AMAEDOLA - PERIBAHASA NIAS

Aoha Noro Nilului Wahea Aoha Noro Nilului Waoso Alisi ta fadaya-daya Hulu ta faewolo-wolo Tafadaya Na'awua Tafahea Na'esolo Böröta Göndröra Fabanuasa Kiri-kiri ta Wambambatösa Na Löna Tosai ba dödöu Mbinu Saigö ba dödöu Zobinu Manoko Do'ia, Mokindra Nono Mba'e Löna Gumbe zi sazo'e Gumbe zi Walu Naso'e
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juli 2026

Benarkah TRINITAS Tidak Tercantum Pada ALKITAB?


Saya pernah mendengar seseorang berkata, "Masalahnya ada pada kata 'pribadi'. Bukankah lebih baik kita menggantinya dengan 'relasi' supaya orang tidak salah paham tentang Tritunggal?" Kedengarannya masuk akal. Bahkan terdengar seperti solusi yang elegan.

Namun, benarkah demikian?

Bayangkan jika setiap istilah teologi dihapus hanya karena sering disalahpahami. Bukankah "Anak Allah" juga berkali-kali disalahartikan? Bukankah "Anak Manusia" juga sering dipelintir? Apakah gereja lalu harus mengganti semua istilah itu? Tentu tidak. Tugas gereja bukan mengubah bahasa iman agar sesuai dengan kesalahpahaman manusia, melainkan mengajar umat memahami kebenaran sebagaimana Alkitab menyatakannya.


Sejak berabad-abad lalu, gereja merumuskan iman berdasarkan seluruh kesaksian Kitab Suci: satu hakikat (mia ousia), tiga pribadi (treis hypostaseis). Rumusan ini bukan hasil spekulasi filsafat, melainkan benteng yang menjaga gereja agar tidak jatuh ke dalam dua kesesatan sekaligus: menganggap Allah tiga allah (politeisme) atau menganggap Bapa, Anak, dan Roh Kudus hanyalah satu Pribadi yang berganti-ganti peran (modalisme).

Mengapa kata pribadi tetap dipertahankan?

Karena Alkitab tidak berbicara tentang relasi yang abstrak. Bapa mengasihi Anak. Anak berdoa kepada Bapa. Roh Kudus menghibur, mengajar, dan bersaksi tentang Kristus. Semua itu adalah tindakan personal. Relasi memang ada di dalam Tritunggal, tetapi relasi tidak pernah menggantikan pribadi.

Lalu muncul keberatan lain: "Trinitas tidak ada di Alkitab." Benar, katanya tidak ada. Tetapi ajarannya ada di setiap lembar Kitab Suci. Alkitab menyatakan Bapa adalah Allah. Anak adalah Allah. Roh Kudus adalah Allah. Pada saat yang sama, Alkitab dengan tegas berkata, Allah itu esa. Gereja tidak menciptakan doktrin baru. Gereja hanya merangkum seluruh data Alkitab dengan setia.

Di sinilah keindahan teologi Reformed. Kita tidak membangun doktrin dari satu ayat yang berdiri sendiri, melainkan membiarkan seluruh Alkitab menafsirkan seluruh Alkitab. Ketika semua potongan wahyu disatukan, kita tidak menemukan tiga allah, juga bukan satu pribadi dengan tiga topeng. Kita menemukan satu Allah yang kekal, yang menyatakan diri sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Sabtu, 04 Juli 2026

PEREMPUAN DARI TEKOA YANG BIJAKSANA

Kita pasti mati dan seperti air yang tertumpah ke tanah yang tidak dapat dikumpulkan lagi. Tetapi Allah tidak mencabut nyawa; Ia memikirkan jalan supaya orang yang dibuang jangan tetap terbuang dari hadapan-Nya." (2 Samuel 14:14)

PEREMPUAN DARI TEKOA: WANITA BIJAKSANA YANG DATANG MENASEHATI DAUD

Perempuan dari Tekoa adalah seorang wanita bijaksana yang muncul dalam 2 Samuel 14. Meskipun namanya tidak disebutkan, ia memainkan peranan penting dalam usaha mendamaikan Raja Daud dengan putranya, Absalom.

1. Latar Belakang Kisah

Untuk memahami peran perempuan dari Tekoa, kita perlu melihat peristiwa sebelumnya:

Absalom memiliki saudara perempuan bernama Tamar.
Tamar diperkosa oleh saudara tirinya, Amnon (2 Samuel 13).
Daud sangat marah, tetapi tidak menjatuhkan hukuman yang tegas kepada Amnon.
Dua tahun kemudian Absalom membunuh Amnon sebagai balas dendam.
Setelah itu Absalom melarikan diri ke Gesur dan tinggal di sana selama tiga tahun.
Daud merindukan Absalom, tetapi juga sulit mengampuninya karena pembunuhan yang telah dilakukannya.

2. Siapa Perempuan dari Tekoa?

Tekoa adalah sebuah kota di wilayah Yehuda, sekitar 16 km di selatan Yerusalem.

Yoab, panglima tentara Daud, melihat bahwa raja sangat merindukan Absalom. Karena itu Yoab mencari seorang perempuan yang terkenal bijaksana dari Tekoa.

Yoab kemudian:
Mengajarkan sebuah cerita kepada perempuan itu.
Memintanya datang menghadap Daud.
Memintanya menyampaikan kisah tersebut seolah-olah itu pengalaman pribadinya.
Tujuannya adalah membuat Daud melihat situasinya sendiri dari sudut pandang yang berbeda.

3. Kisah yang Disampaikan kepada Daud

Perempuan itu datang dengan pakaian berkabung dan berkata bahwa:

  • Ia adalah seorang janda.
  • Ia mempunyai dua anak laki-laki.
  • Kedua anak itu bertengkar di ladang.
  • Salah satu anak membunuh yang lain.

Sekarang seluruh keluarga menuntut agar anak yang masih hidup dihukum mati.

Jika anak yang tersisa dihukum mati:
Keturunannya akan lenyap.
Nama suaminya tidak akan diteruskan.
Ia memohon kepada Daud agar anaknya diampuni.

4. Respons Daud

Daud tergerak oleh kisah tersebut.

Ia berjanji:
Anak yang masih hidup tidak akan dihukum mati.
Ia akan melindunginya.
Dengan demikian Daud menunjukkan belas kasihan kepada anak dalam cerita itu.

5. Perempuan Itu Membalikkan Situasi kepada Daud

Setelah Daud memberikan keputusan, perempuan itu dengan bijaksana mengarahkan pembicaraan kepada keadaan Absalom.

Intinya ia berkata:

"Jika raja dapat menunjukkan belas kasihan kepada anak dalam kisah saya, mengapa raja tidak melakukan hal yang sama kepada anaknya sendiri?"

Ia mengingatkan Daud bahwa:

"Kita pasti mati dan seperti air yang tertumpah ke tanah yang tidak dapat dikumpulkan lagi. Tetapi Allah tidak mencabut nyawa; Ia memikirkan jalan supaya orang yang dibuang jangan tetap terbuang dari hadapan-Nya." (2 Samuel 14:14)

Ini menjadi salah satu ayat yang paling terkenal dari kisah tersebut.

6. Daud Menyadari Keterlibatan Yoab

Daud akhirnya menyadari bahwa perempuan itu tidak datang atas inisiatif sendiri.

Ia bertanya apakah Yoab berada di balik semuanya.

Perempuan itu menjawab dengan jujur bahwa memang Yoab yang menyuruhnya.

Daud kemudian:

Memanggil Yoab.

Mengizinkan Absalom kembali dari pembuangan.

7. Hasil dari Misi Itu

Absalom kembali ke Yerusalem.

Namun masalah belum benar-benar selesai karena:

Selama dua tahun Daud tidak mau bertemu muka dengan Absalom.

Hubungan mereka tetap rusak.

Akhirnya Absalom memberontak terhadap ayahnya dan berusaha merebut takhta.

Karena itu rekonsiliasi yang terjadi hanya bersifat sebagian dan tidak menyentuh akar persoalan.

8. Karakter Perempuan dari Tekoa

A. Bijaksana

Ia mampu berbicara dengan hati-hati kepada seorang raja yang berkuasa.

B. Berani

Tidak mudah menegur raja secara tidak langsung mengenai masalah keluarganya sendiri.

C. Pandai Berkomunikasi

Ia menggunakan ilustrasi dan cerita untuk membantu Daud melihat kesalahannya.

D. Taat pada Tugas

Ia menjalankan tugas yang diberikan Yoab dengan sangat baik.

9. Pelajaran Rohani

A. Cerita sering membuka hati yang tertutup

Daud sulit melihat masalahnya sendiri, tetapi melalui sebuah ilustrasi ia dapat melihatnya dengan jelas.

B. Pengampunan penting dalam keluarga

Kisah ini menunjukkan betapa sulitnya memulihkan hubungan keluarga yang rusak jika masalah tidak diselesaikan dengan tuntas.

C. Hikmat lebih kuat daripada kekerasan

Perempuan dari Tekoa tidak menggunakan kekuatan atau ancaman. Ia menggunakan hikmat dan kata-kata yang tepat.

D. Allah menginginkan pemulihan

Ucapan bahwa Allah "memikirkan jalan supaya orang yang dibuang jangan tetap terbuang" menunjukkan hati Allah yang mengasihi dan membuka jalan bagi pertobatan serta pemulihan.

Kamis, 25 Juni 2026

NON-KRISTEN YANG MENGUKUHKAN HISTORISITAS YESUS KRISTUS

TIGA SAKSI ROMAWI NON-KRISTEN YANG MENGUKUHKAN HISTORISITAS YESUS KRISTUS 

Mereka adalah pejabat dan sejarawan Romawi yang memandang Kekristenan dari luar, bahkan dengan sikap yang sering kali negatif.

Keberadaan Yesus dari Nazaret merupakan fakta yg kokoh dalam sejarah dunia kuno.


Fakta Sejarah Yesus Kristus selain bersumber dari ALKITAB, 3 Orang Romawi turut mengukuhkan Cerita Yesus Kristus seperti yang bersumber dari ALKITAB. Haleluya...

"Musuh dapat membenci, tetapi ia tidak dapat menghapus fakta."

Salah satu tuduhan yang sering diarahkan kepada Kekristenan adalah bahwa Yesus Kristus hanyalah tokoh yang diciptakan oleh Gereja dan bahwa seluruh kisah tentang-Nya hanya bersumber dari Alkitab.

Menurut klaim ini, di luar Perjanjian Baru tidak ada bukti sejarah yang dapat dipercaya mengenai Yesus.

Namun, tuduhan tersebut tidak sejalan dengan penelitian sejarah modern.

Di kalangan akademisi, keberadaan Yesus dari Nazaret merupakan salah satu fakta yang paling kokoh dalam sejarah dunia kuno.

Para sejarawan dengan latar belakang yang sangat beragam—Kristen, Yahudi, agnostik, maupun ateis—hampir secara universal menerima bahwa Yesus adalah tokoh sejarah yang benar-benar hidup pada abad pertama.

Perdebatan ilmiah dewasa ini bukan lagi mengenai apakah Yesus pernah ada, melainkan mengenai siapakah Yesus sebenarnya, bagaimana memahami ajaran-Nya, makna kematian-Nya, dan bagaimana menafsirkan kesaksian tentang kebangkitan-Nya.

Kesimpulan tersebut tidak hanya didasarkan pada Perjanjian Baru.

Para sejarawan juga menggunakan berbagai sumber independen, termasuk tulisan para penulis Romawi yang sama sekali bukan pengikut Kristus.

Mereka tidak menulis untuk membela Kekristenan, bahkan sebagian besar memandang Gereja dengan kecurigaan atau permusuhan.

Justru karena itulah kesaksian mereka memiliki bobot historis yang sangat tinggi.

Mengapa Kesaksian dari Pihak Lawan Sangat Penting?

Dalam historiografi terdapat prinsip yang sering disebut criterion of enemy attestation (kesaksian dari pihak lawan).

Prinsip ini menyatakan bahwa apabila suatu fakta diakui oleh pihak yang tidak bersahabat, maka fakta tersebut memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi.

Alasannya sederhana.

Seorang musuh tidak memiliki motif untuk menciptakan bukti yang menguntungkan pihak yang ia benci.

Ia mungkin menghina, mengejek, atau menolak keyakinan lawannya, tetapi ia tetap mengakui fakta-fakta yang tidak dapat disangkal.

Tacitus, Plinius Muda, dan Suetonius merupakan contoh yang sangat baik dari prinsip ini.

Ketiganya bukan orang Kristen, bukan murid para rasul, bukan penulis Injil, dan tidak memiliki kepentingan sedikit pun untuk membela Gereja.

Namun, catatan mereka justru menguatkan pokok-pokok penting sejarah Yesus dan Gereja perdana.

I. Tacitus:

Kesaksian dari Lingkaran Elit Kekaisaran Romawi

(±56–120 M) adalah salah satu sejarawan terbesar yang pernah dimiliki Romawi.

Sebagai senator, mantan konsul, dan gubernur, ia memiliki akses terhadap arsip-arsip resmi negara.

Ia dikenal sebagai penulis yang kritis, teliti, dan berhati-hati dalam menyusun sejarah.

Sekitar tahun 116 M, dalam Annales XV.44, Tacitus menjelaskan bagaimana Kaisar Nero menimpakan kesalahan atas Kebakaran Besar Roma tahun 64 M kepada orang-orang Kristen.

Ia menulis:

"Christus, dari siapa nama itu berasal, dijatuhi hukuman mati oleh Pontius Pilatus pada masa pemerintahan Tiberius."

Kalimat yang singkat ini memuat sejumlah fakta sejarah yang sangat penting:

Kristus adalah tokoh sejarah yang nyata.

Nama "Kristen" berasal dari Kristus.

Kristus dihukum mati oleh Pontius Pilatus.

Peristiwa itu terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius.

Setelah kematian-Nya, gerakan Kristen tidak lenyap, tetapi justru berkembang hingga mencapai Roma.

Yang menarik, Tacitus sama sekali tidak bersimpati kepada Kekristenan. Ia bahkan menyebutnya sebagai superstitio exitiabilis ("takhayul yang merusak").

Karena itu, hampir mustahil ia sengaja menciptakan informasi yang justru memperkuat dasar historis agama yang ia pandang rendah.

II. Plinius Muda:

Bukti Penyembahan kepada Kristus Sejak Gereja Perdana

(±61–113 M) memberikan kesaksian yang berbeda, tetapi sama pentingnya.

Sebagai gubernur provinsi Bithynia-Pontus, ia menghadapi semakin banyak orang Kristen dan tidak mengetahui bagaimana hukum Romawi seharusnya memperlakukan mereka. 

Karena itu, sekitar tahun 112 M ia menulis surat kepada Kaisar Trajan.

Isi surat tersebut didasarkan pada penyelidikan resmi terhadap orang-orang Kristen yang ditangkap dan diinterogasi.

Menurut Plinius, mereka:

berkumpul sebelum matahari terbit;

menyanyikan himne kepada Kristus sebagai kepada Allah;

mengikat diri dengan sumpah untuk hidup jujur dan suci;

menolak pencurian, penipuan, perzinahan, dan segala bentuk kejahatan;

berkumpul kembali untuk makan bersama secara sederhana.

Kesaksian ini memiliki arti historis yang sangat besar.

Surat Plinius membuktikan bahwa pada awal abad kedua—ketika generasi para rasul baru saja berlalu—umat Kristen telah menyembah Yesus sebagai Tuhan.

Mereka telah memiliki bentuk ibadat yang teratur, kehidupan moral yang khas, serta komunitas yang terorganisasi.

Dengan demikian, klaim bahwa keilahian Yesus baru diciptakan berabad-abad kemudian tidak sesuai dengan bukti sejarah. Sumber Romawi sendiri menunjukkan bahwa penyembahan kepada Kristus sudah menjadi identitas Gereja sejak masa paling awal.

Jumat, 15 Juli 2022

Nias Hilisatarö dalam Potret Lawas

Map of Von Rosenberg 1854-1855

Hilisatarö yang di tepi sungai Gewa belum ada di Map ini. Yang ada adalah Bawösatarö ditepi sungai Sa'ua arah Telukdalam dan Hiliduha posisinya ditepi sungai Sa'ua arah Gunungsitoli. Cerita Hiliduha dan Hilisatarö pada awalnya Sambua Banua. 

Dalam peta Von Rosenberg 1857: Desa Bawö Satarö dan Desa Hili Duha masih mengapit sungai Sa'ua.
Bawö Za'ua dan Hili Satarö belum muncul di peta.

Peta Schroder 1910: Desa Bawö Satarö berubah menjadi Bawö Za'ua di lokasi yang sama sebelah selatan sungai Sa'ua arah Telukdalam.

Desa Hili Duha tetap dilokasi yang sama sebelah utara sungai Sa'ua arah Gunungsitoli.

Desa Hili Satarö muncul di peta Schroder 1910 di lokasi sebelah selatan sungai Gewa seperti posisi saat ini.

Peta Residenti Tapanoeli 1917:
Lokasi Desa Bawöza'ua, Hiliduha dan Hilisatarö tetap sama lokasinya seperti Peta Schroder 1910

Muncul desa Bawönifaoso, Bawödobara, Hiliganöwö, Hiliamaetaluo, Hilisatarö, Hilinamöniha, Bawöganöwö.

Peta Hindia 1944:
Posisi desa Bawoza'ua dan Hiliduha menghilang dari peta.
Posisi desa Hilisatarö tetap sama di lokasi yg sama seperti peta  Schroder 1910.



Sungai Gewa Hilisatarö tempodoeloe

Bawagöli Hilisatarö Tempo doeloe 

Kartu Pos Bawagöli Hilisatarö Tempo doeloe 


Pantai Walo Tohene'asi Hilisatarö tempodoeloe







Potret Studio seorang pria berbaju prajurit perang Nias Selatan Circa 1922  (Sumber : Collectie Wereldculturen)
 

                              Duwada Kanölö


Bawagoli Hilisataro tempodoeloe



Bawagöli Hilisatarö tempodoeloe
































Sabtu, 05 Februari 2022

ULRICH ZWINGLY


Zwingli dilahirkan pada tanggal 1 Januari 1484 di Wildhaus, Toggenburg, Swiss. Ayahnya adalah seorang pemuka dalam desa itu dan ibunya adalah saudara perempuan dari seorang imam. Ia memiliki tujuh saudara laki-laki dan dua orang saudara perempuan. Zwingli dididik dalam agama Katolik Roma oleh orangtuanya yang takut akan Allah. Sejak kecil Zwingli sudah memperlihatkan kesukaannya akan ilmu pengetahuan.

Pada umur 10 tahun ia dikirim ke Basel untuk belajar pada sebuah sekolah Latin, di mana ia belajar bahasa Latin, Musik dan Dialektika. Pada tahun 1498 ia memasuki Kolese Bern yang diasuh oleh seorang sarjana klasik terkenal di Swiss, yaitu Heinrich Wolflin. Sejak tahun 1500–1502 ia belajar pada Universitas Wina, yang menjadi pusat studi klasik pada masa itu. Di sini ia belajar filsafat Skolastik, astronomi, Fisika. Tujuannya yang utama adalah menjadi seorang humanisme.

Pada tahun 1502 ia kembali ke Basel dan mengajar bahasa Latin pada sekolah St. Martin dan sementara itu ia terus melanjutkan studinya, sehingga tahun 1506 ia meraih gelar MA. Kemudian ia dikenal dengan panggilan Master Ulrich. Kemudian ia ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Konstans serta menjadi imam di Glarus. Ia harus mengeluarkan uang seratus keping emas untuk memperoleh tempat itu. Ia bekerja di Glarus selama 10 tahun dan sementara itu ia belajar bahasa Yunani tanpa guru, sehingga Perjanjian Baru diselidiki dalam bahasa aslinya.

Pada waktu di Glarus, Zwingli berhubungan dengan Erasmus, seorang tokoh humanis Belanda yang pada waktu itu berdiam di Basel. Tahun 1515 ia mengunjungi Erasmus yang disebutnya sebagai seorang filosof dan theolog .

Zwingli mempunyai perhatian yang besar terhadap masalah-masalah umum. Tiga kali ia menjadi chaplain (imam khusus) tentara dalam peperangan besar antara Perancis dengan Paus Julius II dan Leo X. Swiss adalah gudang tentara sewaan bagi Paus. Dari pengalaman-pengalamannya di medan perang Zwingli melihat bangsanya menjual jiwanya untuk kepentingan negara asing. Kemudian Zwingli menjadi seorang tokoh yang terkemuka di Swiss yang menentang sistim tentara sewaan ini.

Pada tahun 1516 Zwingli meninggalkan Glarus dan pindah ke Einsiedeln. Ia mulai mendalami tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja, seperti Origenes, Ambrosius, Chrysostomus, Augustinus, dan lain-lain. Ia mulai menyerang kesewenang-wenangan Paus, penjualan surat Indulgensia, dan keburukan-keburukan lainnya dalam gereja. Ia mengajak umatnya untuk hanya menyembah Kristus dan bukan Maria, dan orang kudus lainnya. Banyak sejarawan yang mencatat bahwa reformasi Swiss telah dimulai tahun 1516, sebelum Luther di Jerman memulai gerakan reformasinya.

Kemudian Zwingli dipanggil menjadi imam di Zurich pada tahun 1518. la mulai berkhotbah menurut urutan kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Tujuannya adalah mengajarkan Kristus dari sumbernya dan menyatakan Kristus yang sejati dalam hati umat.

Di Zurich ia berhubungan dengan seorang biarawan Fransiscan yang menjual Surat Indulgensia, yang bernama: Bernhardin Samson. Zwingli memperingatkan umatnya untuk tidak membeli surat tersebut. Selama dua tahun pertama di Zurich ia bekerja tanpa mengalami tantangan. Magister Zurich pada mulanya mengambil sikap netral dan memerintahkan para imamnya di kota dan desa mengajarkan Kitab Suci. Pada tahun 1522 Zwingli mengkhotbahkan tentang larangan makan daging pada masa puasa tidak ada dasarnya dalam Kitab Suci. Ini membawa reaksi Uskup Constanz yang mengirim satu delegasi ke Zurich agar Zwingli menaati peraturan-peraturan puasa. Zwingli mempertahankan pendapatnya dengan menunjuk kepada I Korintus 8:8; 10:25; Kolose 2:16; 1 Timotius 4:1 dan Roma 14:1-3 dan 15:1, 2. Uskup Constanz menasihatkan pemerintah untuk melindungi Gereja Kudus dan mencegah tersebarnya ajaran-ajaran sesat. Sekarang kedudukan Zwingli menjadi sulit.

Bulan Juli 1522 Zwingli bersama 10 imam lainnya mengirim petisi kepada uskup agar supaya diberi kebebasan untuk mengajarkan Injil. Petisi ini tidak digubris, karena menurut uskup soal itu adalah hak Paus atau konsili. Beberapa imam menyatakan perlawanannya secara terbuka, yaitu dengan menikah. Zwingli sendiri menikah sejak tahun 1522 dan diumumkan kepada umum tahun 1524. Ia menikah dengan Anna Reinhart, seorang janda dari Hans von Knonau, ibu dari tiga orang anak. Musuh-musuhnya menuduh Zwingli menikah karena kekayaan janda itu.

Zwingli meminta kepada Dewan Kota agar diadakan perdebatan agama yang didasarkan pada Kitab Suci. Zwingli menerbitkan 67 artikel. Dalil-dalilnya menekankan bahwa hanya Kristus Juruselamat dan pengantara; menolak primasi kepausan; menolak misa; menolak pemujaan orang-orang kudus; puasa; selibat, api penyucian, dan sebagainya. Dalil-dalil itu antara lain: Siapa yang percaya akan Injil akan diselamatkan (artikel 15); Hanya Allah sendiri yang mengampuni dosa melalui Yesus Kristus (art 50); Kitab Suci tidak mengetahui sesuatu tentang api penyucian sesudah hidup (art 57); Kristus adalah satu-satunya pengantara antara Allah dan kita (art 19).

Perdebatan diadakan di Zurich, 1523. Zwingli mempertahankan dalildalilnya dan Dewan Kota menyatakan simpatik kepada ajaran-ajarannya. Zwingli diperintahkan untuk mengkhotbahkan Injil Kudus.

Segera sesudah itu terjadilah pembaharuan-pembaharuan. Banyak imam yang kawin; misa dan pemujaan kepada patung-patung dihapuskan; dan bahkan salib-salib dihancurkan. Ibadah dilaksanakan dalam bahasa setempat dan bukan dalam bahasa Latin.

Zwingli memang radikal terhadap penyembahan berhala, namun tidak suka kepada tindakan yang tidak teratur, sehingga ia meminta diadakan perdebatan untuk menetapkan soal patung-patung dan misa. Dalam perdebatan pada tahun 1524, maka diputuskan agar misa dan patung-patung dihapuskan. Perjamuan reformatoris dirayakan pada April 1525 untuk pertama kalinya. Bagi Zwingli perjamuan adalah suatu perjamuan peringatan akan kematian dan kebangkitan Kristus. Perjamuan Kudus dirayakan empat kali setahun. Di Zurich dibuka sebuah sekolah theologia yang bernama Carolinum, tahun 1525. Dengan demikian tahun 1525 reformasi sudah selesai di Zurich. Dalam ke-67 artikelnya nampaklah pandangan-pandangan theologianya. Ia berpendapat bahwa Alkitab cukup untuk mengajarkan tentang keselamatan sehingga tidak perlu ditambah dengan tradisi . Kristus adalah satu-satu..ya Juruselamat dan Pengantara antara manusia dan Allah, sehingga pengantaraan orang-orang kudus tidak perlu. Kristus adalah kepala gereja yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Ia juga menekankan bahwa Firman Allah yang terdapat dalam kitab Suci, terutama Perjanjian Baru, adalah satu-satunya petunjuk untuk iman dan praktek kekristenan.

Zwingli percaya bahwa anak-anak yang meninggal masih bayi akan diselamatkan sekalipun belum dibaptis, serta orang-orang kafir yang mengasihi kebenaran dalam kehidupan ini akan memperoleh keselamatan. Reformasi berkembang dari Zurich ke kota-kota lainnya. Perkembangan yang berpucuk

ini menimbulkan ketegangan kepada peperangan antara kotakota Katolik dengan kota-kota reformatoris pada tahun 1529. Golongan reformatoris dipimpin oleh Zwingli. Peperangan berakhir dengan kekalahan pihak reformatoris pada tahun 1531. Zwingli mati dalam pertempuran di Kappel.

Sumber : 

* Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja

   ( Dr. F.D. Wellem, M.Th.)

* Wikipedia

Ket gambar: 

*Portrait of Ulrich Zwingli (1484-1531)

*Gereja Grossmünster di Zürich

Di salin dan di sadur oleh Raymond Pilander

Hilisataro tempo doeloe

Hilisataro tempo doeloe