Peta populasi orang Kristen di Timur Tengah. (Sumber: bbc.co.uk)
SATUHARAPAN.COM – Pengusiran orang Kristen
di Mosul, Irak oleh Khalifah Islam Irak-Suriah serta peran aktif Gereja
Saint Porphyrius di Gaza dalam menolong pengungsi Muslim Palestina
mungkin membuat kita penasaran asal mula munculnya orang Kristen ada di
kawasan Asia Barat Daya (atau lazim disebut sebagai Timur Tengah).
Sebenarnya sebagian besar lokasi kisah-kisah dalam Injil ada di Timur
Tengah. Yesus lahir di Betlehem—kini ada di kawasan Negara Palestina.
Dibesarkan di Nazaret—kini ada di Israel dan mati di Yerusalem—kini
disebut Yerusalem Timur. Menurut Kitab Matius, Yesus kanak-kanak sempat
mengungsi ke Mesir, Afrika. Ada petilasan di Kairo yang didedikasikan
kepada keluarga Kudus ini.
Setelah Yesus naik ke surga, murid-murid-Nya menyebar ke penjuru
dunia. Kisah Para Rasul mencatat kejadian yang menarik. Pada Pasal
2:7-11 tertulis, “
Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu
berkata, ‘Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?
Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam
bahasa kita sendiri, yaitu bahasa tempat kita dilahirkan; kita orang
Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus
dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libya yang
berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang
Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita
mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang
perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.’”
Setidaknya ada 15 bangsa dan negara disebutkan dalam lima ayat
tersebut. Partia, Media, Mesir, dan Libya adalah daerah-daerah yang
membentang dari Timur Tengah hingga Afrika bagian utara. Secara spesifik
disebut juga etnis Arab dalam cerita tentang pencurahan Roh Kudus pada
perayaan Pentakosta tersebut.
Jika Paulus menyebarkan Injil Kristus mengarah ke Barat, ke pusat
pemerintahan Romawi—kota Roma—dan akhirnya menyebar ke seluruh Eropa.
Rasul-rasul dicatat menyebarkan kekristenan ke Timur. Matius dikenal
sebagai penyebar kekristenan di Suriah dan Persia (Partia—kini Iran),
Thomas dikenal menyebarkan Injil sampai ke India. Rasul Filipus sangat
dihormati di kalangan Kristen di Gaza dan Ethiopia.
Setelah penganiayaan para pengikut Kristus meningkat seiring dengan
kematian Yesus Kristus—juga kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga—pusat
kekristenan bergeser ke Antiokhia. Sebuah kota metropolitan di
kekaisaran Roma. Kini Antiokhia dikenal sebagai Antakya yang terletak di
perbatasan Turki dan Suriah.
Banyak di antara gereja-gereja di Timur mengaku sebagai anak gereja
dari Gereja Antiokhia ini. Misalnya Gereja Ortodoks Siria (kini dianut
banyak orang Kristen Suriah, Irak, dan Iran), Gereja Khaldean (banyak
dianut penduduk Mosul Irak), Gereja Ortodoks Yunani (mayoritas penganut
ada di Turki, Palestina, Yordania), Gereja Koptik di Mesir dan Ethiopia,
dan Gereja Armenia (banyak dianut di Iran dan Armenia).
Pada abad keenam, lahirlah agama Islam di jazirah Arab dan dianut
oleh suku-suku di daerah itu. Agama baru ini membawa kesatuan warga di
wilayah yang selama ini dirundung pertikaian. Seiring dengan perluasan
kekhalifahan kondisi ini memengaruhi gereja-gereja-gereja di kawasan
Timur Tengah walaupun tidak ada pemaksaan untuk menganut kepercayaan
baru. Sebab, Islam menghormati Yesus sebagai salah satu nabi Allah.
Namun, keadaan menjadi berat bagi kekristenan Timur Tengah terutama
oleh perkembangan teologi Kristen dan timbul berbagai mazhab yang
diperparah dengan persaingan antara gereja Timur dan Barat. Pada 1054,
gereja yang berpusat di Roma dan yang berpusat di Konstantinopel (kini
Istanbul—Turki) memutuskan untuk berpisah. Selain karena dogma yang
berbeda juga karena persaingan kekuasaan antara Uskup Roma (Paus) dan
Uskup Konstantinopel. Namun, pada 2025 akan diselenggarakan Konsili
Nicea untuk menyatukan Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Yunani.
Tidak lama setelah pemisahan tersebut, terjadi Perang Salib—perang
perebutan wilayah antara kerajaan-kerajaan di Eropa melawan Khalifah
Islam. Perang-perang tersebut benar-benar menyengsarakan orang-orang
Kristen di Timur Tengah.
Bagi orang Kristen Timur Tengah, Perang Salib tidak membawa
keuntungan apa pun. Di mata prajurit Barat orang Kristen Timur Tengah
adalah mereka yang menyimpang dari ajaran yang benar terutama karena
mereka tidak menerima otoritas Paus.
Terjadi pembunuhan besar-besaran baik atas orang-orang Islam maupun
atas orang-orang Kristen Timur Tengah, antara lain di Antiokhia (1098),
Yerusalem (1099), Kaisarea (1101), Beirut (1110), Edessa (1146),
Yerusalem (1244), Antiokhia (1268), Tripoli (1289), Akko (1291), dan
Aleksandria (1365).
Akibat lainnya adalah hubungan antara orang Kristen Timur Tengah
dengan penguasa Islam setempat. Sebab, mereka dicurigai sebagai orang
yang dahulu pernah mendukung musuh—pasukan Salib karena dianggap
seagama—kondisi ini yang masih terus terjadi hingga masa modern ini.
Dua Perang Dunia Makin Menyengsarakan
Berakhirnya Perang Dunia Pertama yang ditandai dengan runtuhnya
Kekhalifahan Ustmaniyah (Kekaisaran Ottoman Turki) membawa korban di
antara orang Kristen Timur Tengah.
Ustmaniyah menanggapi kekalahannya melawan Rusia di Armenia dan
Kaukasus, dengan menyerang minoritas Armenia yang mayoritas menganut
agama Kristen. "Ada dua alternatif: Armenia akan melibas Turki, atau
Turki akan melibas mereka," tulis pejabat Ustmaniyah Mehmed Resid dalam
memoarnya.
"Dihadapkan dengan kebutuhan untuk memilih, saya tidak lama
ragu-ragu. Sebelum mereka melakukan dulu kepada kami, kami akan
menyingkirkan mereka."
Sebanyak dua ribu pemimpin Armenia ditangkap dan dibantai di Istanbul
pada 24 April 1915. Peristiwa ini digambarkan sebagai genosida pertama
abad ke-20. Meskipun negara Turki saat ini membantah istilah itu.
Dalam kurang dari satu tahun, ratusan ribu dipaksa mengungsi, harta benda mereka disita, dan banyak dari mereka tewas.
Armenia didukung banyak sejarawan dan sejumlah parlemen asing
menyebutkan hingga 1,5 juta orang Armenia dibunuh secara sistematis di
hari-hari terakhir Kesultanan Ottoman. Bersamaan dengan itu juga terjadi
genosida terhadap orang-orang Yunani dan Asyiria—mereka juga menganut
Kristen—di wilayah Ustmaniyah. Wilayah Kekaisaran Ottoman menjadi koloni
pemenang perang: Inggris dan Prancis.
Mendekati dan setelah Perang Dunia II usai, negara-negara koloni
Inggris dan Prancis memberontak dan menetapkan kemerdekaanya. Mesir,
Lebanon, Yordania, Irak, dan Siprus. Kemerdekaan bangsa-bangsa tersebut
seiring dengan meningkatnya kesadaran nasionalisme Arab.
Kristen Timur Tengah Kini
Seiring meningkatnya ekstremisme penganut Islam di daerah itu dan
campur tangan terlalu dalam pihak Barat—yang banyak didasari kepentingan
ekonomi—penganiayaan terhadap komunitas Kristen di Timur Tengah makin
berat. Ada yang mengatakan bahwa penganiayaan ini belum pernah terjadi
bahkan saat masa kekhalifahan Ustmaniyah.
Sumber:
- F.D. Wellem. Hidupku Bagi Kristus. Jakarta. BPK Gunung Mulia
- Van den End. Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam. Jakarta. BPK Gunung Mulia
- Anton Wessels. Arab dan Kristen. Jakarta. BPK Gunung Mulia
- Anne Ruck. Sejarah Gereja Asia. Jakarta. BPK Gunung Mulia
- Brink H.V.D. 1967. Tafsir Alkitab Kisah Para Rasul. Jakarta. BPK Gunung Mulia