Sabtu, 20 Juli 2013

Perangkap Keunggulan Temporer


Mi tohugõ bõi molombase,
Mi era-era ba mi falua fefu zibohou,
Mi aneragõ hadia zi sõkhi ba bõi arõrõ ba zi no asese ta lau!
Mi aine ta fa zokhi zi bohou


Rhenald Kasali | KOMPAS IMAGES
Rhenald Kasali (@Rhenald_Kasali)

KOMPAS.com - Sebuah berita di harian The Wall Street Journal (11 May 2009) menghentakkan para scholar di bidang strategic management. Kelak berita itu menjadi puncak lahirnya teori baru dalam ilmu bisnis, yaitu temporary advantage.
Judulnya amat menggoda. Hire as They Fire (Many Companies Hire as  They Fire). Ceritanya, ratusan perusahaan di Amerika Serikat kembali melakukan PHK besar-besaran. Apakah itu Boeing, Microsoft, BM, AT&T, Yahoo, maupun Time Warner. Tetapi berbeda dengan situasi sebelumnya, kali ini mereka berbarengan (simultaneously) merekrut besar-besaran saat yang bersamaan.
Itu kisah di tahun 2009 yang masih terus terjadi hingga hari ini. Bedanya, dulu perusahaan melakukan PHK untuk memangkas biaya, kini PHK untuk memperbaharui skill.
Keterampilan Keluar
Hari-hari di Jakarta saya juga tengah menerima titipan sekitar 200 orang kolonel TNI Angkatan Darat. Mereka adalah orang-orang yang telah berjasa pada negara, dan sebagian telah mempertaruhkan hidupnya bagi negeri. Salah seorang diantaranya berkata, “Saya menghabiskan sebagian besar masa muda saya di dalam panser”.  
Mereka telah menjelajahi Indonesia, menjalani penempatan di berbagai pelosok negri. Bahkan sebagian telah mengikuti pelatihan advanced di dalam dan luar negri, dalam bidang pertahanan dan keamanan negara.
Namun seperti judul berita di harian The Wall Street Journal tadi, mereka pun tengah dipersiapkan memasuki karir kedua. Di usia yang sekitar 50 tahunan,seperti para eksekutif lainnya. Orang-orang berjasa ini menghadapi relaita baru bahwa peran Dwi fungsi TNI sudah tidak berlaku lagi. Padahal dulu, mereka dipersiapkan kelak dapat menjadi bupati, walikota atau duduk di fraksi TNI dalam parlemen. Kini semua itu telah berlalu.  
Demikian pulalah yang dihadapi tenaga-tenaga kerja di manca negara, termasuk di sini. Menurut pengamatan saya, jutaan orang yang lahir sepanjang tahun 1955 – 1970 terancam mengalami kesulitan bila tidak memiliki "keterampilan keluar" di era VUCA ini (Volatility, Uncertainties, Complexities dan Ambiguity).  Bukankah ketrampilan yang kita miliki dan pelajari di masa lalu sebagian besar hanyalah "ketrampilan untuk masuk" belaka?  
Ya, masuk kerja, mengikuti arahan atasan, melakukan persaingan dalam industri yang sama, menerima layanan, membuat usaha yang sudah biasa kita lihat, mempertahankan karier, trampil naik ke atas dan seterusnya.
Tapi berapa di antara kita yang memiliki ketrampilan beradaptasi dengan hal-hal yang sungguh-sungguh baru? Ibaratnya, bepergian  ke luar negri tanpa bantuan travel agent, berkolaborasi dengan intens pada kelompok umat beragama yang berbeda dengan keyakinan kita, mengadopsi keterampilan baru yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kompetensi yang kita pelajari di usia muda, bahkan berpikir out of the box
Padahal jangankan di bidang usaha yang baru, pada usaha yang sama saja, dewasa ini dituntut berpikir dan bertindak out of the box, out of routine.  Maka itu wajar bila  ini justru memicu keunggulan yang tidak sustainable. Keterampilan-keterampilan lama cepat obsolete (usang), karena kita telah berhenti belajar dan hanya melakukan hal-hal yang sama untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya berubah.
Banyak perusahaan membiarkan semua ini terjadi secara terus menerus. Dan itu pula yang terjadi di lembaga-lembaga pemerintahan. Seorang eksekutif sempat menyindir ketika mendengar pidato seorang menteri yang menyilahkan para pensiunan menjadi widyaiswara (pengajar pada pusdiklat kementerian atau BUMN). “Memangnya generasi-generasi baru mau dijadikan ilmu museum?,” ujarnya.
Mereka yang telah berhenti belajar 20 tahun yang lalu, hampir pasti hanya mentransfer ilmu-ilmu yang dipelajari 20 tahun yang lalu kepada karyawan-karyawan baru. Makanya banyak PNS muda yang gayanya mirip-mirip dengan orang-orang tua, baik cara bicara, berpakaian, maupun ilmunya. Ini jelas memerlukan perubahan.
Demikian yang dilakukan banyak perusahaan yang  sustainable. Mereka bukan memecat orang, melainkan meremajakannya. Mereka  tidak mengganti karyawan dengan orang-orang yang sama, melainkan dengan tenaga-tenaga baru. Ini berbeda dengan kebiasaan buruk lainnya yang hanya sekedar mengganti orang dengan keahlian yang serupa.
Maka SDM kita perlu diberikan  keterampilan untuk “keluar” dari perangkap-perangkap (keterampilan lama). Yang saya maksud keluar bukanlah berarti membuang. Melainkan melihat cara-cara baru, dan mengambil pendekatan-pendekatan baru. Anda tak harus berubah dari profesor perikanan menjadi guru besar periklanan, atau dari ahli keuangan menjadi pemasaran, melainkan menemukan cara-cara baru yang lebih sehat.
Kita perlu melatih diri keluar dari kengototan-kengototan adu cerdik dalam lapangan yang sempit. 
Dan bila itu dilakukan, maka sebenarnya tak pernah terjadi  hire as they fire tadi. Toh tua atau muda hanya beda tahun kelahiran saja. Tetapi sungguh, banyak perusahaan kini terperangkap dalam keunggulan sesaat dengan melakukan cara yang masih tetap sama meski konteks yang dihadapi sudah berubah. Seperti bank-bank kecil yang kini megap-megap saat OJK mendorong lahirnya bank-bank yang kuat, besar, dan modalnya harus terus ditingkatkan.
Bisakah bertahan dengan cara kemarin untuk menghadapi hari esok?

Minggu, 14 Juli 2013

Fahombo Batu, ‘Lompat Batu’ Kini Bisa Dimainkan di Android & iOS

NIASONLINE, JAKARTA – Salah satu warisan budaya ikonik yang melekat dan membuat Pulau Nias dikenal di berbagai belahan dunia sampai saat ini adalah atraksi lompat batunya.
Meski sejatinya tradisi lompat batu itu tidak ada di seluruh wilayah Pulau Nias, dan hanya ada di beberapa desa di Kabupaten Nias Selatan, namun lompat batu selalu menjadi identitas Nias secara keseluruhan.
Namun, tidak banyak yang bisa melakukannya termasuk di Desa Bawömataluo yang situs lompat batunya sangat terkenal. Karena selain harus terlatih, juga berisiko tinggi.
Juga tidak sedikit yang belum melihatnya langsung ke desa-desa yang memiliki batu berundak yang disusun menyerupai piramida dengan puncak datar tersebut. Bisa karena jarak yang jauh, maupun karena saat ini untuk menyaksikannya harus bayar sekedar kompensasi bagi para pelompat mengingat risiko atraksi itu.
Namun sekarang, bila karena alasan-alasan tersebut Anda tidak bisa menyaksikan atraksi fenomenal itu, kini Anda bisa melakukannya, dari tangan Anda sendiri. Cukup bermodalkan sebuah perangkat telpon pintar (smartphone) berbasis Android maupun iOS untuk produk-produk Apple.
Pasalnya, pengembang aplikasi permainan (games) www.qajoo.com telah mengaplikasikan atraksi lompat batu itu dalam bentuk permainan yang bisa unduh secara gratis di Google Play untuk pengguna sistem operasi Android, maupun di App Store untuk pengguna sistem operasi iOS untuk produk-produk Apple.
Anda cukup mencarinya dengan kata kunci Fahombo (melompat) atau Nias. Kemudian, akan muncul aplikasi dengan gambar close-up seorang pelompat dengan baju rompi dengan pengikat kepala dan rai (sejenis mahkota) khas Nias Selatan di kepalanya. Selanjutnya, ikuti petunjuk untuk mengunduhnya dan siap dimainkan.

Permainan dengan nama Fahombo tersebut dilengkapi penjelasan singkat mengenai apa itu lompat batu dan sejarahnya di bagian About Nias. Setelah menekan play maka akan muncul seorang pelompat yang sedang bersiap. Lokasi atraksi lompat batu dan batunya sendiri diapit oleh dua susun rumah tradisional Nias Selatan halaman rumah yang terdiri dari batu-batu yang tersusun rapi. Di depan setiap rumah berdiri dua patung.
Permainan ini terdiri empat langkah. Pertama, untuk membuat si pelompat bergerak, jari harus diketukkan di layar perangkat. Makin cepat diketukkan, dan itu perlu, akan membuat pelompat berlari kencang.
Kedua, menjelang tumpuan, sebuah tanda panah mengarah ke atas pada sisi kanan bawah layar harus ditekan. Ketepatan waktu menekan sangat menentukan. Bila terlalu cepat, maka pelari akan gagal karena dia tidak bisa melakukannya karena belum menyentuh tumpuan.
Bila terlambat menekan, pelompat akan menabrak batunya yang akan dilompatinya.
Ketiga, bila tahap kedua dilakukan dengan tepat, pelompat akan berdiri di tumpuan. Dia tidak langsung melayang melewati batu yang akan dilompati. Di sebelah kanan akan muncul petunjuk ketinggian lompatan. Akan ada skala pengukur yang bergerak ke bawah dan ke atas. Ketika pengukur berjarak tidak jauh dari batas ketinggian, ketukkan jari di layar. Bila posisi pengukur terlalu tinggi, atau pun terlalu rendah, pelompat pasti akan gagal dan akan menabrak batunya.
Keempat, bila langkah ketiga dilakukan dengan tepat, maka kini masuk tahap mendarat dengan tepat. Pelompat akan melayang melewati batu dan kemudian akan tertahan beberapa saat sebelum mendarat. Akan muncul indikator lingkaran tidak jauh dari batunya. Bila lingkaran mengecil dan berwarna hijau, itu saat yang tepat mengetuk layar dan pelompat akan mendarat dengan selamat. Bila tidak, pelompat akan mendarat namun akan terguling dan itu berarti Anda gagal.



Keseluruhan langkah itu akan menghasilkan skor yang ditampilkan pada sisi kanan sebelah atas. Kegagalan di setiap tahapan akan disertai informasi mengenai penyebabnya. Namun, semua petunjuk dalam bahasa Inggris. Bukan bahasa Indonesia, apalagi Bahasa Nias.
Permainan dalam format tiga dimensi (3D) ini memang masih dalam bentuk yang sangat sederhana. Tidak ada level-levelnya seperti pada permainan lainnya. Kemudian, musik yang mengiringinya, juga tidak khas musik Nias atau Nias Selatan.
Berdasarkan catatan di Google Play, permainan ini diperbarui pada 17 April 2013 dan masih dalam versi 1.0. atau masih versi awal. Berarti sangat mungkin akan ada pengembangan lanjutan. Semoga saja masih ada versi lebih lanjut yang lebih menarik dan juga memuaskan.
Tentu saja, diharapkan, Anda para penikmat permainan ini, tidak cukup puas dengan bermain di layar perangkat smartphone Anda. Silakan datang dan saksikan langsung atraksi yang sesungguhnya di Nias Selatan.
Selamat bermain.

Jumat, 05 Juli 2013

“Simbi”, Jamuan Penghormatan Tulus Orang Nias

Sudah menjadi tradisi di Pulau Nias bahwa tamu adalah orang yang harus diberi kehormatan oleh tuan rumah. Wujud pemberian penghormatan itu ditandai pada penjamuan sang tamu dengan lauk yang dari daging babi yang disertai dengan simbi.

Di sisi lain, orang yang disuguhi simbi juga biasanya merasa sangat dihormati dan sangat senang disambut dengan suguhan enak, simbi.
Penyuguhan simbi dalam adat-istiadat Nias memiliki tata cara tersendiri. Mulai dari pemotongannya (fotatawi) hingga penyuguhannya di wadah setelah dimasak. Pemotongan simbi harus dilakukan sedemikian rupa, yakni dengan melepaskan rahang bawah dengan disertai otot beserta kulit sepanjang dada. Semakin banyak daging yang ikut dengan simbi itu, semakin berharga atau bernilai simbi yang akan disuguhkan di mata tamu.
Ma Motome Mama - Gabriel Laia Family Web Site

 
Penyuguhan simbi. | Foto: koleksi pribadi admin Nias Tanoniha

Biasanya, simbi yang sering disuguhkan kepada tamu atau orang yang diberi kehormatan adalah simbi anak babi atau babi berukuran sedang.
Setelah dipotong, daging yang ikut di simbi itu dibelah mulai dari leher hingga seperti rumbai-rumbai. Setelah itu, baru kemudian dimasak. Setelah matang, simbi pun disuguhkan di atas wadah besar dengan dialasi daun pisang. Wadah yang biasa dipakai adalah nyiru bulat atau talam. Penyuguhannya juga dilakukan sedemikian rupa, simbi menghadap ke atas dan diapit sejumlah daging lain.
Hal yang harus diperhatikan adalah penyuguhan itu harus disertai dengan potongan 5 jeroan, yakni hati (ate), paru-paru (bo), jantung (tödö) ginjal (bua), kemudian liver (fali’a). Ketidaklengkapan sejumlah ‘syarat’ itu bisa membuat sang tamu merasa tidak dihormati.
Tidak ada literatur yang menyebutkan alasan dari keharusanya potongan jeroan itu ada pada lauk simbi. Seorang tokoh adat di Lölömoyo, Moi, Kecamatan Hiliserangkai, Nias, Yustinus Waruwu, kepada penulis, mengatakan, “Hal itu sudah merupakan adat istiadat dari leluhur kita sejak dulu secara turun-temurun. Dan, itulah yang kita laksanakan sekarang. Adalah tabu bila aturan-aturan adat itu ditinggalkan atau dilanggar.”
Yustinus menduga, penyertaan potongan lima jenis jeroan itu adalah untuk menunjukkan kepada tamu bahwa penyuguhan simbi yang dilakukannya adalah dengan menyembelih seekor babi yang dibuktikan dengan adanya semua jenis jeroannya. “Untuk menunjukkan bahwa yang disuguhi benar-benar dihormati sampai-sampai harus menyembelih seekor babi. Bukan hanya membeli simbi saja. Ada nilai ketulusan di sana,” kata Yustinus.
Penerima “Simbi”
Tidak ada ketentuan yang paten soal siapa yang berhak diberi kehormatan suguhan simbi. Namun, yang pasti dalam hajatan adat, seperti proses pernikahan, yang berhak diberi simbi adalah pihak paman (sibaya), tamu (tome), besan (mbambatö), dan undangan/orang sekampung (sisara ewali).
Selain dalam adat pernikahan, penyajian simbi juga biasa dilakukan untuk menerima para pejabat pemerintahan yang berkunjung di suatu desa atau di suatu hajatan. Warga desa biasanya bersepakat dan menyiapkan bersama-sama keperluan untuk penyambutan sang pejabat.
Ada juga fenomena baru sekarang ini. Orang-orang yang memberikan ucapan lewat karangan bunga kepada orang yang menikah, misalnya, si penerima memberikan simbi kepada sang pemberi karangan bunga. Tuan rumah biasanya mengirimkan simbi kepada rumah pengirim karangan bunga itu.
Belum ada penjelasan sejak kapan budaya itu dimulai dan siapa yang memulai. Hal ini umumnya terjadi Kota Gunungsitoli. Salah seorang warga Tohia, Kota Gunungsitoli, yang tidak ingin disebutkan namanya, kepada penulis, mengatakan, dirinya beberapa waktu lalu, mendapatkan kiriman simbi telah dibungkus rapi setelah mengirimkan karangan bunga pada sebuah pesta pernikahan. “Kaget juga. Cuma, bagaimana lagi, saya harus menghargai niat baik dan ketulusan dari si pengirim simbi itu,” ujarnya.
Sesuai kondisi ekonomi yang mengalami fluktuasi, penyuguhan simbi juga mengalami penyesuaian-penyesuaian. Misalnya saja, seseorang yang akan menyuguhkan simbi tidak harus membeli anak babi secara utuh. Akan tetapi, cukup datang ke tempat pemotongan babi, biasanya ada di Kota Gunungsitoli, lalu memesan akan membeli simbi anak babi dengan menyebut ukuran yang dikehendaki. Biasanya pihak pemotongan babi sudah mafhum bagaimana cara memotongnya, termasuk penyertaan jeroannya.
Penggantian
Selain itu, penyesuaian juga sering dilakukan saat si tuan rumah oleh alasan tertentu tidak bisa memberikan simbi kepada tamunya yang sepatutnya, menurut adat, menerima simbi. Sudah menjadi kebiasaan belakangan, simbi bisa digantikan dengan memberikan uang kertas dengan nomina tertentu di atas daging babi yang disuguhkan. Kalau dulu biasanya digantikan dengan firö, uang gulden Belanda.
Uang kertas itu disebut pengganti rahang babi (salahi zimbi). Biasanya, sang tuan rumah saat menyuguhkan, memberikan penjelasan sambil meminta pengertian sang tamu bahwa ia tidak bisa menyuguhkan simbi kepada yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan tertentu.
Bagi sebagian orang, adat Nias ini cukup memberatkan, terutama dari sisi finansial. Bayangkan, bila dalam sebuah pesta pernikahan ada 15 pihak yang harus disuguhi simbi. Dengan begitu, untuk keperluan simbi saja harus menyembelih 15 anakan babi atau babi sedang. Padahal, satu babi ukuran kecil hingga sedang sudah sekitar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta.
Hal ini tentu tidak menjadi masalah bagi orang yang sudah mempersiapkan sebelumnya dengan beternak babi sejumlah yang diperlukan. Atau juga orang yang memiliki harta banyak, penyuguhan simbi dengan jumlah banyak bukanlah masalah besar.
Masalah timbul ketika si tuan rumah adalah orang yang ekonominya pas-pasan. Bila tidak berpikir rasional, dan mengedepankan gengsi, si tuan rumah bisa tambah bangkrut dan memikul utang.
Keharusan untuk menyuguhkan simbi ini, terutama dalam adat pernikahan orang Nias, sering berkorelasi dengan besarnya jujuran yang diminta kepada pihak laki-laki.
Pihak perempuan yang bertanggung jawab pada pesta pernikahan memperhitungkan semua biaya yang harus dikeluarkan, termasuk membeli sejumlah babi untuk suguhan simbi. Di sisi lain, ada wacana agar jujuran pernikahan orang Nias sudah saatnya ditinjau ulang dengan mengurangi nilainya.
Yustinus Waruwu kepada penulis menyampaikan bahwa ada sesuatu makna yang bisa kita pelajari dari adat-istiadat penyuguhan simbi ini, yaitu bahwa orang Nias sangat menghormati orang lain dan rela berkorban untuk sebuah kehormatan dan harga diri.
Meski begitu, tak harus simbi tersaji dulu, baru hubungan kekerabatan terasa semakin akrab. Kita berharap, tanpa simbi pun, siapa pun yang menjamu kita, tetaplah juga kita hargai dan hormati. [APOLONIUS LASE, Warga Kota Gunungsitoli, Tinggal di Jakarta]

Hilisataro tempo doeloe

Hilisataro tempo doeloe