yahudi menuntut paling sedikit dua saksi mata yang bersama-sama melihat peristiwa dosa seks itu pada saat terjadi. Saksi mata harus melihat pelanggaran itu sendiri, bukan hanya berasumsi atas situasi yang mencurigakan. Juga, Imamat 20:10 dan Ulangan 22:22 mewajibkan bahwa laki-laki itu juga harus dihukum. Dengan sekian banyak syarat, ada kemungkinan yang sangat besar bahwa perempuan itu dijebak. Artinya, dia memang melakukan zinah (ayat 11) tetapi dia sengaja ditangkap dengan tidak sesuai prosedur hukum Yahudi. Apabila orang-orang Farisi itu memang benar-benar ingin memberlakukan hukum Taurat, mereka seharusnya juga menyeret pihak laki-laki. Tapi pihak laki-laki tidak ada dalam daftar tersangka mereka.

Mereka hanya membuat perangkap dengan keyakinan bahwa akhirnya Yesus dapat didiamkan. 

"Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zina."

Trik psikologis-pun digunakan oleh para pemuka agama ini dengan menempatkan perempuan itu ditengah-tengah rakyat banyak untuk mempermalukan perempuan itu sehingga perempuan itu tidak memiliki keberanian untuk membela perkaranya. 

Kemudian Yesus menulis ditanah.

Kbali lagi ke pertanyaan:

Mengapa Yesus menulis ditanah?

Jawabannya:

Karena Yesus ingin memberi para penuduh itu waktu untuk berpikir dan menggunakan hati nurani mereka dalam menilai kasus ini.

Yesus bersikap demikian karena apapun yang dijawab Yesus tentang kasus ini akan digunakan untuk menjatuhkan Dia sebab lawannya bukan hanya berusaha menjeratNya dengan hukum Taurat tetapi juga berusaha memakai hukum Roma untuk menjerat Yesus.

Jika Yesus menjawab bahwa perempuan itu harus dihukum mati, maka mereka dapat membawa Yesus kehadapan pemerintah Roma karena Hukum Roma tidak memperbolehkan orang Yahudi melaksanakan hukuman mati. Larangan ini bisa disimak dalam Yohanes 18:31 (Kata Pilatus kepada mereka: "Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu." Kata orang-orang Yahudi itu: "Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang."). Sebaliknya, jika Dia berkata bahwa perempuan itu harus dilepaskan, Ia melanggar hukum Taurat, sehingga nama-Nya dapat dijelekkan di depan orang banyak yang baru saja diajarNya. Yesus memandang tidak perlu langsung menjawab melainkan diam dan melakukan sesuatu selain berbicara agar taktik para lawannya tidak bisa diwujudkan. Sehingga, dengan menulis di tanah maka Yesus menunda reaksi para penuduh ini sehingga Dia dapat memberikan mereka kesempatan untuk memikirkan diri mereka sendiri dan memberi kesempatan supaya hati nurani mereka, dan hari nurani orang banyak, bekerja.

Jadi, ini sebenarnya adalah 'psychology battle'.

Lalu, bagaimana reaksi para penuduh itu saat Yesus menulis ditanah?

Semula mereka tidak mau berpikir. 

Mereka tetap berusaha, dengan paksaan, agar Dia jatuh ke dalam perangkap mereka, sehingga Yesuspun memberi penegasan:


"Barangsiapa... tidak berdosa..." 

Kata-kata Yesus menyebabkan berpindahnya perhatian orang banyak dari Yesus dan perempuan itu kepada para penuduh. 

"Tidak berdosa" tidak harus dosa perzinahan, tetapi dosa secara umum. Dalam hal ini, Yesus bukan saja ingin memberikan pengajaran pada para penuduh tetapi juga pada orang banyak. Jika dilihat dari cepatnya respons orang banyak pada kata-kata Yesus ini bisa dibilang bagi orang banyak peristiwa ini adalah 'presentasi' atau bahkan 'praktikum' dari apa yang baru saja diajar Yesus pada mereka.

Banyak yang keliru dengan menganggap bahwa orang banyak yang diajar Yesus mendukung para penuduh ini. Orang banyak itu justru dongkol. Mereka telah mengikuti Yesus dari pagi sehingga tingkah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, yang membawa seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah, justru mengganggu waktu belajar rakyat banyak itu sehingga sebenarnya rakyat banyak itu justru 'bete' pada para pemuka agama tersebut, terlebih lagi, rakyat banyak ini tentunya paham bahwa tuduhan itu mengada-ada karena tidak ada satupun saksi yang disertakan dalam tuduhan para penuduh. Bisa disimak dalam ayat 7, yang terus menerus mendesak jawaban Yesus adalah para pemuka agama Yahudi itu bukan orang-banyak.

Kata-kata Yesus yang didengar oleh orang banyak membuat hati nurani mereka mulai bekerja.

Hasilnya?

Mereka, mulai dari yang tertua, mundur.

Bisa jadi yang tertua itu berasal dari kelompok orang-banyak, bukan kelompok pemuka agama. Jika ya, maka ini tentu membuat nyali para penuduh Yesus menjadi ciut karena melihat respons orang banyak yang tidak mendukung tindakan mereka dan malah 'walk out'. Para pemuka agama yang munafik ini kehilangan 'supporter' potensial mereka, bahkan mungkin 'tim cheerleader' yang mereka harapkan, sehingga akhirnya para penuduh itupun ikut pergi dengan menanggung malu dan, tentunya, kegeraman yang menyala-nyala yang kelak berujung pada tuduhan yang lebih serius, 'makar pada Kaisar', sehingga membuat Yesus dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Romawi melalui Pontius Pilatus.

Banyak yang beranggapan bahwa tulisan yang ditulis Yesus yang menggerakan hati orang banyak dan para penuduh sehingga mereka pergi dari lokasi itu, tetapi narasi Alkitab jelas memberitahukan pada kita bahwa kata-kata Yesus-lah yang menggerakan hati orang banyak bukan apa yang ditulisnya. Yesus sudah menulis, tapi para penuduh itu masih 'ngeyel':


Yohanes 8:7

Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka TERUS-MENERUS bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Setelah berkata "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa" Yesuspun menulis lagi, dan kemudian narasi Alkitab menjelaskan dengan terang sekali bahwa bukan apa yang mereka baca tapi apa yang mereka dengar dari Yesus yang membuat mereka pergi: "Tetapi setelah mereka MENDENGAR PERKATAAN itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua." (Yohanes 8:9)

Jadi, memang diperlukan ketelitian saat membaca kisah ini. 

Penjelasan sederhananya:

Sulit bagi orang banyak membaca tulisan Yesus, bukan karena mereka tidak bisa membaca tapi ruang gerak terlalu sempit, bisa-bisa tulisannya terhapus jika mereka berbondong-bondong berusaha membaca tulisan itu. Sekalipun mereka tidak berdesak-desakan, hanya sekelompok kecil saja yang memiliki ruang untuk membaca tulisan itu. Saya pun yakin bahwa Yesus tidak menulis dengan menggunakan huruf-huruf 'raksasa', sehingga sulit bagi sekelompok besar orang untuk membaca tulisan itu secara bersama-sama.

Mengapa yang paling tua yang lebih dulu tergugah nuraninya?

Ini karena orang yang lebih tua lebih dulu sadar pada dosanya, bahkan teringat pada akibat dari dosa-dosa mereka dimasa-lalu entah kepada keluarga juga kepada kelompok yang lebih besar. Usia membuat mereka dengan sendirinya memimpin kelompok-kelompok sel mereka untuk walk out dari lokasi itu. Memang, pengalaman hidup yang lebih panjang dengan dosa membuat kelompok yang tertua lebih mudah tertuduh nuraninya.

Ada yang berpendapat, mereka pergi karena takut dihukum sesuai Taurat Musa (dirajam) dan hukum Romawi. Tetapi, klaim bahwa mereka pergi karena takut dirajam adalah klaim yang sulit dibuktikan. Kenapa?

Hukum Taurat dan hukum Romawi.

Dalam Hukum Taurat dan Hukum Roma tidak bisa langsung main rajam hanya karena ada tulisan tentang pelanggaran Hukum Taurat, dan/atau pelanggaran pada Hukum Roma, oleh seseorang. Kalau memang mereka takut, berarti seharusnya ada saksi mata pelanggaran semua orang itu. Ini malah jadi pertanyaan: Kenapa saksinya tidak bersaksi jauh-jauh hari? Juga, apakah kesaksiannya sudah pasti benar? Dan lagi, apa mungkin saksi mata semua orang itu secara kebetulan berkumpul di hari yang sama dan di lokasi yang sama? Pertanyaan-pertanyaan ini akan memunculkan jawaban yang ambigu. Lagipula, kalau mereka pergi karena takut dirajam, sebab membaca tulisan itu, maka seharusnya saat Yesus menulis pertama kali mereka sudah membacanya, merasa takut, dan pergi. Tetapi, mereka justru baru pergi saat mendengar kata-kata Yesus, bukan karena membaca tulisanNya. Jadi, detail tentang Hukum Taurat dan penerapan hukum Romawi membuat klaim ini, terkait keputusan walk out orang banyak, digugurkan. 


Lantas, mengapa Yesus tidak menghukum perempuan ini?

Karena Yesus lebih memprioritaskan pemulihan orang berdosa ketimbang ketaatan pada hukum Taurat secara teliti.

Kita tidak tahu mengenai sisa hidup perempuan itu setelah peristiwa terkenal ini tetapi melalui peristiwa ini kita lebih mengerti mengenai sifat Terang Dunia Yesus dalam merangkul orang berdosa dengan belas-kasihan, dan juga mengenai sifat kegelapan yang tidak pernah mampu menguasai Terang itu ketika Yesus membawa orang berdosa kepada pertobatan. Yesus tidak mengentengkan dosa perzinahan melainkan berbelas-kasihan.

Yesus tidak kompromi dengan dosa. Apabila perkataan Yesus, "Aku pun tidak menghukum engkau", tergolong sangat lunak, maka hal tersebut diimbangi oleh ketegasan Yesus:

"Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi."

_________________________________________

Disusun Oleh: DEVY RANSUN

Referensi:

°°°°°°°°°°°°°

1. Alkitab Yerusalem (catatan kaki) untuk Yohanes 8:1-11;

2. Dave Hagelberg (tafsiran Alkitab) untuk Yohanes 8:1-11;

3. Wycliff (tafsiran Alkitab) untuk Yohanes 8:1-11.


Kutipan:

°°°°°°°°°°°

1. Yohanes 8:6;

2. Yohanes 21:25;

3. Yohanes 8:5;

4. Yohanes 8:4;

5. Yohanes 18:31;

6. Yohanes 8:7;

7. Yohanes 8:9;

8. Yohanes 8:11.


Saduran:

°°°°°°°°°°°

1. Sebagian besar narasi disadur dari Tafsiran Dave Hagelberg dan Tafsiran Wycliff untuk Yohanes 8:1-11;

2. Kalimat pertama pada paragraf tentang keterangan yang memuat 'Pelataran Wanita' disadur dari tafsiran Wycliff (telah dicantumkan sumber saduran didalam paragraf);

3. Paragraf ke-15 adalah gabungan saduran dari tafsiran Wycliff dan Catatan Kaki pada Alkitab Yerusalem untuk Yohanes 8:1-11 (telah dicantumkan sumber saduran didalam paragraf).


Keterangan foto:

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Lukisan "Yesus dan wanita yang berbuat zinah" yang dilukis Pieter Bruegel pada 1565.


Sumber foto:

°°°°°°°°°°°°°°°°°

en.wikipedia/Jesus and the woman taken in adultery

Hilisataro tempo doeloe

Hilisataro tempo doeloe