Kebon Raya Bogor
Saya pernah mendengar seseorang berkata, "Masalahnya ada pada kata 'pribadi'. Bukankah lebih baik kita menggantinya dengan 'relasi' supaya orang tidak salah paham tentang Tritunggal?" Kedengarannya masuk akal. Bahkan terdengar seperti solusi yang elegan.
Namun, benarkah demikian?
Bayangkan jika setiap istilah teologi dihapus hanya karena sering disalahpahami. Bukankah "Anak Allah" juga berkali-kali disalahartikan? Bukankah "Anak Manusia" juga sering dipelintir? Apakah gereja lalu harus mengganti semua istilah itu? Tentu tidak. Tugas gereja bukan mengubah bahasa iman agar sesuai dengan kesalahpahaman manusia, melainkan mengajar umat memahami kebenaran sebagaimana Alkitab menyatakannya.
Sejak berabad-abad lalu, gereja merumuskan iman berdasarkan seluruh kesaksian Kitab Suci: satu hakikat (mia ousia), tiga pribadi (treis hypostaseis). Rumusan ini bukan hasil spekulasi filsafat, melainkan benteng yang menjaga gereja agar tidak jatuh ke dalam dua kesesatan sekaligus: menganggap Allah tiga allah (politeisme) atau menganggap Bapa, Anak, dan Roh Kudus hanyalah satu Pribadi yang berganti-ganti peran (modalisme).
Mengapa kata pribadi tetap dipertahankan?
Karena Alkitab tidak berbicara tentang relasi yang abstrak. Bapa mengasihi Anak. Anak berdoa kepada Bapa. Roh Kudus menghibur, mengajar, dan bersaksi tentang Kristus. Semua itu adalah tindakan personal. Relasi memang ada di dalam Tritunggal, tetapi relasi tidak pernah menggantikan pribadi.
Lalu muncul keberatan lain: "Trinitas tidak ada di Alkitab." Benar, katanya tidak ada. Tetapi ajarannya ada di setiap lembar Kitab Suci. Alkitab menyatakan Bapa adalah Allah. Anak adalah Allah. Roh Kudus adalah Allah. Pada saat yang sama, Alkitab dengan tegas berkata, Allah itu esa. Gereja tidak menciptakan doktrin baru. Gereja hanya merangkum seluruh data Alkitab dengan setia.
Di sinilah keindahan teologi Reformed. Kita tidak membangun doktrin dari satu ayat yang berdiri sendiri, melainkan membiarkan seluruh Alkitab menafsirkan seluruh Alkitab. Ketika semua potongan wahyu disatukan, kita tidak menemukan tiga allah, juga bukan satu pribadi dengan tiga topeng. Kita menemukan satu Allah yang kekal, yang menyatakan diri sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar