Sabtu, 23 Agustus 2014

Sejarah Singkat Kekristenan di Timur Tengah

Peta populasi orang Kristen di Timur Tengah. (Sumber: bbc.co.uk)
SATUHARAPAN.COM – Pengusiran orang Kristen di Mosul, Irak oleh Khalifah Islam Irak-Suriah serta peran aktif Gereja Saint Porphyrius di Gaza dalam menolong pengungsi Muslim Palestina mungkin membuat kita penasaran asal mula munculnya orang Kristen ada di kawasan Asia Barat Daya (atau lazim disebut sebagai Timur Tengah).
Sebenarnya sebagian besar lokasi kisah-kisah dalam Injil ada di Timur Tengah. Yesus lahir di Betlehem—kini ada di kawasan Negara Palestina. Dibesarkan di Nazaret—kini ada di Israel dan mati di Yerusalem—kini disebut Yerusalem Timur. Menurut Kitab Matius, Yesus kanak-kanak sempat mengungsi ke Mesir, Afrika. Ada petilasan di Kairo yang didedikasikan kepada keluarga Kudus ini.
Setelah Yesus naik ke surga, murid-murid-Nya menyebar ke penjuru dunia. Kisah Para Rasul mencatat kejadian yang menarik. Pada Pasal 2:7-11 tertulis, “Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, ‘Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa tempat kita dilahirkan; kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libya yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.’”
Setidaknya ada 15 bangsa dan negara disebutkan dalam lima ayat tersebut. Partia, Media, Mesir, dan Libya adalah daerah-daerah yang membentang dari Timur Tengah hingga Afrika bagian utara. Secara spesifik disebut juga etnis Arab dalam cerita tentang pencurahan Roh Kudus pada perayaan Pentakosta tersebut.
Jika Paulus menyebarkan Injil Kristus mengarah ke Barat, ke pusat pemerintahan Romawi—kota Roma—dan akhirnya menyebar ke seluruh Eropa. Rasul-rasul dicatat menyebarkan kekristenan ke Timur. Matius dikenal sebagai penyebar kekristenan di Suriah dan Persia (Partia—kini Iran), Thomas dikenal menyebarkan Injil sampai ke India. Rasul Filipus sangat dihormati di kalangan Kristen di Gaza dan Ethiopia.
Setelah penganiayaan para pengikut Kristus meningkat seiring dengan kematian Yesus Kristus—juga kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga—pusat kekristenan bergeser ke Antiokhia. Sebuah kota metropolitan di kekaisaran Roma. Kini Antiokhia dikenal sebagai Antakya yang terletak di perbatasan Turki dan Suriah.
Banyak di antara gereja-gereja di Timur mengaku sebagai anak gereja dari Gereja Antiokhia ini. Misalnya Gereja Ortodoks Siria (kini dianut banyak orang Kristen Suriah, Irak, dan Iran), Gereja Khaldean (banyak dianut penduduk Mosul Irak), Gereja Ortodoks Yunani (mayoritas penganut ada di Turki, Palestina, Yordania), Gereja Koptik di Mesir dan Ethiopia, dan Gereja Armenia (banyak dianut di Iran dan Armenia).
Pada abad keenam, lahirlah agama Islam di jazirah Arab dan dianut oleh suku-suku di daerah itu. Agama baru ini membawa kesatuan warga di wilayah yang selama ini dirundung pertikaian. Seiring dengan perluasan kekhalifahan kondisi ini memengaruhi gereja-gereja-gereja di kawasan Timur Tengah walaupun tidak ada pemaksaan untuk menganut kepercayaan baru. Sebab, Islam menghormati Yesus sebagai salah satu nabi Allah.
Namun, keadaan menjadi berat bagi kekristenan Timur Tengah terutama oleh perkembangan teologi Kristen dan timbul berbagai mazhab yang diperparah dengan persaingan antara gereja Timur dan Barat. Pada 1054, gereja yang berpusat di Roma dan yang berpusat di Konstantinopel (kini Istanbul—Turki) memutuskan untuk berpisah. Selain karena dogma yang berbeda juga karena persaingan kekuasaan antara Uskup Roma (Paus) dan Uskup Konstantinopel. Namun, pada 2025 akan diselenggarakan Konsili Nicea untuk menyatukan Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Yunani.
Tidak lama setelah pemisahan tersebut, terjadi Perang Salib—perang perebutan wilayah antara kerajaan-kerajaan di Eropa melawan Khalifah Islam. Perang-perang tersebut benar-benar menyengsarakan orang-orang Kristen di Timur Tengah.
Bagi orang Kristen Timur Tengah, Perang Salib tidak membawa keuntungan apa pun. Di mata prajurit Barat orang Kristen Timur Tengah adalah mereka yang menyimpang dari ajaran yang benar terutama karena mereka tidak menerima otoritas Paus.
Terjadi pembunuhan besar-besaran baik atas orang-orang Islam maupun atas orang-orang Kristen Timur Tengah, antara lain di Antiokhia (1098), Yerusalem (1099), Kaisarea (1101), Beirut (1110), Edessa (1146), Yerusalem (1244), Antiokhia (1268), Tripoli (1289), Akko (1291), dan Aleksandria (1365).
Akibat lainnya adalah hubungan antara orang Kristen Timur Tengah dengan penguasa Islam setempat. Sebab, mereka dicurigai sebagai orang yang dahulu pernah mendukung musuh—pasukan Salib karena dianggap seagama—kondisi ini yang masih terus terjadi hingga masa modern ini.
Dua Perang Dunia Makin Menyengsarakan
Berakhirnya Perang Dunia Pertama yang ditandai dengan runtuhnya Kekhalifahan Ustmaniyah (Kekaisaran Ottoman Turki) membawa korban di antara orang Kristen Timur Tengah.
Ustmaniyah menanggapi kekalahannya melawan Rusia di Armenia dan Kaukasus, dengan menyerang minoritas Armenia yang mayoritas menganut agama Kristen. "Ada dua alternatif: Armenia akan melibas Turki, atau Turki akan melibas mereka," tulis pejabat Ustmaniyah Mehmed Resid dalam memoarnya.
"Dihadapkan dengan kebutuhan untuk memilih, saya tidak lama ragu-ragu. Sebelum mereka melakukan dulu kepada kami, kami akan menyingkirkan mereka."
Sebanyak dua ribu pemimpin Armenia ditangkap dan dibantai di Istanbul pada 24 April 1915. Peristiwa ini digambarkan sebagai genosida pertama abad ke-20. Meskipun negara Turki saat ini membantah istilah itu.
Dalam kurang dari satu tahun, ratusan ribu dipaksa mengungsi, harta benda mereka disita, dan banyak dari mereka tewas.
Armenia didukung banyak sejarawan dan sejumlah parlemen asing menyebutkan hingga 1,5 juta orang Armenia dibunuh secara sistematis di hari-hari terakhir Kesultanan Ottoman. Bersamaan dengan itu juga terjadi genosida terhadap orang-orang Yunani dan Asyiria—mereka juga menganut Kristen—di wilayah Ustmaniyah. Wilayah Kekaisaran Ottoman menjadi koloni pemenang perang: Inggris dan Prancis.
Mendekati dan setelah Perang Dunia II usai, negara-negara koloni Inggris dan Prancis memberontak dan menetapkan kemerdekaanya. Mesir, Lebanon, Yordania, Irak, dan Siprus. Kemerdekaan bangsa-bangsa tersebut seiring dengan meningkatnya kesadaran nasionalisme Arab.
Kristen Timur Tengah Kini
Seiring meningkatnya ekstremisme penganut Islam di daerah itu dan campur tangan terlalu dalam pihak Barat—yang banyak didasari kepentingan ekonomi—penganiayaan terhadap komunitas Kristen di Timur Tengah makin berat. Ada yang mengatakan bahwa penganiayaan ini belum pernah terjadi bahkan saat masa kekhalifahan Ustmaniyah.
Sumber:
  • F.D. Wellem. Hidupku Bagi Kristus. Jakarta. BPK Gunung Mulia
  • Van den End. Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam. Jakarta. BPK Gunung Mulia
  • Anton Wessels. Arab dan Kristen. Jakarta. BPK Gunung Mulia
  • Anne Ruck. Sejarah Gereja Asia. Jakarta. BPK Gunung Mulia
  • Brink H.V.D. 1967. Tafsir Alkitab Kisah Para Rasul. Jakarta. BPK Gunung Mulia

Konflik Gaza, Mengapa Ada Orang Kristen Dukung Israel?

• Zionisme awalnya sekadar kultural, tetapi berganti jadi zionisme politik hingga berdiri Israel. Tapi tidak semua Yahudi mendukung zionisme.
• Negara Israel berdiri dipaksakan, didukung teologi fundamentalis dan zionisme Kristen AS.
• Teologi zionisme Kristen masuk ke Indonesia melalui gereja-gereja Injili, Pentakostal, Karismatik dan merasuk ke warga gereja mainstream.
• Tanah Perjanjian orang Kristen adalah tempat mereka berpijak, bukan di Israel.
• Orang Kristen Indonesia harus mengecam penindasan yang dilakukan Israel.
Konflik Gaza, Mengapa Ada Orang Kristen Dukung Israel?
Yonky Karman, penulis Buku Tafsir Kitab Perjanjian Lama, Ruth, terbitan BPK Gunung Mulia. (Foto: Bayu Probo)
Mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur membawa poster saat aksi di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (11/7) malam. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kecaman terhadap serangan Israel ke Palestina. (Foto: Antara)

SATUHARAPAN.COM – Konflik antara pasukan Israel dan kelompok Hamas sudah berlangsung hampir dua bulan, tetapi tidak menunjukkan tanda berhenti. Ini berpengaruh di Indonesia karena negara ini mendukung perjuangan Palestina. Tetapi, ada fenomena, beberapa orang Kristen Indonesia cenderung ragu-ragu mendukung perjuangan rakyat Palestina. Apa sebab?
Untuk itu, satuharapan.com mewawancarai pakar teologi Perjanjian Lama, Yonky Karman. Ditemui di sebuah kafe di wilayah Jakarta Selatan, akhir bulan lalu, dosen STT Jakarta ini menjelaskan panjang lebar sejak munculnya zionisme hingga merasuknya zionisme di warga gereja.
Satuharapan.com: Bagaimana munculnya zionisme?
Yonky Karman: Pandangan tentang Sion (yang menjadi Zionisme) memang berlatar belakang di Perjanjian Lama dan dalam tradisi Yahudi. Orang Yahudi selalu merasa akar tradisi mereka ada di Sion—atau Yerusalem. Sebab, sejak awal mereka dilarang masuk ke Yerusalem sejak Romawi dipimpin  Kaisar Kristen.
Kristen makin bertumbuh di kekaisaran Romawi dan suatu saat Kaisar Kristen dan gereja bersekutu dengan negara. Dan, gereja mengklaim sebagai Israel baru, suatu istilah yang tidak muncul di Alkitab. Dan menganggap Israel lama yang duniawi dan daging dan bukan lagi umat. Jadi, gereja menganggap Israel baru adalah orang Kristen.
Orang Yahudi jadi terpencar-pencar. Pada masa itu, kekristenan sangat kuat. Sampai-sampai orang Kristen dilarang berbincang dan makan bersama dengan Yahudi. Bergaul dengan orang Yahudi saja sudah sesat. Selama belasan abad, orang Yahudi terpencar-pencar, di Eropa, Afrika, Jazirah Arab dan belakangan di Amerika Serikat.
Mereka semua yang terpencar punya pikiran bahwa Sion—atau Yerusalem—sebagai tanah leluhur. Sampai-sampai kalau bisa mereka ingin mati dan dikubur di Sion. Jadi sampai-sampai ada orang Yahudi yang memberi pesan kepada orang yang sempat ke Yerusalem untuk mengambil tanah di Yerusalem. Supaya saat mereka mati—misal di Rumania—tanah pekuburan mereka dicampur dengan tanah Yerusalem. Namun, cuma sebatas itu. Mereka tidak berpikir untuk mendirikan negara Israel.
Namun penganiayaan kepada kaum Yahudi meningkat. Sehingga pada abad ke-12, keberadaan Yahudi di negara-negara Kristen Eropa menjadi bulan-bulanan penguasa. Mirip orang Tionghoa zaman Soeharto yang juga selalu menjadi target kebencian disebar oleh penguasa. Di Spanyol dan di Portugal dikeluarkan peraturan kepada orang Yahudi harus jadi Kristen. Jadi, ada orang Yahudi yang jadi Kristen, tetapi diam-diam memelihara tradisi mereka. Dan ada juga yang memilih keluar dari negara Spanyol dan Portugal ke bagian Timur Eropa. Terjadi gelombang eksodus.
Satuharapan.com: Ada pengaruh konsep agama?
Yonky Karman: Gereja Katolik punya doa-doa yang dibakukan (Misalnya dalam Improperia dan Oremus et pro Iudaeis, Red) yang di dalamnya tertulis “terkutuklah orang Yahudi yang telah membunuh Tuhan kita”. Doa-doa ini dicabut pada abad ke-20 setelah Perang Dunia II, setelah terjadi holocaust. Jadi, perintah pengusiran dan pemaksaan orang Yahudi menjadi Kristen ini bisa jadi didasari oleh proposal bahwa Yahudi harus bertanggung jawab pada penyaliban Yesus.
Puncak penganiayaan terhadap orang Yahudi adalah pada Nazi, Hitler. Kalau pada kasus Hitler, akarnya adalah kecemburuan sosial. Orang-orang Yahudi selain eksklusif, mereka berhasil dalam bisnis. Mereka menguasai bank-bank. Yang paling mencolok adalah Hitler kecil waktu di negaranya banyak orang yang antre roti—karena mengalami kekalahan perang dunia I dan terimbas resesi dunia. Tidak ada orang Yahudi yang antre roti. Semua orang Yahudi makmur. Ia mengkambinghitamkan keruntuhan ekonomi Jerman pada orang-orang Yahudi. Dalam kampanye politiknya, Hitler membangkitkan semangat orang Jerman, tetapi sekaligus menjadikan orang Yahudi sebagai kambing hitam. Jadi, semua rangkaian kebencian pada Yahudi puncaknya pada Hitler.
Satuharapan.com: Lalu?
Yonky Karman: Awalnya zionisme lebih bersifat kangen-kangenan dengan leluhur, sifatnya lebih kultural. Zionisme sebagai gerakan baru muncul pada akhir abad ke-19. Pendirinya dari Austria, seorang wartawan, Theodore Herzl. Dia yang menggagas perlunya negara Israel, tetapi gagasan itu tidak bersambut. Orang Yahudi tidak melihat itu perlu. Sehingga zionisme waktu itu yang berkembang adalah zionisme kultural . Zionisme kultural didukung oleh filsuf Martin Buber. Zionisme kultural ke cita-cita humanisme Ibrani.
Mereka percaya agama Yahudi humanistik. Dan mereka ingin menyebarkan itu ke seluruh dunia. Itu sebabnya Martin Buber mendukung ini hingga ia pindah ke Yerusalem dan mati di sana. Zionisme kultural dan politik berjalan bersama.
Setelah Perang Dunia II, orang Yahudi berpikir, “Percuma menjadi warga negara Belanda, Jerman, Prancis, Austria. Kita malah dianiaya di negara tempat kita tinggal. Kita harus punya negara yang membela kita.” Dari situ zionisme politik tumbuh mulai sejak 1948. Akhirnya yang dipilih adalah Palestina, yang waktu itu mayoritas penghuninya adalah Arab Palestina, 90%. Komunitas kedua adalah Yahudi Palestina dan terakhir adalah komunitas Kristen Palestina.
Jadi, datanglah orang-orang Yahudi dari Eropa ke Palestina. Dengan senjata. Dengan cara menduduki satu desa dengan dibumihanguskan, membunuh, dan mengusir penduduknya (Misalnya di Deir Yassin—9 April 1948 dan Lydda—11 Juli 1948, Red). Sebagian dibiarkan lari ke desa lain dan penduduk desa lain ketakutan dan kabur. Lalu, desa kosong itu diduduki. Datanglah imigran-imigran itu.
Martin Buber kecewa dengan kondisi ini. Begitu zionisme menjadi politis dan dengan kekerasan. Itu bertentangan dengan cita-cita kemanusiaan Martin Buber. Keluar dari gerakan zionis sebagai bentuk protes Martin. Negara Israel yang pertama-tama didirikan di atas konstitusi sekuler. Israel zaman Daud dan Salomo adalah negara teokratis—negara agama. Konstitusinya adalah Taurat. Israel modern adalah negara sekuler dengan prinsip demokrasi. Tentu saja bekas-bekas Israel teokratis masih ada, misalnya penghormatan terhadap Hari Sabat. Namun, cara hidup masyarakat Israel mirip orang Eropa, sekuler.
Satuharapan.com: Mengapa Muncul Zionisme Kristen?
Berdirinya negara Israel dipaksakan. Itu berdiri karena didukung oleh Amerika Serikat dan didukung Eropa yang merasa bersalah dengan kejadian Hitler. Kompensasi Eropa adalah dengan mendukung berdirinya Israel . Rusia juga mendukung karena banyak warga Yahudi tinggal di Rusia.
Warga Yahudi yang melakukan emigrasi ke Palestina adalah Yahudi miskin. Yahudi dari Amerika paling-paling hanya berkunjung. Tinggal di kibbutz-kibbutz merasakan hidup di Palestina. Setelah itu orang Amerika balik lagi dan bercerita bahwa mereka sudah merasa menjadi Yahudi sejati. Orang Amerika jarang yang mau tinggal. Yang emigrasi dari Eropa Timur. Mereka dibiayai termasuk rumah-rumah mereka.
Untuk itu mereka membutuhkan bantuan dari seluruh komunitas Yahudi. Apa yang bisa menyatukannya? Konsep zionisme. Itu yang menyatukan seluruh Yahudi untuk mendukung.
Bagaimana secara politik tidak terganggu oleh negara besar? Atau malah didukung. Mereka tahu Kristen fundamentalis AS sangat pro dengan berdirinya Israel. Dengan alasan penggenapan Perjanjian Lama, Yesus akan datang ke Yerusalem.
Pemikiran Kristen fundamentalis Kristen jauh ada sebelum zionisme politik ada. Fundamentalisme Kristen baru kelihatan jelas setelah teologi modern ini berkembang. Fundamentalis Kristen membaca Alkitab lebih harfiah. Misalnya yang mengutuk Israel akan dikutuk. Padahal itu konteksnya di Perjanjian Lama, Bileam (Bil. 22). Jadi, apa hubungannya dengan yang sekarang?
Bahkan Presiden kedua AS, John Adams pun mendukung orang Yahudi kembali ke Palestina. “Saya sangat berharap orang Yahudi di Yudea lagi dan mempunyai negara merdeka,” ucapnya  pada 1818.
Dari dulu sudah ada kaum fundamentalis. Ketika muncul Israel, cara membaca Alkitab secara harfiah ini menjadi isu politik internasional. Cara pandang fundamentalis ini tentang Yahudi belum muncul pada zaman Martin Luther. Sebab, pada masa tua Martin Luther mengungkapkan bahwa orang Yahudi layak dijadikan sebagai pekerja paksa. Padahal, pada masa muda Luther menyarankan agar orang Kristen bersikap baik kepada kaum Yahudi dan berharap mereka melihat teladan Kristus dalam diri orang Kristen tersebut. Namun, saat tua Luther bersikap keras kepada anabaptis, Katolik, dan Yahudi yang keras.
Kalau orang Kristen ekumenis memandang Alkitab bukan firman Allah, melainkan tulisan sakral dari orang yang percaya kepada Allah. Harus dipandang seperti teks-teks kuno. Yang penting diambil intisarinya. Kalau fundamentalisme Kristen menganggap Alkitab sebagai firman Allah, titik.
Pandangan terhadap Yesus juga sebagai orang yang berdosa harus mempercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Kalau orang Kristen ekumenis memandang Yesus sebagai teladan. Namun itu masih di lingkungan gereja.
Ketika gerakan fundamentalis dikaitkan ke isu Israel. Orang Kristen ekumenis akan cenderung mengecam tindakan Israel. Berdasarkan kemanusiaan. Namun, yang Kristen fundamentalis, misalnya Billy Graham, George Bush, dan banyak anggota Partai Republik yang dipengaruhi pandangan bahwa Israel adalah umat Allah, maka apakah caranya dengan kekerasan atau melanggar HAM, itu tidak penting. Ini adalah penggenapan. Ini rencana Tuhan.
Maka, orang Yahudi tahu bahwa di AS ada perbedaan pandangan di antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Demokrat sangat berkepentingan dengan penegakan HAM. Republik, isu-isu agama. Karena tahu AS disetir dua kekuatan itu, kaum zionis mendirikan lembaga lobi Kongres (DPR AS) dengan kekuatan ribuan staf. Ini organisasi lobi, tetapi pegawainya begitu banyak. Mereka melobi supaya jangan sampai kebijakan AS tidak merugikan Israel. Efeknya, bantuan AS ke luar negeri, Israel mendapat yang paling besar. Padahal, kini kekuatan Israel adalah keempat terbesar di dunia. Nuklir Israel tidak pernah dipersoalkan oleh AS.
Namun, tidak semua orang Yahudi mendukung zionisme. Ada wartawan New York Times, Thomas L. Friedman—penulis The World Is Flat: A Brief History of the Twenty-First Century— ia adalah wartawan yang ditugaskan di Yerusalem. Dalam bukunya From Beirut to Jerusalem, ia menulis tentang organisasi Palestina, Yasser Arafat. Friedman dalam tulisannya pernah mengkritik kuatnya organisasi lobi ini di Kongres AS. Organisasi lobi ini melobi kubu Republik.
Satuharapan.com: Bagaimana zionisme Kristen masuk Indonesia?
Yonky Karman: Di situlah masuk aliran kaum Injili masuk ke Indonesia. Kebanyakan pro-Israel karena panutannya Billy Graham—seorang tokoh yang sangat dihormati di kalangan gereja Injili/evangelical. Gereja-gereja mainstream Indonesia yang bersifat ekumenis—misalnya GKJ, GKI, HKBP, GPIB memang tidak termasuk Injili. Hanya sayang, di gereja  pendetanya lulusan sekolah teologi mainstream—STT Jakarta, Universitas Kristen Duta Wacana misalnya—tidak mungkin mereka memiliki pandangan literer terhadap Alkitab, jemaatnya punya pandangan lain. Saya mendapati di antara warga gereja mainstream Indonesia secara teologis pandangan tentang Israel sama dengan pandangan kaum Injili.
Pandangan ini dipanas-panasi beberapa agen perjalanan dengan tujuan Israel dengan pandangan bahwa orang Islam punya ‘tanah suci’, mana orang Kristen? Bahkan ada yang membeli tanah di Yerusalem sehingga saat Yesus datang untuk kedua kali, ia adalah orang pertama yang dibangkitkan dari orang mati dan bertemu Yesus.
Kalau kita lihat di Perjanjian Baru, tidak ada ucapan Yesus yang menghidup-hidupkan bangkitnya negara Israel. Setelah kerajaan Yehuda tamat sekitar 587/586 sM dan penduduknya dibuang ke Babel. Babel lalu dikalahkan Persia—dipimpin Raja Koresh, 70 tahun kemudian Lalu, Raja Koresh memberi izin untuk orang Yahudi kembali ke Yerusalem. Lalu, Nehemia dan Ezra pulang dan membangun Yerusalem.
Yang disebut Yehuda adalah provinsi kecil yang meliputi Yerusalem plus kampung-kampung di sekitarnya. Setelah itu tidak pernah lagi Yehuda seluas seperti pada masa Daud dan Salomo. Selama zaman Persia, dijadikan salah satu provinsi. Saat Persia dikalahkan Yunani, provinsi ini menjadi di bawah Yunani. Tentang perjuangan keluarga Makabe, sebenarnya bukan perjuangan kemerdekaan, melainkan lebih pada perjuangan untuk mendapatkan hak menjalankan ibadah Yahudi tanpa campur tangan pihak lain.
Kalau ada sedikit sempalan Yahudi yang ingin merdeka, seperti Kaum Zelot, itu kecil. Jadi, saat pemerintahan Romawi, orang-orang Yahudi di Yerusalem cukup puas karena mendapat hak pemerintahan semi otonom. Selain hukum Romawi, provinsi Yehuda diizinkan menjalankan hukum berdasarkan agama Yahudi.
Jadi, pada saat Yesus diadili, di hadapan hukum Romawi, Yesus tidak didapati satu kesalahan pun. Namun, ia dinyatakan bersalah oleh hukum agama. Karena di Yerusalem berlaku dua hukum ini. Saat hukum agama dijatuhkan, Pontius Pilatus tidak dapat berbuat apa-apa. Dari akar Yehuda—atau provinsi Yudea pada zaman Yesus—zionis berkembang.
Jadi, yang menjadi masalah adalah pemerintah zionis ini pandai memainkan isu agama. Sebab, saat isu agama dimainkan maka mereka akan mendapat dukungan dari orang Kristen. Juga, mendapat devisa. Oleh karena itu isu ini sangat dipelihara.
Satuharapan.com: Apa pandangan Alkitab?
Yonky Karman: Dalam Perjanjian Baru, Yesus tidak berurusan lagi dengan kebangkitan negara Israel. Paulus juga tidak. Dalam ajaran mereka, Tanah Perjanjian adalah tempat orang Kristen berpijak. Misalnya, di Efesus (baca Efesus 3)—orang-orang Kristen di Efesus menjadi ahli waris Kerajaan Allah di mana pun mereka tinggal.
Seharusnya gereja mengembangkan konsep itu. Tanah itu bukan lagi Tanah Perjanjian yang bersifat duniawi, melainkan menjadi ciptaan baru (baca Rm. 8:17-25) yang berarti di mana pun orang Kristen berpijak, itulah tanah Perjanjiannya. Dikuatkan dengan Yeremia 29:7, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”
Satuharapan.com: Zionisme Kristen Tidak Alkitabiah?
Yonky Karman: Jika kita bilang zionisme Kristen tidak alkitabiah, tidak bisa juga. Karena Alkitab bisa dibaca harfiah atau dibaca secara kritis. Karena cara membacanya berbeda. Kita tidak bisa menyalahkankan teologi zionis Kristen, sebab ini masalah keyakinan. Keyakinan ini menjadi salah dan benar jika sudah masuk ruang publik. Pernah ada beberapa orang Kristen Indonesia hendak merayakan hari kemerdekaan Israel, ini sangat tidak bijaksana. Orang Kristen yang kritis seharusnya juga berbicara.
Umat Kristen Indonesia jika sungguh-sungguh menghormati  keindonesiaannya, bahwa dia orang Indonesia pertama-tema, dalam berkonstitusi, kita tidak menghendaki penjajahan. Dalam kasus ini jelas Israel menjajah Palestina. Tidak perlu kita menjadi Kristen atau Islam, cukup menjadi manusia untuk memahami di tanah Palestina yang terjadi adalah penindasan.
Kondisi ini bukan lagi tidak lagi gigi ganti gigi—seperti ajaran Taurat, tetapi ini situasi ini adalah gigi ganti nyawa. Jelas-jelas orang Yahudi melanggar Taurat.

Hilisataro tempo doeloe

Hilisataro tempo doeloe