Rabu, 11 September 2013

Fongers Sepeda Onthel Berkualitas

Fongers, Sepeda Onthel Resmi Tentara Hindia Belanda


Fonger utk tentara
Foto koleksi : fongers.net, pada foto adalah poster iklan sepeda Fongers tentara Hindia Belanda (Nederlandsch Indische leger)


Guna mempertahankan wilayah kekuasaannya kerajaan Belanda membangun kekuatan tentara di Hindia Belanda. Setelah perang jawa (Java Oorlog) selesai, pada 4 Desember 1830, Gubernur Jenderal Van den Bosch mengeluarkan keputusan yang dinamakan “Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische leger”. Keputusan ini menetapkan pembentukan suatu organisasi ketentaraan yang baru untuk Hindia Belanda, yaitu Oost-Indische Leger (Tentara India Timur).
Di tahun 1836 atas saran dari Raja Willem I, tentara ini mendapat predikat “Koninklijk“. Ketika Hendrik Colijn yang pernah bertugas sebagai perwira di Oost-Indische Leger, menjadi Perdana Menteri, secara resmi tentara di India-Belanda dinamakan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger, disingkat KNIL.
Istilah KNIL sebenarnya singkatan dari bahasa Belanda yaitu het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger, atau secara harafiah: Tentara Kerajaan Hindia-Belanda. Meskipun KNIL melayani pemerintahan Hindia-Belanda, banyak di antara anggota-anggotanya yang adalah penduduk bumiputra di Hindia-Belanda dan orang-orang Indo-Belanda, bukan orang-orang Belanda.
Setelah adanya penggunaan sepeda oleh kalangan militer, tentara KNIL di Hindia Belanda pun dilengkapi sepeda untuk keperluan pasukan. Seperti kita ketahui, kerajaan Belanda menggunakan tiga merek sepeda bagi tentaranya yaitu Fongers, Burgers, dan Simplex. Sepeda untuk militer Belanda ini dikenal dengan istilah WF (Wielrijders Fietsen). Nah, apakah ketiga merek sepeda Belanda ini juga digunakan oleh tentara KNIL Hindia Belanda? Ternyata tidak. Berikut penjelasanya.
Koran De Sumatra Post terbitan 1907 mengulas tentang kelangkaan atau kurangnya pasokan sepeda untuk pasukan Belanda. Pasukan-pasukan bersepeda KNIL ini beroperasi di beberapa wilayah nusantara (archipel) seperti pulau Sumatra terutama daerah Medan, Aceh, dan Sumatra Barat. Selain itu, juga pulau Jawa. Tentunya dibutuhkan sepeda yang berkualitas baik dan sesuai dengan kondisi tanah atau medan di Hindia Belanda. Namun pemerintah Belanda kebingungan dan terjadi perdebatan para petinggi Belanda mengenai sepeda merek apa yang tepat digunakan oleh tentaranya di Hindia Belanda. Saking alotnya perdebatan para petinggi Belanda ini berakibat pasokan sepeda untuk militernya terhambat. Awalnya pemerintahan Hindia Belanda menunjuk sepeda bermerek Brennabor buatan Germany untuk digunakan oleh tentara Hindia Belanda.
Koran Het Nieuws Van Den Dag Voor Nederlandsch Indie terbitan 1909 menulis tentang sepeda Brennabor (Brennabor Rijwielen) yang digunakan oleh tentara Hindia Belanda. Berikut tulisan berita yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia
Sepeda Brennabor
Sebagai tanda terima kasih kami terima dari Brennabor sebenarnya untuk Brandenburg a / d Havel giel di dermaga sekitar 1907 daftar harga produk yang diproduksi oleh sepedanya.
Seperti diketahui, sepeda Brennabor digunakan di weilrijdersbrigade dari tentara India Belanda (Het Nieuws Van Den Dag Voor Nederlandsch Indie, 1907).
Setelah melalui perdebatan sengit dan pemeriksaan sepeda yang tepat, akhirnya pada 1909, secara resmi pemerintah kerajaan Belanda menunjuk produsen sepeda Fongers untuk membuat sepeda untuk digunakan tentara Hindia Belanda (Indische Leger).
Koran De Sumatra Post terbitan 1909 menulis berita tentang sepeda Fongers untuk tentara Hindia Belanda :
Sepeda Untuk Tentara Hindia Belanda
Fongers sepeda untuk militer India Belanda. Setelah berbagai keberatan dan diperiksa di Belanda (De Sumatra Post 1910).
Dipilihnya Fongers untuk militer di Hindia Belanda, menurut koran De Sumatra Post tersebut karena sepeda Fongers sesuai dengan kondisi jalan dan tanah, sehingga dibutuhkan sepeda yang mampu memenuhi tuntutan tinggi pasukan. Selain itu, sepeda Fongers telah memiliki reputasi bagus di kalangan orang-orang Hindia Belanda.
Ada beberapa tipe sepeda Fongers untuk militer ini sebut saja CCG, HZ yang dipakai waktu Perang Dunia 1 pada 1914. Fongers HZ militer ini bercirikan : rem depan sudah memakai tromol namun menggunakan tromol sebelah kanan, sedang rem belakang menggunakan torpedo. Ada juga tipe HF yang digunakan dekade 1930-an. (Oldbike In History, sumber : dari beragam sumber.

 
381975_483367528368930_1809786916_n
Foto koleksi : koleksi filckr.com, tampak sepeda Fongers BB 65 buatan 1934).

Fongers merupakan salah satu sepeda asal Belanda yang banyak diburu orang Indonesia saat ini. Maklum sepeda asal Groningen, Belanda ini sudah masuk kategori barang langka bernilai mahal. Menurut seorang pakar sepeda, Fongers konon tak hanya sekedar sepeda, namun sepeda ini merupakan lambang status dan sistem. Disebutkan dalam iklan sepeda Fongers, bila sepeda buatan Belanda ini bukan sekedar Fiets, namun lebih ke Rijwiel. Sebenarnya kata Fiets maupun Rijwiel dalam bahasa Belanda itu identik dengan sepeda. Namun dalam penggunaannya, Fiets dan Rijweil berkaitan dengan konsep yang dibedakan. Kata Fiets lebih condong ke situasional sehari-hari, sedangkan Rijwiel adalah sesuatu yang dikaitkan dengan persepsi khusus yaitu istimewa, kelas tersendiri, aristokrat dan mewah.
Tak sampai disitu, Fongers adalah sepeda kelas tersendiri yang berbeda dengan merek lain. Pun, Fongers adalah sepeda yang jelas asal-usulnya. Pasalnya, sepeda ini tak sekedar diproduksi, tapi juga dicatat dan didata dengan baik dan terstruktur dengan rapi. Fongers di negeri asalnya, tak hanya sekedar barang yang berwujud sepeda, namun Fongers sudah merupakan pribadi dan sistem yang membuat sepeda menjadi produk yang berwibawa. Bila orang-orang Indonesia dulunya menggemari sepeda Fongers ini memang tak lepas dari persepsi orang Indonesia kala itu. Yang memandang sesuatu tak hanya memiliki nilai fungsi saja, biasanya juga dikaitkan dengan nilai gengsi. Apalagi di zaman kolonial Belanda, masyarakat dibagi dalam beberapa strata(kelas), yaitu kelas satu yang punya hak istimewa, terdiri dari orang-orang Eropa. Lalu ada bangsa timur seperti Cina dan Arab. Baru kelas paling bawah yaitu orang pribumi (inlander).
Jenis sepeda Fongers yang diproduksi beragam. Ada tipe BB, BD, CCG, BDG, HF, HZ, H, dan lainnya. Namun yang menjadi buruan orang Indonesia adalah tipe Fongers BB. Terlebih lagi Fongers BB yang diproduksi sebelum perang dunia kedua (WW 2) meletus. Ciri khas sepeda Fongers ini dapat dilihat dari bentuk spatbord dengan lekukan menonjol ke atas. Ciri inilah membuat sepeda ini gampang untuk dikenali. Tak hanya itu, gir depan yang tampilan seperti obat nyamuk dan sistem rem klasik model kawat atau botol yang unik juga menjadi identitas tersendiri. Pun, desain setang yang unik dengan klem (ballhoff) pada batang setang dan adanya sistem pengunci setang yang membuat sepeda ini tampil beda.
Pada awalnya pabrikan Fongers dalam memproduksi sepeda membaginya dalam kategori kualitas yang dikenal dengan istilah SOORT ( sortiran ) A , B , C, D , dan E. Hal ini tentunya berkaitan dengan harga jual sepeda yang ditawarkan ke konsumen. Tipe sepeda Fongers dengan harga termahal adalah Fongers kategori soort A yaitu tipe BB untuk heren (sepeda pria) , dan BD bagi dames (sepeda perempuan), serta seterusnya berdasar urutan abjad yang ada . Pembagian kategori ini terus digunakan oleh pabrikan Fongers hingga tahun 1940-an .
Kalau bicara sepeda Fongers , tentunya tak lepas dari pabrik sepeda Fongers itu sendiri. Pabrik Fongers didirikan oleh Albert Fongers pada tahun 1880. Awalnya Fongers merupakan industri rumahan yang membuat sepeda yang sebelumnya disebut dengan A. Fongers. Setelah dirasa akan berkembang akhirnya dijadikan sebuah produksi skala massal melalui pembentukan badan usaha formal pada tanggal 1 September 1896, yang disebut ‘NV De Groninger Rijwielenfabriek A. Fongers’.Di tahun 1920, Fongers telah menjelma menjadi pemimpin pasar sepeda di negeri Belanda, bahkan menggunguli pesaing beratnya seperti Gazelle, Burgers, Simplex , dan Batavus. Merek-merek sepeda ini merupakan pesaing yang berat dalam merebut pangsa pasar yang tidak seberapa besar. Belum lagi bersaing dengan sepeda-sepeda buatan Inggris, Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat.
Fongers dikenal sangat memperhatikan segi kualitas sepeda yang bagus. Pangsa pasar yang dibidik Fongers pun golongan menengah atas. Alhasil, meskipun sepeda Fongers keluaran tahun tua masih saja tampak bagus. Karena memang Fongers fokus pada kualitas sepeda dan terbaik dalam segala hal. Di Indonesia waktu dahulu, hanya segelintir orang kaya yang bisa membeli Fongers tipe BB ini. Ada juga Fongers BB ini dibagikan kepada kalangan tertentu oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai hadiah. Biasanya kalangan elit pribumi yang dianggap berjasa pada Belanda. Jadi tepatlah jika sepeda Fongers itu bukan sepeda biasa.



Fonger BB 60

Tampilan sepeda Fongers BB 60 Crossframe ini memang apik namun apakah sepeda ini asli atau palsu. Nah, seorang pakar sepeda tua asal Belanda bernama Andre Koopmans mengatakan bahwa sepeda Fongers Crossframe (kruisframe) BB 60 ini sangat aneh. Andre mengatakan bahwa ketika Fongers BB 60 Crossframe ini dibuat, pabrik Fongers tidak lagi memproduksi sepeda Crossframe. Frame BB 60 ini memang frame Fongers namun ditambah atau dijadikan rangka silang yang lebih baru. Selain itu, frame silangnya berbeda dengan gambar Fongers crossframe yang ada di katalog Fongers tua. Andre pun mengatakan frame sepeda silang ini tampak bukan seperti buatan sendiri. “Saya tidak tahu apa ini, sangat aneh”, jelas Andre.
Menurut Andre, sepeda Fongers Crossframe terakhir diproduksi di tahun 1906 atau 1907. Pada katalog Fongers tua 1908, frame silang ini sudah hilang. Begitu juga pada katalog Fongers berikutnya, rangka silang ini sudah tak muncul lagi. Yang tersisa adalah sepeda-sepeda Fongers jenis transport untuk membawa barang. “ Jadi sepeda Fongers Crossframe BB 60 ini adalah buatan sendiri yang dilakukan oleh orang profesional, sehingga tidak terlihat seperti buatan disebuah gudang atau bengkel belakang rumah. Sepeda crossframe ini misterius”, jelas Andre.
Bingung juga nih pakar sepeda asal Belanda ini. Tapi bila kita mau menengok sejarah pemalsuan sepeda di Indonesia semestinya tak perlu bingung lagi. Pasalnya pemalsuan sepeda tua sudah ada sejak dari dulu hingga sekarang. Pelakunya pun orang-orang yang profesional dan tahu tentang sepeda onthel dari spesifikasi hingga model desainnya. Hati-hatilah bila membeli sepeda tua yang bentuknya aneh, apalagi dengan merek terkenal, sedang negara asal sepeda itu tak memproduksinya.(Oldbike In History, Foto koleksi : flickr.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hilisataro tempo doeloe

Hilisataro tempo doeloe