Rabu, 17 April 2013

Mannis van Oven : DNA Orang Nias Sama dengan Orang Taiwan






Peneliti :Mannis van Oven, wakil dari Institute of Human Genetics Westfälische Wilhelms Universtät, Münster, Jerman
“Seminar Asal-Usul Suku Nias Ditinjau dari DNA dan Benda-Benda Purbakala” diadakan di Gunungsitoli. Hasil seminar tersebut akan dirangkum oleh reporter NBC, Anorvelis Hulu,  dalam 3 tulisan.
NBC — Darimana asal suku Nias? Tentu jawabannya pasti beragam. Secara fisik ada yang mengatakan dari China, Thailand, Vietnam, Mongolia, atau Jepang. Sementara secara tradisi lisan, ada yang mengatakan, suku Nias berasal dari langit, nidada. Berbagai pendapat lainnya dari para ahli baik dalam dan luar negeri seputar asal nenek moyang suku Nias juga cukup beragam.
Cara ilmiah pun akhirnya ditempuh untuk mengetahui asal-usul suku Nias, yakni melalui tes DNA. Penelitian ini dilakukan oleh dua peneliti asal Belanda, yakni ahli genetika Professor Ingo Kennerknecht dari University of Münster, Jerman, dan Mannis van Oven, mahasiswa S-3 bidang Biologi Molekuler Forensik, Erasmus MC-University Medical Center Rotterdam, Belanda.
Selama 10 tahun dilakukan penelitian terhadap kecocokan DNA orang Nias dengan DNA orang-orang dari beberapa daerah lainnya. Dari hasil penelitian, DNA inilah disimpulkan kalau suku Nias berasal dari Taiwan.
Apa itu DNA?
DNA merupakan singkatan dari Deoxyribonucleic Acid atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Asam Deoksiribosa Nukleat. Dalam DNA terdapat kromosom Y dan mitokondrial DNA (mtDNA).
Kromosom Y adalah salah satu kromosom penentu jenis kelamin dan hanya laki-laki yang memiliki kromosom Y. Kromosom Y diturunkan oleh ayah kepada anak laki-laki. Oleh karena itu, kromosom Y dapat digunakan untuk menyelidiki garis keturunan ayah.
Sementara mtDNA, meski dimiliki laki-laki dan perempuan, tetapi hanya ibu yang dapat menurunkannya kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, mtDNA dapat digunakan untuk mengkaji garis keturunan ibu.
Bagaimana DNA Orang Nias Diteliti?
Sebuah foto warga Nias tempo dulu. Foto: http://ninktelaumbanua.blogspot.com
Bersama dengan Direktur Museum Pusaka Nias yang juga pemerhati sejarah Nias, Pastor Yohannes Hämmerle, Professor Ingo Kennerknecht mengumpulkan 407 sampel darah atau air liur orang Nias dari berbagai klan marga yang tersebar di beberapa wilayah di Nias. Pengumpulan sampel dilakukan pada 2002 dan 2003. Dalam hal ini, mereka dibantu oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Nias.
Di Nias Selatan, sampel diambil dari kelompok bangsawan si’ulu, Fau dan Sarumaha. Sementara di Nias bagian Utara (saat itu masih belum pemekaran wilayah) sampel diambil di antaranya dari marga Hia, Ho, Daeli, Zebua, Hulu, Baeha, dan Zalukhu, serta sekelompok orang Nias lainnya yang tersebar di beberapa daerah lainnya di Nias. Dari sampel itu, DNA diekstraksi di laboratorium di Jerman. Ekstraksi itu yang kemudian dianalisis oleh Professor Ingo dan Mannis Van Oven.
Analisis dilakukan dari dua perspektif yang berbeda, yakni kromosom Y dan mtDNA. Dari kromosom Y terdapat dua variasi gen spesifik yang diteliti yakni Single-Nucleotide Polymorphisms (SNPs) dan Short Tandem Repeats (SRTs). Adapun mtDNA dirangkai dalam satu bagian yang disebut Hypervariable Segment I (HVS-I).
Dari analisis ini, mereka menemukan haplogrup. Haplogrup adalah evolusioner golongan bertipe sama, hampir sama seperti golongan darah. Di belahan dunia yang berbeda, perbedaan haplogrup juga terjadi. Haplogrup diindikasikan dengan huruf yang diikuti oleh nomor subgrup. Contoh, Haplogrup A, dapat dibagi menjadi A1, A2, A3, dan seterusnya.
Berdasarkan kajian ilmu pengetahuan, haplogrup kromosom Y di wilayah Asia Timur dan Tenggara didominasi oleh haplogrup O. Oleh karena itu, pertama-tama mereka mengidentifikasi haplogroup O dari sampel yang ada dan hasilnya semua positif. Kemudian dianalisis lagi untuk mengetahui subhaplogrup. Hal yang sama juga dilakukan pada mtDNA.
Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa sampel kromosom Y tersebut 100 persen masuk kategori haplogroup O. Hal ini mengindikasikan rendahnya perbedaan genetik di Nias (khususnya dari garis keturunan ayah), tidak seperti daerah lainnya di Sumatera yang biasanya memiliki rentang haplogrup yang luas.
Pada subhaplogrup, semua sampel (kecuali satu) masuk dalam haplogrup O1a (ditandai dengan M119). Kemudian dalam haplogrup O1a, 30 persen di antaranya masuk kategori O1a2 (ditandai dengan M110). Baik M119 dan M110 ditemukan pada suku bangsa asli Taiwan dan keduanya berkaitan dengan penyebaran ras Austronesia.
Bila dilihat secara geografis, haplogrup O-M119 86 persen berada di Nias bagian tengah hingga ke utara dan jarang ditemukan di Nias bagian selatan. Dari semua populasi yang diteliti, haplogrup O-M119 mendominasi di semua tempat. Sementara,keberadaan haplogrup O-M110 di Nias Selatan mengundang tanda tanya besar karena jarang ditemukan pada populasi di daerah sekitarnya.
Perbedaan yang mencolok antara Nias Selatan dengan daerah lainnya di Pulau Nias juga terlihat dalam analisis STR kromosom Y. Belum jelas apakah perbedaan ini terjadi karena diferensiasi dini kelompok ini yang diikuti oleh pengasingan atau perbedaan populasi nenek moyangnya.
Sementara dari analisis mtDNA, ada 18 haplogrup yang ditemukan. Secara geografis, satu haplogrup ditemukan tersebar di seluruh daerah sebesar 40 persen. Haplogrup ini juga berkaitan dengan penyebaran orang Taiwan. Hampir semua haplogrup mtDNA yang terdeteksi di Nias serupa dengan suku asli Asia bagian timur (dan mungkin ras Austronesia). Hanya dua haplogrup yang mungkin berasal dari Asia Tenggara (2 persen). Meskipun demikian, ruang distribusinya tidak seekstrem pada hasil kromosom Y.
Ketika perbedaan tingkat genetika ini dibandingkan dengan populasi lainnya di luar Nias, jelas terlihat bahwa perbedaan genetika orang Nias sangat kecil dibanding populasi di Asia Timur, Tenggara dan Oceania, terutama kromosom Y-nya. Pengamatan ini mengindikasikan asal usul nenek moyang cukup kuat atau terjadinya hambatan dalam sejarah populasi orang Nias terutama kaum prianya.
Semua tipe kromosom Y dan hampir semua tipe mtDNA di Nias bisa dihubungkan dengan nenek moyang ras Austronesia yang sebagian besar berasal dari Taiwan, yang kemudian melewati Filipina dan menyebar ke Pulau-pulau di Asia Tenggara sekitar 4.000-5.000 tahun lalu. Data ini didukung juga dengan bahasa Nias yang masuk dalam rumpun bahasa Austronesia.
Masih Perlu Diteliti Lebih Lanjut
Hasil ini tentu saja mengundang kontroversi dari masyarakat Nias yang merasa bahwa penemuan ini belumlah sesuai dengan cerita turun-temurun nenek moyang, selain adanya perbedaan fisik dan bahasa dengan orang Taiwan.
Menanggapi hal ini, Mannis van Oven justru mengaku tidak menduga akan hal tersebut, Namun, ia sangat mengapresiasi kontroversi itu dan menganggapnya sebagai suatu keunikan tersendiri dari masyarakat Nias.
“Pengetahuan saya soal masyarakat Nias memang sangat minim. Jadi bagi saya itu tidak menjadi masalah,” tuturnya pada NBC seusai acara Seminar Asal-Usul Suku Nias Ditinjau dari DNA dan Benda-Benda Purbakala, Sabtu (13/4) lalu.
Penemuan yang masih belum mencapai hasil akhir ini memang akan diteliti lebih dalam lagi. Sebab, bila dihitung secara angka, kesamaan DNA orang Nias dengan Taiwan hanya 40 persen dan sebagian kecil di Filipina. Hal ini mengindikasikan bahwa sisanya berasal dari daerah lain.
“Masih banyak yang perlu dilakukan pada penelitian DNA orang Nias ini. Saya rasa langkah pertama adalah mencari variasi genetik tambahan di luar kromosom Y dan mtDNA,” tutur Mannis. Namun, untuk saat ini, Mannis mengaku akan berkonsentrasi pada penelitian genetiknya di Papua Niugini.
Mannis van Oven lahir di Amsterdam, Belanda, pada tahun 1983. Saat ini ia menjadi mahasiswa S-3 bidang Biologi Molekuler Forensik, Erasmus MC-University Medical Center Rotterdam, Belanda. Beberapa karya ilmiah yang pernah ia publikasikan bersama rekan-rekannya di antaranyaHaplogrouping mitochondrial DNA sequences in Legal Medicine/Forensic Genetics (Pengelompokan urutan haplogrup mtDNA pada ilmu kedokteran/genetika forensik) yang diterbitkan di Jurnal Internasional Ilmu Kedokteran dan A “Copernican” reassessment of the human mitochondrial DNA tree from its root(Tinjauan kembali “Copernican” pada pohon mtDNA dari sumbernya) yang diterbitkan oleh American journal of human genetics. [ANOVERLIS HULU]

Sejarah Kehidupan Keluarga di Hilisataro


Ta'orani Laia (Usia 74)
Lahir Tgl 25 Nov.1930
Wafat Tgl 14 Sept.2004

  Sitimanis Lo'i  
Lahir Tgl 04 Sept.1942
Wafat Tgl 23 Mei 2013
                                
SURA ZATUAMA TA'ORANI LAIA (74TH)
CATATAN: SILSILAH DAN SEJARAH KEHIDUPAN SERTA PEKERJAAN DAN PENGALAMAN

Pengantar:
Berdasarkan bunyi Alkitab mengatakan: "MASA HIDUP KAMI 70 TAHUN DAN JIKA KAMI KUAT 80 TAHUN (Mazmur 90:10a)
Ayat 12: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian hingga kami beroleh hati yang bijaksana".

Sesuai dengan catatan ini hanya tertunjuk pada seorang keturunan sebagai riwayat kehidupannya yang menjadi pedoman untuk mengenal satu sama lain yang termasuk lingkungan keluarga supaya tetap dalam kerukunan hidup berkeluarga. Dan mengenal kaitan keluarga-keluarga yang erat hubungannya dalam silsilah dari atas sampai keturunan berikutnya.

Untuk diketahui maksud dan tujuan catatan ini yaitu sebagai petunjuk yang dapat diingat pada masa-masa mendatang sebagai bahan pertimbangan dalam duka dan suka.

Catatan ini dimulai dengan sebagian silsilah perpisahan dari Banua Hilisataro ke Bawoza'ua nama desa sekarang.
Menurut ceritera nama desa sebelum ini yaitu: Desa yang terletak diatas gunung sebelah utara desa sekarang diberi nama Hiliamaigila. Karena pertapakan rumah disana maka kepala/ pimpinan desa tersebut ada dua orang kakak-beradik yang dapat memimpin rakyat mereka dengan bijaksana menghimpun suatu keputusan bersama untuk mencapai kesepakatan dan sepakat mencari tempat perumahan diseberang sungai Gewa yang diberi nama Hiliwaositano.
Sebagai titiktolak untuk melebarkan tanah perkebunan rakyat maka Si'ulu pemimpin Hiliwaositano pergi mencari tanah yang dapat dijadikan tempat perumahan rakyatnya sambil berburu telah sampai di tepi sungai Sa'ua, sungai yang agak besar dari sungai Gewa. Dan melihat tanahnya yang subur dan lebar tidak seorangpun duluan mengolah tanah itu maka ia mengutarakan hal itu kepada adiknya Si'ulu/ pemimpin yang tinggal di desa Hiliamaigila bahwa mereka pindah pada tanah yang baru didapat katanya; Biarlah adik serta rakyat kita pengikutmu tinggal memiliki tanah ini serta tanah perkebunan yang ada dan kami keluarga Hiliwaositano memiliki sungai Sa'ua serta tanah perkebunan disana timbal balik sungai.
Maka yang sulung serta panglima-panglimanya serta keluarga rakyatnya pindah dan membuat perkampungan di Batu'atola yang diberi nama Bawoza'ua dan setelah lama kemudian pindah lagi perkampungan disebelah utara di tepi sungai Sa'ua diberi nama Hiliduha pada perkampungan tersebut walau hanya rakyat-rakyat itu saja yang terdaftar dalam register pemerintah tetap disebut Bawoza'ua sebagai kenangan. Untuk itu mulai zaman dahulu sampai sekarang selalu disebut Hilisataro - Bawoza'ua/ Hiliduha hanya satu Banua karena perpisahan tempat itu terlaksana dengan baik bukan disebabkan kekeliruan. Hiliamaigila juga memilih tanah datar disebelah sungai Gewa yaitu diberi nama Hilisataro sampai sekarang.

Untuk dapat dimengerti sebagaimana apa yang dimaksud salah seorang dari panglima tersebut yang ikut pindah ke Bawoza'ua yaitu bernama Harimaoduha itulah yang dapat dimulai pada silsilah ini sbb.:

Harimaoduha beranak dua orang laki-laki yaitu:
Fondrege Harimao yang sulung dan
Sanaya Tuha anak yang bungsu.

Fondrege Harimao memperanakan 4 orang laki-laki yaitu:
1. Bawa Harimao/ Silaotambali
2. Kalito
3. Kanola
4. Wa'aniha

Keturunan Sanaya Tuha hanya seorang laki-laki bernama Tambali Duha

Keturunan Bawa Harimao/ silaotambali 4 orang laki-laki dan seorang perempuan:
1. Rafozabe'e (ke Pulau Tello)
2. Nawö / Namö Gowasa II
3. Zindroi
4. La'imba Za'ua
5.Dawe (pr)

Keturunan Tambali Duha 3 orang:
1. Falago Nahono, laki-laki
2. Tanomo Gere, ina nama Na'auri
3. Nene Gere, sowato ba Mbawodobara.

Pada jajaran itu hanya sampai disini terdapat pada catatan ini sebagai petunjuk mengenal turunan yang bertalian keluarga lain dan dari keturunan ini terdapat seorang yang beranak laki-laki yaitu bernama Nawö, lain lainnya hanya keturunan perempuan.

NAWÖ adalah anak nomor dua kelahiran dari Bawa Harimao ia ini tidak lama hidup lalu meninggal dunia dan meninggalkan seorang isteri dan seorang yang beranak laki-laki bernama Hatazaro, pada umur kurang lebih 1,5 tahun.

Setelah lama kemudian janda almarhum Nawo menikah lagi kepada Siwazumikhi di Hilisataro dan ikut membawa anak tunggalnya laki-laki Hatazaro pada umur kira-kira 5 tahun, disanalah ia dibesarkan oleh ibunya dengan bantuan hasil buah kelapa dari Bawoza'ua yang diwarisi dari hak milik orangtuanya.
Pernikahan ibunya kepada Siwazumikhi melahirkan seorang anak perempuan bernama Simeja ina Matia Sarumaha.
Karena Siwazumikhi tidak mempunyai anak laki-laki hanya perempuan seorang bernama Sombuyu ina Boiorikhou, Fanaro, Sikisa, Sikune. Oleh sebab itu untuk melihat hati Hatazaro tetap disisinya sebagai anak kandung ditambah lagi sebagai tanda kuasa dalam memegang harta milik Hatazaro emas dan kebon kelapa yang menjadi baik ekonominya sampai Siwazumikhi membuat Fa'ulu momboi ana'a ba mbagi selama pernikahannya dengan ibu dari Bawoza'ua ini. Sebagai tanda untuk mengakui pengangkatan anak laki-laki bernama Hatazaro membuat pesta dan mengundang Si'ulu-Si'ila dan semua famili di desa untuk mensyahkan menjadi anaknya laki-laki yang bernama Hatazaro. Dan mulai saat itu Siwazumikhi memberi wewenang kepada Hatazaro untuk mengurus, memelihara dan melindungi anak-anaknya dan anak keluarganya yang lain serta wewenang pembagian harta kepada saudara-saudaranya walau hanya perempuan.

Dalam menerima kuasa itu dari Bapak angkatnya Hatazaro menerima dengan senang hati sehingga Bapak angkatnya meninggal dunia tidak pernah mengeluh.

Dalam melaksanakan pembagian harta kekayaan almarhum Siwazumikhi baik harta emas dan harta perkebunan Hatazaro sebagai anak angkat ia membagikan dengan adil semua kepada saudaranya Sombuyu dan Simeja walaupun berhak menerima warisan tersebut dan ia menyadari bahwa kekayaan warisan dari orangtuanya sendiri baik emas dan beberapa bidang kebun kelapa dan tanah perkebunan lebih dari cukup untuk dimiliki karena semua harta warisan orangtuanya hanya ia yang berhak mewarisi. Sebagai tanda ketulusan hatinya ia menerima tanah pertapakan Gereja BNKP jemaat Hilisataro sekarang.

Oleh sebab kejadian ini almarhum Hata Laia dibesarkan oleh ibunya di Hilisataro sampai dewasa dan kawin nikah dengan Ulimbowo dan melahirkan anak laki-laki 5 orang yaitu masing-masing bernama:

1. Tahonogo Laia beranakan: alm. Sudi'eli, Suriyani, Fanohugo, Admiral, Serius, Yatilina, Harmonis dan Joni.

2. Ta'orani Laia beranakan: Huku'aro, Musyawarah, Peringatan, Gabriel, Okuliziduhu, Pertalikan, Mikaryawati, Junikaryamawar dan Ferry Srisiwati.

3. Ta'osigo Laia beranakan: Fatilia, Waspada, Setiawan, Fatimani, Fatilinda, Gairah.

4. Ta'osisi Laia beranakan: Esima, Yatimani, Emanuel, Nafiri, Gelora, Peringatan, Pikiran, Darius dan Ros

5. Sokhi'aro Laia mengangkat anaknya Sukadamai (anak yang lahir dari Ta'osigo)

Kelima orang laki-laki ini tidak mempunyai saudara perempuan.

Dari seorang bersaudara ini tertunjuk pada anak nomor dua yaitu bernama Ta'orani Laia sebagaimana sejarah/ riwayat hidupnya adalah sbb.:

SEJARAH/ RIWAYAT HIDUP

TA'ORANI LAIA Ayah dari sembilan orang yang telah tercatat diatas yaitu:
Lahir di Hilinamoza'ua tanggal 25 November 1930 pada masa Ayah bertugas sebagai Guru Jemaat BNKP Filial Hilinamoza"ua. Kira-kira satu bulan setelah lahir Ayah pindah di La'owi Kecamatan Lahusa. Kira-kira berumur satu tahun kembali dipindahkan di Hilisataro. Disanalah dibesarkan sampai masuk Sekolah Dasar pada mas Zending Misi dari Germany yang bernama Desa Skhol 3 tahun tanggal 5 Agustus 1937. Tammat pada tanggal 2 Agustus 1942 menerima Surat Tamat Belajar.

Pada tahun itu juga pemerintah Belanda berakhir, tibalah tentara Jepang dengan nama pemerintahannya Dai Nippon. Dan berakhirlah juga zaman keemasan bagi orang yang termasuk pegawai-pegawai agama dan lebih-lebih masyarakat biasa untuk merasai kesulitan baik makanan dan pakaian karena kejahatan pemerintah Dai Nippon. Dan bersambung lagi setelah Jepang setelah kemerdekaan Indonesia di Proklamasikan beberapa tahun lagi masa agresi Belanda bertambah melaratlah kehidupan rakyat.

Pada tahun-tahun itu Ayah sembilan orang tersebut turut merasakan kesulitan. Setelah dewasa kawin dengan nikah pertama pada tahun 1949. Karena belum lancar mendapat beras untuk melawan arus kesulitan tersebut lahir anak pertama yang bernama Hezaro anak laki-laki dan mulai membanting tulang untuk membeli beras di kecamatan Gomo jauh dari kampung Hilisataro 44 Km, dengan cara ganti barang garam ditukar dengan beras, saat itu belum ada sepeda jadi pulang pergi harus dipikul dengan berjalan kaki, memang sangat melelahkan hanya saja terhibur karena mendapat makan nasi, yang belum banyak orang lain mendapat seperti ini.

Tidak lama berlangsung kesulitan tersebut mulai tahun 1953 berganti pekerjaan yaitu menjahit pakaian di kota Kecamatan Telukdalam setiap hari Sabtu kembali dirumah di Hilisataro dengan jalan kaki 12 Km dilalui. Antara tahun-tahun iyu selalu ganti berganti usaha kecil 2 tahun tukang jahit pakaian, bengkel sepeda 2 tahun, menggalas kopra dua tahun. Pada tahun 1962 diangkat menjadi Satua Niha Keriso.
Perkawinan pertama itu lahirlah anak laki-laki dan perempuan 7 orang dan pada bulan Februari 1965 Ibu pertama meninggal dunia, diantara ketujuh orang anak tersebut tinggal 4 orang anak yang hidup, tiga laki-laki dan seorang perempuan.

Pada tanggal 13 Oktober 1965 kawin lagi yang bernama Sitimanis Lo'i. Pada Tgl 27 Oktober 1966 lahir anak laki-laki yang bernama Gabriel Laia, anak pertama dari ibunya.

Pada tanggal 1 September 1967 diangkat menjadi Pegawai Negeri pada jabatan Guru Agama Kristen Protestan di SDN No. 071098 Telukdalam II Kec. Telukdalam dengan pangkat BB/II= Ia

Pada Tgl 1 Juli 1973 diangkat menjadi Penilik Pendidikan Agama (K)pr Protestan Kec. Lahusa dan Kec.Gomo pada masa Dinas Agama Kristen, lima tahun kemudian karena Pembentukan Departemen Agama semua pegawai Dinas Agama bergabung satu Departemen, Ayah memilih menjabat kembali sebagai Guru Agama di SDN No.071097 Telukdalam I sampai....

(Catatan diatas ditulis sebagaimana aslinya, dan ditunjukan hanya untuk kami anak-anaknya. Ayah kami dipanggil oleh Bapa disurga pada usia 74 tahun pada tanggal 14 September 2004)

Hilisataro tempo doeloe

Hilisataro tempo doeloe