TIGA SAKSI ROMAWI NON-KRISTEN YANG MENGUKUHKAN HISTORISITAS YESUS KRISTUS
Fakta Sejarah Yesus Kristus selain bersumber dari ALKITAB, 3 Orang Romawi turut mengukuhkan Cerita Yesus Kristus seperti yang bersumber dari ALKITAB. Haleluya...
"Musuh dapat membenci, tetapi ia tidak dapat menghapus fakta."
Salah satu tuduhan yang sering diarahkan kepada Kekristenan adalah bahwa Yesus Kristus hanyalah tokoh yang diciptakan oleh Gereja dan bahwa seluruh kisah tentang-Nya hanya bersumber dari Alkitab.
Menurut klaim ini, di luar Perjanjian Baru tidak ada bukti sejarah yang dapat dipercaya mengenai Yesus.
Namun, tuduhan tersebut tidak sejalan dengan penelitian sejarah modern.
Di kalangan akademisi, keberadaan Yesus dari Nazaret merupakan salah satu fakta yang paling kokoh dalam sejarah dunia kuno.
Para sejarawan dengan latar belakang yang sangat beragam—Kristen, Yahudi, agnostik, maupun ateis—hampir secara universal menerima bahwa Yesus adalah tokoh sejarah yang benar-benar hidup pada abad pertama.
Perdebatan ilmiah dewasa ini bukan lagi mengenai apakah Yesus pernah ada, melainkan mengenai siapakah Yesus sebenarnya, bagaimana memahami ajaran-Nya, makna kematian-Nya, dan bagaimana menafsirkan kesaksian tentang kebangkitan-Nya.
Kesimpulan tersebut tidak hanya didasarkan pada Perjanjian Baru.
Para sejarawan juga menggunakan berbagai sumber independen, termasuk tulisan para penulis Romawi yang sama sekali bukan pengikut Kristus.
Mereka tidak menulis untuk membela Kekristenan, bahkan sebagian besar memandang Gereja dengan kecurigaan atau permusuhan.
Justru karena itulah kesaksian mereka memiliki bobot historis yang sangat tinggi.
Mengapa Kesaksian dari Pihak Lawan Sangat Penting?
Dalam historiografi terdapat prinsip yang sering disebut criterion of enemy attestation (kesaksian dari pihak lawan).
Prinsip ini menyatakan bahwa apabila suatu fakta diakui oleh pihak yang tidak bersahabat, maka fakta tersebut memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi.
Alasannya sederhana.
Seorang musuh tidak memiliki motif untuk menciptakan bukti yang menguntungkan pihak yang ia benci.
Ia mungkin menghina, mengejek, atau menolak keyakinan lawannya, tetapi ia tetap mengakui fakta-fakta yang tidak dapat disangkal.
Tacitus, Plinius Muda, dan Suetonius merupakan contoh yang sangat baik dari prinsip ini.
Ketiganya bukan orang Kristen, bukan murid para rasul, bukan penulis Injil, dan tidak memiliki kepentingan sedikit pun untuk membela Gereja.
Namun, catatan mereka justru menguatkan pokok-pokok penting sejarah Yesus dan Gereja perdana.
I. Tacitus:
Kesaksian dari Lingkaran Elit Kekaisaran Romawi
(±56–120 M) adalah salah satu sejarawan terbesar yang pernah dimiliki Romawi.
Sebagai senator, mantan konsul, dan gubernur, ia memiliki akses terhadap arsip-arsip resmi negara.
Ia dikenal sebagai penulis yang kritis, teliti, dan berhati-hati dalam menyusun sejarah.
Sekitar tahun 116 M, dalam Annales XV.44, Tacitus menjelaskan bagaimana Kaisar Nero menimpakan kesalahan atas Kebakaran Besar Roma tahun 64 M kepada orang-orang Kristen.
Ia menulis:
"Christus, dari siapa nama itu berasal, dijatuhi hukuman mati oleh Pontius Pilatus pada masa pemerintahan Tiberius."
Kalimat yang singkat ini memuat sejumlah fakta sejarah yang sangat penting:
Kristus adalah tokoh sejarah yang nyata.
Nama "Kristen" berasal dari Kristus.
Kristus dihukum mati oleh Pontius Pilatus.
Peristiwa itu terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius.
Setelah kematian-Nya, gerakan Kristen tidak lenyap, tetapi justru berkembang hingga mencapai Roma.
Yang menarik, Tacitus sama sekali tidak bersimpati kepada Kekristenan. Ia bahkan menyebutnya sebagai superstitio exitiabilis ("takhayul yang merusak").
Karena itu, hampir mustahil ia sengaja menciptakan informasi yang justru memperkuat dasar historis agama yang ia pandang rendah.
II. Plinius Muda:
Bukti Penyembahan kepada Kristus Sejak Gereja Perdana
(±61–113 M) memberikan kesaksian yang berbeda, tetapi sama pentingnya.
Sebagai gubernur provinsi Bithynia-Pontus, ia menghadapi semakin banyak orang Kristen dan tidak mengetahui bagaimana hukum Romawi seharusnya memperlakukan mereka.
Karena itu, sekitar tahun 112 M ia menulis surat kepada Kaisar Trajan.
Isi surat tersebut didasarkan pada penyelidikan resmi terhadap orang-orang Kristen yang ditangkap dan diinterogasi.
Menurut Plinius, mereka:
berkumpul sebelum matahari terbit;
menyanyikan himne kepada Kristus sebagai kepada Allah;
mengikat diri dengan sumpah untuk hidup jujur dan suci;
menolak pencurian, penipuan, perzinahan, dan segala bentuk kejahatan;
berkumpul kembali untuk makan bersama secara sederhana.
Kesaksian ini memiliki arti historis yang sangat besar.
Surat Plinius membuktikan bahwa pada awal abad kedua—ketika generasi para rasul baru saja berlalu—umat Kristen telah menyembah Yesus sebagai Tuhan.
Mereka telah memiliki bentuk ibadat yang teratur, kehidupan moral yang khas, serta komunitas yang terorganisasi.
Dengan demikian, klaim bahwa keilahian Yesus baru diciptakan berabad-abad kemudian tidak sesuai dengan bukti sejarah. Sumber Romawi sendiri menunjukkan bahwa penyembahan kepada Kristus sudah menjadi identitas Gereja sejak masa paling awal.
III. Suetonius:
Jejak Kristus di Pusat Kekaisaran
(±69–122 M), dalam The Lives of the Caesars, mencatat bahwa Kaisar Claudius mengusir orang-orang Yahudi dari Roma karena mereka "terus-menerus membuat kerusuhan atas dorongan Chrestus."
Sebagian besar sejarawan menilai bahwa "Chrestus" kemungkinan besar adalah bentuk lain dari "Christus", meskipun identifikasi tersebut tidak dapat dipastikan secara mutlak.
Jika demikian, catatan Suetonius menunjukkan bahwa hanya sekitar dua puluh tahun setelah wafat Yesus, pewartaan tentang Kristus telah mencapai Roma dan memicu perdebatan di kalangan komunitas Yahudi.
Peristiwa ini juga selaras dengan catatan 18:2 mengenai pengusiran orang Yahudi dari Roma pada masa Kaisar Claudius.
Tiga Kesaksian yang Saling Melengkapi
Ketiga penulis ini tidak saling menyalin dan tidak menulis untuk tujuan yang sama.
Namun, ketika kesaksian mereka disandingkan, terbentuk gambaran sejarah yang utuh.
Tacitus menegaskan bahwa Kristus benar-benar hidup dan dihukum mati oleh Pontius Pilatus.
Plinius Muda menunjukkan bahwa para pengikut Kristus telah menyembah-Nya sebagai Allah dan membentuk komunitas yang hidup dalam disiplin moral.
Suetonius memperlihatkan bahwa pengaruh Kristus telah mencapai Roma hanya beberapa dekade setelah penyaliban-Nya.
Masing-masing memberikan potongan informasi yang berbeda, tetapi semuanya mengarah kepada kesimpulan yang sama: Yesus dari Nazaret adalah tokoh sejarah yang nyata, dan gerakan yang lahir dari-Nya berkembang dengan sangat cepat hingga menjadi perhatian pemerintah Romawi.
Apa yang Dapat dan Tidak Dapat Dibuktikan oleh Sejarah?
Sebagai ilmu, sejarah meneliti dokumen, kesaksian, arkeologi, dan konteks sejarah.
Karena itu, sejarah dapat menyimpulkan dengan tingkat kepastian yang sangat tinggi bahwa:
- Yesus hidup di Yudea pada abad
pertama.
- Ia disalibkan di bawah Pontius
Pilatus.
- Para murid-Nya segera mewartakan
bahwa Ia telah bangkit.
- Mereka rela menderita demi iman
yang mereka wartakan.
Gereja berkembang sangat cepat di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi.
Namun, sejarah tidak dapat membuktikan mukjizat sebagaimana ilmu-ilmu alam membuktikan suatu eksperimen.
Pertanyaan apakah Yesus sungguh bangkit sebagai tindakan Allah berada pada ranah yang melibatkan kesaksian sejarah sekaligus tanggapan iman.
Sejarah dapat menunjukkan bahwa para murid sungguh percaya Yesus telah bangkit dan bahwa keyakinan itu mengubah jalannya sejarah; iman menerima makna terdalam dari peristiwa tersebut.
Kesimpulan
Tacitus, Plinius Muda, dan Suetonius bukanlah saksi yang ingin membela Gereja.
Mereka adalah pejabat dan sejarawan Romawi yang memandang Kekristenan dari luar, bahkan dengan sikap yang sering kali negatif.
Namun, justru karena mereka tidak memiliki kepentingan apologetis, kesaksian mereka menjadi sangat bernilai.
Mereka mengakui bahwa Kristus benar-benar hidup, dihukum mati pada masa Pontius Pilatus, memiliki para pengikut yang menyembah-Nya sebagai Tuhan, dan bahwa dalam waktu yang sangat singkat gerakan yang berasal dari-Nya telah menyebar ke seluruh Kekaisaran Romawi.
Ironisnya, mereka yang bermaksud mencatat persoalan politik dan sosial Romawi justru menjadi saksi yang ikut menjaga jejak sejarah Yesus Kristus.
Bagi Gereja, hal ini menunjukkan bahwa iman tidak bertentangan dengan sejarah.
Sejarah membawa kita kepada Yesus sebagai Pribadi yang sungguh hidup dalam ruang dan waktu.
Gereja mewartakan bahwa Pribadi sejarah itu adalah Putra Allah yang menjadi manusia demi keselamatan dunia.
Karena itu, iman Kristiani bukanlah kepercayaan yang dibangun di atas mitos, melainkan tanggapan kepada Allah yang sungguh berkarya dalam sejarah manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar